Tuesday, November 29, 2022

Tanam Tabah Tuai Rebung

Rekomendasi

Permintaan rebung yang tinggi mendorong para petani mengebunkan bambu.

Pengajar di Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana, Provinsi Bali, Dr Ir Pande Ketut Diah Kencana MS, tak menyangka bila permintaan rutin rebung bambu yang mengalir kepadanya begitu besar, yakni mencapai 15 ton per tahun. Ia menerima permintaan itu pada 2009. Itu belum menghitung permintaan sebuah maskapai penerbangan yang meminta 100 kg per pekan dan Taiwan yang meminta 50 ton rebung asap per tahun.

Itulah sebabnya pada 2009 Diah bermitra dengan para petani di Kabupaten Gianyar, Bali untuk mengebunkan bambu. Jumlah pekebun mitra mencapai 800 orang dengan total luas lahan 60 ha. Sejatinya jauh sebelum itu, pada 2006, Diah sudah menjalin kemitraan dengan Kelompok Tani Organik Pupuan (TOP) di Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan. Bersama Kelompok TOP total jenderal mereka memelihara bambu tabah Gigantochloa nigrociliata secara intensif di lahan seluas lebih kurang 14 ha. Dulu bambu tabah hanya dimanfaatkan sebagai penyangga tanah ataupun pembatas lahan.

Menurut Ni Made Lakir, salah seorang anggota kelompok, ia menanam bambu dari bibit hasil setek dalam lubang berukuran 60 cm x 60 cm x 60 cm dengan total populasi satu ha mencapai 500 rumpun. Satu rumpun sendiri terdiri 30 batang bambu sehingga total jenderal satu ha berisi 15.000 batang. Jarak antarlubang 5 m x 4 m atau 5 m x 5 m. “Dengan jarak tanam itu tajuk bambu tidak akan saling bertautan ketika tumbuh besar,” tuturnya.

Rp60-juta

Menurut Diah bambu tabah potensial untuk dikebunkan demi panen rebung karena teksturnya lembut dan rasanya enak sehingga disukai oleh konsumen. Bambu-bambu itu akan bertunas pada umur 3 tahun setelah tanam. Satu ha bambu tabah mampu menghasilkan 3 ton rebung bersih per tahun. Rata-rata satu rumpun

60 kg rebung kupas per tahun. Menurut Lakir, saat rebung muncul dari tanah setinggi 5 cm, pekebun menggali tanah sedalam 5 cm lalu memanen. Pekebun memanen rebung dengan cara memotong menggunakan pisau atau sabit.

Para pekebun biasanya memanen rebung saat musim hujan yakni pada November-Maret. “Jika dibudidayakan secara intensif hasil panen mencapai 3 ton rebung per ha,” tutur Diah. Tanpa perlakuan intensif hanya menghasilkan 1-1,5 ton rebung. Menurut Lakir selama ini ia menjual rebung dalam kemasan 250 g dengan harga Rp6.500. Jika dijual per kg curah tanpa pengemasan harganya berkisar Rp20.000/kg.

Artinya setiap panen dari satu ha mampu menghasilkan Rp60-juta. Itu belum menghitung pendapatan yang diperoleh dari penjualan batang bambu. Biasanya setiap September, batang bambu yang tua dijual untuk keperluan seremonial upacara keagamaan ataupun anyaman. Harganya Rp3.000/batang. “Dari satu ha bisa diperoleh Rp6-juta,” tutur Lakir.

Setelah memisahkan rebung dari pokok bambu, pekebun lantas membersihkan tanah yang masih membalut rebung. Selanjutnya rebung dicuci dalam air bersih dan dikupas menggunakan pisau hingga bersih. Untuk kesinambungan produksi setiap rumpun disisakan 7-8 rebung untuk dijadikan indukan.

Dengan harga jual Rp20.000 per kg pekebun masih bisa memperoleh laba Rp10.000 per kg. Itu dengan menghitung ongkos pascapanen sebesar Rp5.000/kg dan biaya penanaman. Ongkos biaya produksi berkebun bambu relatif murah karena tidak perlu perawatan njlimet. Lekir, sebagai contoh, hanya memberikan pupuk berupa serasah bambu. Serasah itu diperoleh dari batang bambu yang dijual untuk dijadikan anyaman ataupun acara keagamaan. Daun bambu kering ditaruh di bawah rumpun lalu ditimbun tanah membentuk gundukan. Serasah bambu yang kaya fosfor dan kalium bermanfaat untuk kesuburan tanah serta produksi rebung lebih bagus di musim berikutnya.

Impor China

Dengan keuntungan itu pantas bila kebun bambu bermunculan di beberapa daerah di tanahair. Nun di Sragen, Jawa Tengah, Kamianto mengebunkan bambu betung di lahan 4.000 m2. Dari luasan itu ia memanen 2 ton rebung selama musim hujan. Ia lalu menjualnya dengan harga Rp3.000-Rp4.000 per kg. Artinya, selama musim hujan Yanto panggilannya-meraup omzet hingga Rp6-juta atau Rp1-juta per bulan. Pendapatan itu lebih tinggi dari upah minimum regional Kabupaten Sragen yang hanya Rp810.000 per bulan.

Menurut Diah pasar rebung bambu masih terbentang luas. Selama ini kebutuhan rebung bambu tanahair hampir seluruhnya impor. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2011, Indonesia mengimpor 139.527 kg rebung bambu dengan nilai mencapai US$100.633 atau setara Rp966-juta (1US$=Rp9.600). Jumlah itu meningkat dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2010 Indonesia mengimpor rebung famili Gramineae itu sebanyak 125.463 kg dengan nilai Rp907-juta. Data BPS menunjukkan hingga Oktober 2012, Indonesia mengimpor 68.890 kg setara Rp492-juta. Seluruh pasokan rebung bambu datang dari China.

Selama ini negeri Tirai Bambu memang rajanya eksportir rebung bambu di dunia. Menurut Menteri Negara Perencanaan dan Pembangunan, Prof Dr Armida Salsiah Alisjahbana, SE, MA, pada 2011 China mengekspor 143.000 ton rebung kalengan. Di posisi dua Thailand dengan volume ekspor mencapai 68.000 ton. Sementara Taiwan menempati posisi tiga dengan jumlah ekspor sebanyak 18.500 ton. “Seandainya kebutuhan rebung bambu itu dipenuhi pasokan lokal, maka tidak perlu membuang devisa demi mengonsumsi rebung bambu yang sebetulnya di Indonesia melimpah ruah,” ujar ahli bambu di Pusat Penelitian Biologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), di Bogor, Jawa Barat, Prof Elizabeth Anita Widjaja.

Menurut Elizabeth, bambu tabah yang tumbuh di Bali potensial untuk dikembangkan. Di beberapa tempat di Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, bambu jenis ini disebut lengka. Cita rasa tabah tidak pahit.

Pasar rebung bambu yang membentang mendorong Bupati Gianyar Dr Ir Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati MSi untuk mendukung rencana penanaman bambu di lahan kritis di seantero wilayah Gianyar, yang rencananya mencapai 500 ha. Hingga saat ini sudah ada 60 ha lahan bambu yang siap panen di beberapa kecamatan seperti Tegallalang, Tampaksiring, Payangan, dan Ubud. Jadi, tak perlu ragu menanam bambu (Faiz Yajri, kontributor lepas Trubus di Jakarta)

Keterangan Foto :

  1. Rebung selama ini diambil dari kebun bambu yang dibiarkan liar
  2. Nilai impor rebung Indonesia mencapai Rp966-juta pada 2011
  3. Dr Pande Diah: Pasar rebung terbentang luas
  4. Rebung bambu tabah dalam kemasan botol
  5. Prof Elizabeth Widjaja: Rebung bambu tabah potensial untuk dikembangkan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img