Friday, December 9, 2022

Taktik Empat Batok

Rekomendasi
Menyemen tempurung sebelum
memasangnya di batang aluminium. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Trubus — Periset di Balai Penelitian Observasi Laut (BPOL), Bali, Eghbert Elvan Ampou, Ph.D. sukses memperbanyak terumbu di Jepang pada 2008. Ia bekerja sama dengan periset Tokyo University of Marine and Science Technology, Mineo Okamoto Okamoto. Elvan mengembangkan sistem itu di Indonesia. Melihat marine blocks (MB) karya Okamoto, Elvan terpikir membuat media sejenis yang praktis. Keruan saja Elvan terbentur paten. Sudah begitu, perangkat marine block karya Okamoto itu pun tidak murah lantaran menggunakan bahan khusus serta harus mendatangkan dari Jepang.

Ia lantas memodifikasi MB ala Okamoto menggunakan bahan yang mudah diperoleh di Indonesia. Pada 2008 Elvan mulai mereka-reka bentuk dan memilah bahan yang berpeluang menggantikan material MB ala Okamoto. Ia memilih tempurung kelapa sebagai pengganti coral settlement devices (CSD) keramik. Ia mengisi tempurung dengan adonan semen agar kokoh dan memperberatnya agar tidak mudah hanyut.

Elvan lalu menumpuk tempurung di tatakan beton, mirip marine blocks ala Okamoto tapi dengan bahan yang sama sekali berbeda. Tatakan itu terbuat dari beton bertulang setebal 3 cm berukuran 35 cm x 45 cm dengan enam pipa aluminium sepanjang 40 cm mencuat untuk menancapkan tempurung. Tumpukan maksimal 4 tempurung dengan pertimbangan, “Jumlah itu menjadikan struktur bioreeftek stabil terhadap terpaan arus atau gelombang laut,” katanya.

Tumpukan lebih dari 4 tempurung menjadikan batang aluminium rentan bengkok atau patah saat proses penempatan. Jika kurang dari itu, kestabilan struktur berkurang. Ia memilih aluminium alih-alih besi lantaran tahan korosi air laut sehingga tidak mudah keropos. Elvan membelah tempurung melintang dari arah sumbu tangkai kelapa agar lubang bekas tangkai bisa dimanfaatkan untuk menancapkan ke batang aluminium.

Menyemen tempurung sebelum memasangnya di batang aluminium. (Dok. Eghbert Elvan Ampou)

Batok atau tempurung di sekitar lubang alami itu lebih tebal sehingga lebih kokoh ketimbang membuat lubang tambahan dengan bor. Lubang itu tinggal diperbesar agar sesuai batang aluminium yang ukurannya 1,5 cm x 1,5 cm atau 2 cm x 2 cm. Pembelahan tempurung mesti menggunakan gergaji agar bekas potongan rapi. Kerapian bekas potongan maupun kebersihan permukaan tempurung menjadi syarat mutlak agar larva bisa menempel.

Ia mempelajari hal itu dari percobaan pertama Okamoto di Okinawa. Okamoto melaporkan bahwa tumpukan lempengan gerabah berukuran 10 cm x 10 cm setebal 1,3 cm paling banyak dilekati larva koral tiga bulan pasca-spawning. Populasinya tertinggi dibandingkan dengan balok maupun silinder yang terbuat dari batu kapur. Semula Okamoto berasumsi bahwa rongga-rongga halus batu kapur menyediakan pijakan yang lebih baik bagi larva terumbu.

Faktanya populasi lempengan gerabah—yang permukaannya lebih halus ketimbang batu kapur—justru lebih tinggi. Itu sebabnya Elvan menghaluskan permukaan maupun bekas potongan tempurung. Ia tiga kali membongkar-pasang susunan itu sebelum mendapat bentuk terbaik. Aplikasi bioreeftek pertama berhasil adalah di Pantai Pemuteran, Bali. “Sampai sekarang kondisinya baik. Karang keras dan lunak tumbuh lengkap dengan asosiasinya seperti alga atau koralin,” kata Elvan. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img