Monday, November 28, 2022

Teknik Baru Suling Nilam: Belum Terbukti di Lapangan

Rekomendasi

Herdi Waluyo memperkenalkan Teknik Baru Suling Nilam (TBSN) dengan rendemen tinggi. Untuk menghasilkan 1 kg minyak nilam, ia hanya memerlukan 10 kg nilam. Beberapa penyuling menerapkan teknik serupa, tetapi peningkatan produksi belum terbukti. Bahkan yang muncul adalah kegagalan.

 

Herdi Waluyo, di Bandung, Provinsi Jawa Barat, menggunakan teknologi baru dalam penyulingan nilam sehingga memperoleh rendemen 10%. Rendemen para penyuling nilam di Indonesia rata rata 2%. Alumnus Sekolah Teknik Elektro dan Informatika Institut Teknologi Bandung (STEI ITB) itu memfermentasi daun nilam selama 12 jam. Selama ini para penyuling langsung menyuling daun nilam, tanpa memfermentasi. Setelah 12 jam, Herdi mengambil biomassa, mengepres dengan hidrolik, dan menambahkan larutan hasil pengepresan ke larutan fermentasi.

Cairan itulah yang Herdi suling dan menghasilkan rendemen hingga 10% (baca: “Teknik Baru Suling Nilam: Rendemen 5 Kali Lipat”, Trubus Februari 2012). Menurut Herdi, teknologi itu bersumber dari riset laboratorium Dra Nuryati Djuli MSi ketika menempuh pendidikan pascasarjana di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati Institut Teknologi Bandung  (SITH ITB). Herdi memodifikasi beberapa hal seperti rasio antara air : biomassa menjadi 2 : 1, bukan 12 : 1 seperti pada riset Nuryati.

Rendemen rendah

Temuan itu menarik perhatian calon penyuling. Indra Irawan di Desa Tunggulwulung, Kecamatan Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, menerapkan teknologi baru suling nilam. Indra membeli satu unit mesin mulai dari alat perajang, alat fermentasi, sampai alat penyuling dari Herdi Waluyo Rp225-juta. Setelah mesin tiba di Tunggulwulung, ia menguji coba teknologi baru suling nilam. Indra tiga kali mencoba teknologi suling baru sejak 17 Oktober 2012.

Pada tiga kali penyulingan Indra masing-masing menggunakan bahan baku nilam segar sebanyak 38 kg, 100 kg, dan 85 kg. Berdasarkan instruksi yang disampaikan Herdi, seluruh bahan baku dirajang dalam kondisi segar. Tanaman segar setinggi satu meter itu dipotong menjadi 4 bagian, sehingga panjang masing-masing 25 cm. Kemudian potongan-potongan itu dimasukkan ke dalam mesin perajang. Hasil rajangan itu yang difermentasi dengan menambahkan air, perbandingan 1 : 4 berdasarkan petunjuk Herdi. Selain itu Indra menambahkan kapang yang diperoleh dari Herdi. Campuran itu difermentasikan selama 12 jam dan diaduk dengan kecepatan 80 round per minute (rpm). Suhu fermentasi 30-37oC dan pH normal.

Setelah fermentasi, biomassa beserta larutan fermentasi disuling dengan suhu 110-120oC dan tekanan 3 bar. Indra menggunakan bahan bakar gas ukuran 12 kg sebanyak 3 tabung. “Padahal kalau di rumah (Bandung, red) dua tabung saja tidak habis,” kata Herdi. Adapun hasil tiga kali menyuling 223 kg nilam dengan cara fermentasi dan 100 kg nilam basah yang dikeringkan selama 4 hari menjadi 12,2 kg dan disuling secara konvensional, Indra memperoleh 3,9 ons atau 487,5 ml minyak jika berat jenis minyak 0,8. Rendemen penyulingan hanya 1,5%.

Cairan kuning

Indra bukan satu-satunya orang yang membuktikan bahwa teknik baru itu tidak sesuai dengan informasi yang diperoleh dari Herdi, yakni rendemen mencapai 10%. Budi Suparyoto di Palembang, Provinsi Sumatera Selatan, juga mencoba teknik baru suling nilam. Ia membeli satu unit alat penyulingan Rp190-juta. Hingga Oktober 2012, ia 8 kali menyuling nilam. Sekali menyuling Suparyoto menggunakan 100-250 kg daun nilam segar. Pada proses penyulingan pertama, sejak perajangan bahan baku hingga penyulingan dipandu oleh Herdi Waluyo. Langkah demi langkah sama persis dengan yang dilakukan Herdi.

Suparyoto mengatakan pada penyulingan pertama minyak tidak keluar. Sementara pada penyulingan berikutnya ia mendapatkan rendemen kurang dari 1%. Jika menyuling 100 kg bahan, artinya ia memperoleh 1 kg minyak, jauh dari harapannya yakni rendemen 10%.

Slamet Budi Raharjo di Kudus, Provinsi Jawa Tengah, juga menerapkan teknik serupa. Raharjo membuat mesin sendiri dengan arahan Herdi Waluyo. Biaya pembuatan satu unit mesin       Rp45-juta. Begitu mesin jadi pada April 2012, ia mencoba menyuling daun anggota famili Paci-pacian itu. Ia dua kali menyuling masing-masing 150 kg nilam basah. Raharjo mengatakan tahapan produksi minyak nilam sama persis dengan yang disampaikan Herdi. Hasil penyulingan berupa air kekuning-kuningan tetapi tidak ada minyaknya. Artinya Raharjo gagal memperoleh minyak nilam.

Lokasi budidaya

Mengapa rendemennya sedikit? Menurut Herdi rendemen rendah karena bahan yang digunakan sudah rendah rendemennya. “Varietas yang digunakan sidikalang, dari 100 kg basah, setelah dikeringkan hanya 11,2 kg, bandingkan dengan varietas lhokseumawe yang dari 100 kg masih dapat 25 kg,” tuturnya. Herdi mengatakan, varietas sidikalang untuk lokasi tahan kering, sehingga mampu menyimpan air dalam jumlah lebih besar dan lebih banyak dibanding varietas lhokseumawe. “Seperti unta di padang pasir,” tutur Herdi.

Menurut Herdi karena faktor itu kadar minyak sidikalang sedikit. “Pori-pori tanaman lebih banyak diisi air,” kata Herdi. Peneliti nilam di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Dr Ir Rosihan MS, mengatakan penyusutan sidikalang dan lhokseumawe kering angin sama, sekitar 25%. “Penyusutan yang terjadi pada petani sampai 11% mungkin karena pengeringan terlalu lama,” kata Rosihan. Pengeringan angin selama 4 hari atau kombinasi 3 jam penjemuran dan 2 hari kering angin masih ideal sehingga menghasilkan rendemen pengeringan 25%.

Riset Yang Nuryani, Hobir, dan Cheppy Syukur dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat  membuktikan bahwa sidikalang salah satu varietas nilam terbaik. Produksi terna segar mencapai 13,66-108 ton per ha. Sementara produksi minyak sidikalang mencapai 78,90-624,89 kg per ha. Kadar patchouli alcohol (PA) sidikalang 30,21-35,20%. Bandingkan dengan lhokseumawe, misalnya, dengan produksi terna segar 19,58-59,20 ton dan produksi minyak 125,83-380,06 kg per ha.

Dra Nuryati Djuli MSi yang menemukan pertama kali teknologi itu belum tahu pasti penyebab rendahnya rendemen. Pada September 2012, ia menyuling 200 kg nilam dengan teknologi fermentasi. Ia memperoleh 10 kg minyak atau rendemen 5%. Ketika Trubus menghubungi Nuryati, minyak telah dibagi-bagikan.

Nuryati mengatakan produksi yang ia peroleh rendah antara lain karena sumber bahan baku yang beragam. Saat itu Nuryati kesulitan memperoleh Pogostemon cablin sehingga mengambil dari beberapa petani di beragam sentra seperti Bandung, Garut, dan Majalengka-semua di Provinsi Jawa Barat. Nuryati mengatakan kadar air daun mempengaruhi produksi. Daun nilam berkadar air tinggi, hingga (60%) menyebabkan jumlah rendemen pengeringan lebih sedikit daripada daun berkadar air rendah (40%). Dampaknya rendemen pun lebih rendah. (Sardi Duryatmo/Peliput: Argohartono Arie Raharjo, Bondan Setyawan, Evy Syariefa, & Rosy Nur Apriyanti)

Keterangan foto :

  1. Nilam ideal dibudidayakan di dataran rendah dan daerah terbuka agar rendemen tinggi
  2. Herdi Waluyo memperkenalkan suling nilam melalui tahap fermentasi
  3. Pencacahan bahan baku untuk memudahkan minyak keluar dari jaringan daun
  4. Alat destilasi milik Indra Irawan. Dengan alat itu Indra hanya memperoleh rendemen 1,5%
  5. Rendemen penyulingan nilam di Indonesia rata-rata 2%, perlu 50 kg bahan untuk hasilkan 1 kg minyak
Previous articlePelindung Mahkota Kedua
Next articlePengantar Nilam

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Cara Membangun Rumah Walet agar Walet Mau Bersarang

Trubus.id — Rumah walet tidak bisa dibuat asal-asalan. Perlu riset khusus agar rumah itu nyaman ditempati walet. Mulai dari...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img