Tuesday, November 29, 2022

Tangguk Rezeki dari Susu Kambing

Rekomendasi

Pagi itu, medio September 2008, 30 liter susu kambing segar siap dikirim. Susu-susu itu dikemas apik dalam kantong plastik aneka ukuran, 250 ml sampai 1 liter. Ukuran-ukuran itu dibuat sesuai pesanan. Tak sampai siang, semua susu yang telah dipasteurisasi itu sampai di tangan para pelanggan di Jakarta dalam kondisi segar.

Sejatinya volume 30 liter itu separuh dari produksi sehari-hari yang mencapai 60 liter susu. Itu diperoleh dari 50 kambing peranakan ettawa (PE) yang tengah laktasi (menyusui, red). Kambing diperah 2 kali: pagi pada pukul 05.00 WIB (30 liter) dan sore pukul 15.00 WIB (30 liter). ‘Yang diperah sore juga langsung disetor ke pelanggan,’ kata Brian yang memelihara 100 PE itu. Alumnus Fakultas Kedokteran Hewan IPB yang berbisnis sejak 2005 itu menjual susu dengan harga Rp7.500 (250 ml), Rp15.000 (500 ml), dan Rp30.000 (1 liter).

Menurut Brian biaya produksi seliter susu Rp8.000. Biaya lain yang mesti dikeluarkan adalah ongkos kirim ke Jakarta senilai Rp1.000/liter. Laba bersih yang ditangguk Brian mencapai Rp8,8-juta per pekan. Nilai itu bakal membumbung bila Brian sanggup memenuhi permintaan yang mengalir deras. ‘Sampai saat ini pesanan yang belum terpenuhi sampai 120-150 liter/hari,’ kata Brian yang mempromosikan produknya dari mulut ke mulut itu.

Fungsi obat

Nun di Sleman, DI Yogyakarta, Rahmaddiansyah Adlan angkat tangan memasok 15-20 liter/hari susu kambing untuk pelanggannya. Maklum 80 PE (10 jantan dan 70 betina berbagai umur) yang dibeli Rp200-juta pada 2005 itu tak semuanya dapat diperah setiap hari. Paling pol diperoleh 8-9 liter/hari dari 16 PE. Dengan harga jual Rp20.000/liter dan biaya produksi Rp2.500-Rp5.000/liter, Adlan yang berjualan susu kambing secara getuk tular sejak awal 2006 itu meraup laba bersih minimal Rp140.000/hari.

Denyut bisnis susu kambing juga terasa di sentra PE di Purworejo, Jawa Tengah. Bermodalkan 346 PE, Bondan Danu Kusuma misalnya, memasok 30 liter/hari susu dari permintaan di atas 200 liter/hari, karena pemeliharaan belum intensif. ‘Saat musim hujan produksi susu bisa mencapai 1,6 l/ekor,’ ujarnya. Produksi normal 1,4 liter/ekor. Artinya di musim hujan Bondan menuai lebih banyak susu, 33-35 liter/hari. Susu yang dikemas di botol-botol itu dijual di Purworejo dan Yogyakarta seharga Rp30.000/liter.

Brian, Adlan, dan Bondan, segelintir peternak yang mencecap gurihnya berbisnis susu kambing. Ketiganya sepakat lokomotif yang menggiring mereka terjun tak lepas dari promosi khasiat susu kambing di berbagai media. ‘Susu kambing dibeli karena orang yakin manfaatnya sebagai obat,’ ujar Bondan. Berbagai bukti empiris memang menunjukkan susu kambing berkhasiat mengatasi asma, flek paru-paru, radang sendi, sampai sekadar menjaga kebugaran tubuh.

Dokter Imelda Margaritha di Jakarta menuturkan penderita asma akibat alergi dapat sembuh berkat susu kambing. Dengan kandungan nutrisi lengkap, mengkonsumsi rutin susu itu meningkatkan kekebalan tubuh hingga alergi pun menyingkir. ‘Kandungan magnesium, klorida, dan seleniumnya bagus untuk mengatasi alergi,’ ujar alumnus Kedokteran Universitas Atmajaya di Jakarta itu.

Terus menanjak

Sejatinya geliat bisnis susu kambing sudah terjadi sejak 8 tahun lalu. Menurut Benny Yusman, peternak sekaligus penampung susu kambing di Condet, Jakarta Timur, saat itu ia mampu menjual 10-20 liter/hari dengan harga Rp10.000 per liter. ‘Orang baru kenal sehingga permintaannya sedikit,’ ujar alumnus Fakultas Pertanian Universitas Jember yang memulai dengan 10 PE itu. Baru pada 2004, terjadi booming permintaan. ‘Sehari bisa menjual sampai 100 liter,’ ujar pemilik toko Selma Beef yang bermitra dengan 20 peternak itu.

Sayangnya, seiring waktu, bisnis susu kambing mengalami stagnasi. Biang kerok produksi terus menurun karena kambingnya diekspor. Harga kambing PE di negara tujuan ekspor memang mahal dan menjanjikan keuntungan besar. Contoh Effendi. Peternak di Medan, Sumatera Utara, itu rutin menjual 200 bakalan PE umur 8-12 bulan kualitas C dan D seharga Rp2-juta-Rp3,5-juta/ekor. ‘Pasarnya Malaysia,’ katanya. Sampai pertengahan Juli 2008, Effendi sudah 3 kali melakukan ekspor. ‘Malaysia perlu 4.000 ekor/bulan, tetapi yang terpenuhi baru 8%,’ tambahnya. Itu pula yang terjadi di sentra-sentra kambing perah seperti Yogyakarta dan Purworejo. Data Ditjennak pada 2007 menunjukkan volume ekspor kambing mencapai 31.535 ekor.

Menurut Ir Yuni Suranindyah MS PhD, ahli ternak dari Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta, di luar PE masih ada kambing perah potensial lain seperti saanen, toggenburg, dan nubian. Namun, karena ketiganya datang dari wilayah subtropis, ‘Produksi susunya di sini tidak sebaik di daerah asalnya karena sulit beradaptasi,’ katanya. Normalnya saanen dapat berproduksi 4-5 liter susu/hari, tapi di Cianjur berdasarkan pengalaman Iwan Safuan yang memelihara 30 saanen, produksi susu per ekor 0,5 liter/hari. ‘Itu pun hanya bisa diperah 3 kali selama 2 tahun,’ katanya.

PE yang merupakan silangan kambing ettawa dan kambing jawa masih lebih baik, 0,8-1,5 liter susu/hari. Bahkan menurut pengalaman Brian dengan pemberian pakan bergizi tinggi seperti ampas tahu dan bungkil kedelai, produksi susu bisa digenjot sampai 2-4 liter/hari. ‘Ini produksi puncak saat kambing mencapai laktasi ketiga,’ katanya. Satu masa laktasi berlangsung 4 bulan.

Pantas kondisi itu membuat jurang pasokan dan permintaan susu kambing menganga lebar. Menurut Bondan Danu yang juga ketua Asosiasi Peternak Kambing PE, kebutuhan susu kambing diperkirakan mencapai 6.000 liter/hari. Namun dari kebutuhan itu, ‘Paling baru seperempatnya yang bisa terpenuhi,’ katanya. Padahal, laju pertambahan pemain cukup lumayan. ‘Mitra saya dari belasan peternak kini mencapai 30 plasma,’ ujar Dwi Susanto, peternak di Bogor yang menjual 50 liter susu/hari.

Dampak yang paling terasa adalah menanjaknya harga. Sampai 2004, seliter susu kambing berkisar Rp12.000-Rp13.000/liter. Belakangan harga per liter melonjak minimal 60%. Susu itu dijual rata-rata Rp20.000-Rp40.000/liter. Bahkan Dwi Susanto menjual Rp100.000/liter. ‘Pasarnya eksklusif untuk kalangan menengah ke atas,’ katanya.

Sinkron

Meski demikian, di balik gurihnya bisnis susu kambing tetap ada kerikil yang dapat membuat peternak menangis. Yang paling sering terjadi, peternak pemula tidak mengetahui waktu pas masa birahi dan lonjakan kadar hormon pada betina PE. Ini berakibat fatal. ‘Laktasi bisa gagal karena tidak terjadi bunting. Padahal, bila 2 tahun tidak terjadi 3 kali laktasi sulit diperoleh susu yang banyak,’ ujar Bondan.

Kebersihan kandang saat memerah dan memisahkan jantan dan betina pun sering diabaikan peternak. Padahal, keduanya mempengaruhi mutu susu. ‘Memerah di kandang kotor membuat susu tercemar kuman penyakit,’ ujar Yuni Suranindyah. Pemisahan jantan dan betina mutlak untuk menghindari susu berbau prengus. ‘Jantan banyak menghasilkan asam kaproat yang membuat susu jadi bau,’ tambah Yuni.

Bila kendala-kendala itu teratasi bukan hanya peternak seperti Brian dan Bondan yang diuntungkan. Selain konsumen susu kambing, pengolah berbasis susu kambing seperti pembuat produk susu bubuk, permen, sampai karamel juga terciprat rezeki dengan melimpahnya ketersediaan susu kambing yang terbukti menyehatkan. (Dian Adijaya/Peliput: Andretha Helmina dan Tri Susanti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img