Thursday, August 18, 2022

Tangkis Muslihat Pestisida Palsu

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Serangan ulat penggerek batang Scirpophaga interculas itu merusak hampir seperlima bagian rumpun padi umur 35 hari di lahan 3,5 ha itu. Pada musim-musim sebelumnya, sundep amblas setelah seminggu disemprot pestisida. Sekarang hasilnya terbalik 180o, hama tak juga enyah.

Kepercayaan Mualim pada merek pestisida favoritnya pun luntur. Kepercayaan pulih setelah terkuak kasus peredaran pestisida palsu di daerahnya Desa Langensari, Kecamatan Belanakan, Kabupaten Subang, Jawa Barat, pada akhir Januari 2009. Akhirnya Mualim sadar pestisida yang dibelinya dengan harga Rp20.000 per botol lebih murah itu palsu. Ia memang membelinya dari perseorangan, bukan di toko resmi yang biasa jadi langganannya.

Jeli

Mualim hanya satu contoh petani yang menjadi korban pestisida palsu. Masih banyak petani lain di berbagai daerah yang senasib. Mafhum jika petani banyak menjadi korban pemalsuan pestisida lantaran tampilan fisik pestisida palsu sangat mirip dengan pestisida asli. Musababnya, pemalsu banyak yang menggunakan botol bekas pestisida asli. Makanya perlu ketelitian dan kejelian untuk mengenalinya.

Kejelian Darkimin menjadi awal terkuaknya peredaran pestisida palsu di Desa Langensari, Subang akhir Januari 2009. Petani padi yang membeli 12 botol pestisida dengan harga Rp145.000 per botol dari perseorangan itu curiga dengan penutup botol yang sangat sulit dibuka. ‘Biasanya tak sesulit itu. Pestisida palsu ini tutupnya direkatkan lem, bukan dengan segel plastik seperti biasanya,’ katanya. Selain itu, baunya menyengat mirip cat; pestisida merek itu biasanya tak berbau.

Darkimin pun menyampaikan kecurigaannya pada kios resmi terdekat. Selanjutnya pemilik kios melaporkannya pada produsen. PT Syngenta Indonesia sebagai produsen merek yang dipalsukan itu pun langsung turun tangan. ‘Hasil pemeriksaan laboratorium menyatakan pestisida itu palsu. Kandungan bahan aktif tiametoksam dan klorantraniliprol sama sekali tak ditemukan dalam pestisida itu,’ kata Nasikin, koordinator sales PT Syngenta Indonesia.

Pemalsuan pestisida pembasmi hama, bakteri, cendawan (penyakit) maupun gulma bukan fenomena baru. Sejak pestisida populer 1980-an, pemalsuan pun marak. ‘Produk yang dipalsukan biasanya yang laris di pasaran. Dibanding dengan fungisida, bakterisida, maupun herbisida, merek insektisidalah yang paling sering dipalsukan,’ kata Ir Spudnik Sujono K MM, direktur Direktorat Sarana Produksi, Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Deptan RI. Tercatat ada 14 merek pestisida yang dipalsukan pada 2008, 13 merek pada 2007, dan 10 merek pada 2006.

Tidak efektif

Berdasarkan Keputusan Menteri Pertanian No. 42 tahun 2007 tentang Pengawasan Pestisida, pestisida dikatakan palsu jika isi atau mutunya tidak sesuai label di luar batas toleransi. Pestisida dengan nama dagang, kemasan, dan label yang meniru pestisida legal pun dianggap palsu. Batas toleransi kadar bahan aktif berbeda-beda tergantung kadar bahan aktif pestisida itu sendiri.

Pestida dengan kadar bahan aktif pada label lebih dari 50%, batas toleransinya ±2,5% dari kadar bahan aktif pada label. Misal jika pada Label tertera kandungan bahan aktif 60%, maka jika faktanya lebih dari 62,5% atau kurang dari 57,5% dianggap palsu. Untuk kadar bahan aktif antara 25-50%, batas toleransinya ±5%; 10-25%, ±6%; 2,5-10%, ±10%; dan 0-2,5%; ±15%.

Pengukuran bahan aktif itu hanya bisa dilakukan di laboratorium oleh produsen atau Sub Direktorat Pengawasan Pupuk dan Pestisida dari Direktorat Sarana Produksi. Petani tak perlu mengukur sendiri, amati saja perbedaan fisik dan efektivitasnya. Sekilas, memang tampak mirip dengan pestisida asli baik yang kemasan botol plastik, botol kaca, sachet, maupun kaleng.

‘Untuk kemasan botol biasanya pemalsu menggunakan botol bekas dengan label tiruan. Terkadang ada sedikit perbedaan warna dan isi tulisan pada label,’ kata Deddy Djuniadi, ketua I Croplife Indonesia-asosiasi produsen pestisida multinasional. Untuk kemasan sachet pun biasanya ada sedikit perbedaan cetakan. Kemasan kaleng yang berkarat dan rusak patut dicurigai.

Jika tak terlihat perbedaan kemasan, jangan langsung percaya. Amati warna, tekstur, dan bau isinya. Warna pestisida palsu ada yang lebih gelap maupun terang. Coba juga amati warna saat dilarutkan. Tekstur pun terkadang berbeda baik untuk pestisida bentuk cair maupun bubuk. ‘Pestisida palsu yang saya beli warnanya sama persis dengan yang asli, tapi bau lebih menyengat mirip cat. Jika dilarutkan menempel pada dinding wadah,’ kata Darkimin.

Perbedaan fisik memang tak mudah diamati. Yang banyak terjadi, petani mulai curiga saat mengamati efektivitasnya membasmi hama dan penyakit. ‘Biasanya pestisida palsu kurang efektif membasmi hama dan penyakit karena kandungan bahan aktifnya sangat rendah, bahkan tidak ada sama sekali,’ kata Yongki Pamungkas, Koordinator Bidang Teknis dan Peraturan dari Croplife Indonesia. Parahnya, ada juga pestisida palsu yang malah merusak atau membunuh tanaman. Seorang petani anggrek di Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, harus menanggung rugi Rp50-juta akibat pemakaian pestisida palsu yang mematikan sebagian besar anggreknya.

Pengawasan

Kerugian tak hanya dirasakan petani, produsen pun rugi. ‘Selain mengurangi pendapatan, rusaknya citra merek akibat pemalsuan sangat merugikan produsen,’ kata Jarot Warseno, manajer produk dari produsen pestisida PT Bayer Indonesia. Masyarakat Indonesia Anti Pemalsuan bekerja sama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia mengestimasi kerugian Produk Domestik Bruto atau GDP akibat pemalsuan pestisida mencapai Rp182-miliar pada 2002. ‘Kerugian dan dampak buruk pestisida palsu menuntut pengawasan dari semua stakeholder seperti pemerintah, produsen, asosiasi, dan petani,’ kata Spudnik.

Pengawasan pemerintah dilakukan oleh Sub Direktorat Pengawasan Pupuk dan Pestisida dari Direktorat Sarana Produksi yang dibantu oleh komisi pestisida dan Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) di seluruh provinsi, kotamadya, dan kabupaten. ‘Baik produsen maupun petani bisa langsung melapor ke Direktorat Sarana Produksi di Jakarta, Komisi Pestisida maupun PPNS di daerah,’ kata Ir H Zainul Abidin MSi, kepala sub Direktorat Pengawasan Pupuk dan Pestisida.

Bisa juga petani melapor ke kios resmi terdekat. Lalu kios akan melaporkan ke petugas lapang dari merek yang bersangkutan. Selanjutnya petugas lapang akan melaporkannya pada produsen untuk pemeriksaan laboratorium. ‘Produsen yang tergabung dalam asosiasi bisa melapor ke asosiasi, lalu akan dilanjutkan ke Pengawas Pupuk dan Pestisida dan PPNS,’ kata Deddy. Selanjutnya Sub Direktorat Pengawasan Pupuk dan Pestisida akan memberi peringatan dan bekerja sama dengan kepolisian untuk melakukan penyelidikan.

Jika pemalsu maupun pengedar tertangkap akan dikenakan hukuman yang diatur oleh Undang-undang nomor 12 tahun 1992 tentang Sistem Budidaya Tanaman. Ancamannya pidana penjara paling lama 5 tahun dan denda paling banyak Rp250-juta.

‘Pengawasan tak hanya menyorot pestisida palsu. Kasus pestisida ilegal atau tanpa izin, habis masa izin, pewadahan kembali, perluasan sasaran tidak sesuai izin pun harus diawasi karena tidak memenuhi prosedur dan dikhawatirkan akan memunculkan dampak negatif,’ kata Zainul. Pada 2008, tercatat total penyimpangan pestisida sebanyak 281 kasus.

Maraknya penyimpangan pestisida menuntut petani untuk ekstra hati-hati. ‘Sebaiknya petani membeli pestisida ke kios resmi agar jika terjadi sesuatu bisa terlacak asal-usulnya,’ kata Didik Tricahyono, manajer produk PT Syngenta Indonesia. Kebanyakan pestisida palsu memang diedarkan langsung ke petani oleh perseorangan atau kelompok dengan harga lebih murah. Botol bekas pestisida sebaiknya dihancurkan agar tak bisa digunakan kembali oleh pemalsu.

Untuk menghindari pestisida ilegal, periksa saja nomor izinnnya. Pestisida ilegal kebanyakan berasal dari luar negeri dengan label berbahasa asing dan tanpa nomor izin. Jangan lupa periksa masa berlaku izin dan sasaran komoditas, serta hama pada label yang tertera agar tak salah sasaran saat aplikasi. Hati-hati dan teliti kunci utama tangkis muslihat pestisida palsu. (Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img