Wednesday, August 17, 2022

Terancam Siang Malam

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Waspada! Jabon terancam siang dan malamUlat penggulung mulai menyerang jabon. Pekebun harus waspada.

 

Penampilan 530 pohon di Allesscia Farm di Desa Sukaresmi, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, itu seragam: tak ada sehelai daun tersisa. Pohon meranggas. Itu ulah ulat penggulung daun Arthroschista hilaralis dan ulat bulu Lymantria atemeles. Tiga tahun silam, sang kepala kebun, Acep Gunawan, membudidayakan jabon antara lain karena “aman”  dari gangguan organisme pengganggu tanaman. Saat itu karat puru tengah meluluhlantakkan sengon. Acep menanam 1.330 bibit jabon di lahan sehektar berketinggian 950 meter di atas permukaan laut.

Namun, saat jabon berumur 2,5 tahun dan berdiameter rata-rata 17-20 cm hama itu bagai mesin pencacah daun. Meski bertubuh kecil, Arthroschista hilaralis menggasak daun dan hanya menyisakan lapisan kutikula. Ulat yang aktif pada siang hari itu menggunakan air liur untuk menggulung daun. Ia lantas bersembunyi di dalam gulungan itu sembari menikmati daun jabon. Hasilnya, daun rapuh sehingga mudah rontok terkena panas, angin, atau hujan.

Menjelang matahari terbenam, aksi penggulung daun terhenti sesaat. Kini giliran ulat bulu yang beraksi. Pada kegelapan malam, anggota famili Lymantriidae itu menggasak daun lalu kembali ke batang saat pagi menjelang, dan membuat benang-benang untuk berlindung. Kehadiran mereka terlihat dari kelompok ulat di bawah selubung benang mirip benang laba-laba, dengan tiap koloni bisa berisi hingga puluhan ulat.

Ulat agak kehitaman dan berbulu, berkumpul di batangUlat memakan bagian bawah daun sehingga daun menjadi tipis dan mudah terkoyak oleh angin dan sengatan matahariTahan banting

Hanya dalam 14 hari, 530 pohon Antocephalus cadamba itu meranggas akibat serangan mereka. Acep tentu tidak tinggal diam karena menerapkan beragam cara untuk mengatasi ulat-ulat itu. Bahkan, mereka menggunakan mesin penyemprot berkekuatan 5 PK untuk mencapai kanopi setinggi 8-12 meter. Sayang, jerih payahnya bak menggantang asap. “Kebun yang semula teduh menjadi terang-benderang kehilangan daun,” kata Acep.  Menurut Acep, serangan itu merupakan yang keempat kalinya dalam 2,5 tahun. Serangan terjadi setiap 6-8 bulan.

Para penyerang pohon anggota Rubiaceae itu bukan pendatang baru. Ulat Arthroschista hilaralis hama utama tanaman anggota keluarga kopi-kopian seperti kina Cinchona ledgeriana dan kopi Coffea spp yang sefamili dengan jabon. Adapun ulat Lymantria atemeles acap menghuni pohon mangga. Menurut konsultan agribisnis di Bogor, Jawa Barat, Agus Sawal, ulat tertarik daun jabon yang hijau dan lebar. Sebelum memilih tanaman inang, ulat mencicipi daunnya. Jika merasa cocok, barulah mereka beramai-ramai menyerang. Kecocokan terhadap inang dan absennya predator membuat hama berkembang pesat.

Dr. Irdika Mansur, dosen Fakultas Kehutanan IPB, “Daun akan kembali tumbuh, bahkan lebih lebat ketimbang sebelumnya”Kedua ulat anggota ordo Lepidoptera itu bersifat polifagus alias mampu hidup dengan berbagai jenis tanaman inang. “Keduanya adalah hama defoliator, menggasak daun sehingga pohon menjadi gundul,” kata Agus. “Untungnya tanaman terserang tidak sampai mati,“ kata Acep. Namun, pohon yang telanjur terserang di titik tumbuh akan mogok tumbuh. Pohon itu lantas mengeluarkan tunas dari ketiak batang dan menjadi bercabang. Keruan saja pasar menolak pohon seperti itu.

Jabon alias kayu doser sebetulnya kayu kuat. Sebutan doser mengacu pada kekuatan spesies itu saat tergilas buldoser saat pembukaan hutan. Pohon kerabat mengkudu itu mampu tumbuh kembali. Menurut ahli silvikultur dari Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor, Dr. Irdika Mansur MForSc, penyebaran luas menandakan pohon itu sukses berkompromi dengan lingkungan. “Termasuk menyesuaikan diri dengan hama dan penyakit,” kata Irdika. Kayu asli Indonesia itu juga tumbuh di hutan tropis di Tiongkok, India, Vietnam, Thailand dan Papua Nugini.

Menurut Dr Ir Noor Farikhah Haneda MS, sekretaris Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, selain kedua ulat itu, terdapat ulat-ulat dan hama lain yang menyerang tanaman jabon. Ulat pemakan daun lain seperti Daphnis hypothous dan Attacus atlas juga mengancam jabon. Selain itu ada juga kepik pengisap pucuk Cosmoleptrus sumatranus yang menyerang bagian pucuk dan daun muda tanaman jabon. Keruan saja kehadiran beragam hama itu membuat kadamba bak jatuh tertimpa tangga.

Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda MS., Sekertaris Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, “Pengendalian ekstensif sampai bersih bisa memicu masalah yang lebih berbahaya”Sejak belia

Pada tahap ringan, serangan ulat perusak daun tidak mematikan jabon dewasa. “Daun akan kembali tumbuh, bahkan lebih lebat ketimbang sebelumnya,” kata Irdika. Konsekuensinya pertumbuhan melambat lantaran tanpa daun, pohon tidak punya “tungku” untuk memasak makanan. Sudah begitu, simpanan energi yang mestinya untuk memperbesar batang terpakai untuk menumbuhkan kembali daun.

Namun, pada serangan berat atau terus-menerus, ceritanya bakal lain. Pohon tetap bisa mati kehabisan energi. Itu sebabnya Irdika menyarankan agar pekebun memberi perhatian ekstra saat tanaman berumur kurang dari lima bulan. Saat itu, tanaman rentan lantaran daun yang muncul masih sedikit. Saat daun habis, ulat yang kelaparan akan menyerang batang yang masih lunak sehingga rapuh dan mudah patah.

Untuk mencegahnya, Irdika menyarankan pengendalian hama terpadu, dari cara mekanik dengan membunuh ulat yang tampak, memanfaatkan musuh alami, sampai menyemprotkan cendawan parasit ulat. Untuk mencegah kehadiran hama, lakukan sanitasi di lahan dengan membersihkan gulma atau serasah. Cara lain, menanam secara polikultur dengan tanaman pendamping yang bersifat penghalang seperti suren Toona sureni atau pengusir seperti kacang babi Tephrosia vogelii.

Jika serangan sudah berat, mau tidak mau pekebun mesti memanfaatkan pestisida sintetis. Pemanfaatan pestisida mesti bijak dan memperhatikan keseimbangan lingkungan. Seganas apa pun, ulat tetap merupakan komponen ekosistem sehingga kehadirannya diperlukan. “Pengendalian ekstensif sampai bersih bisa memicu masalah yang lebih berbahaya,” kata Noor Farikhah. Dengan pemantauan teratur dan tindakan cepat, tak perlu takut dengan pengganggu kadamba.  (Muhamad Khais Prayoga)

 

Terdapat benang-benang tebal berwarna putih pada kulit menyebabkan daun rontok dan pohon matiIncaran Sejak Muda

Sejatinya masalah mengintai kadamba sejak masih belia. Saat berumur kurang dari 5 bulan, jabon rentan terserang hama dan penyakit. Serangan uret alias ulat perusak akar Leucopholis rorida pada fase itu  menyebabkan bibit layu bahkan mati. Uret muda memakan akar lunak, sedangkan uret dewasa bisa memakan habis kulit akar. Tanpa akar, bibit kadam bakal roboh dan mati. Bukan cuma hama yang mengincar kadamba, cendawan parasit pun berduyun-duyun menyerbu.

Penyakit yang biasa menyerang antara lain busuk akar akibat cendawan Armillaria mellea alias cendawan madu dan cendawan akar merah Corticium salmonicolor atau cendawan upas. Gejala penyakit busuk akar ialah terdapat benang-benang tebal berwarna putih pada kulit menyebabkan daun rontok dan pohon mati. Cendawan merah menyebabkan kulit pohon di bawah menjadi belah dan busuk dengan gejala terdapat lapisan benang warna putih, lama-kelamaan berubah merah jingga pada ranting dan cabang yang terserang. Serangan cendawan jelas merusak kayu sehingga kualitasnya anjlok dan tidak laku dijual. (Muhamad Khais Prayoga)

 

Keterangan Foto :

  1. Waspada! Jabon terancam siang dan malam
  2. Ulat agak kehitaman dan berbulu, berkumpul di batang
  3. Ulat memakan bagian bawah daun sehingga daun menjadi tipis dan mudah terkoyak oleh angin dan sengatan matahari
  4. Dr. Irdika Mansur, dosen Fakultas Kehutanan IPB, “Daun akan kembali tumbuh, bahkan lebih lebat ketimbang sebelumnya”
  5. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda MS., Sekertaris Departemen Silvikultur, Fakultas Kehutanan IPB, “Pengendalian ekstensif sampai bersih bisa memicu masalah yang lebih berbahaya”
  6. Terdapat benang-benang tebal berwarna putih pada kulit menyebabkan daun rontok dan pohon mati
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img