Tuesday, November 29, 2022

Terminal Tanaman Mahal

Rekomendasi

 

Berbarengan dengan itu, di Florida, palu di tangan juru lelang yang diselenggarakan oleh Aroid Society pada 2007 diketuk 3 kali. Itu tanda Chandra memenangi lelang sepot Philodendron santa leopold lidiana. Pesaingnya, hobiis tanaman hias asal Thailand berhenti di angka US$1.400. Dengan duit senilai Rp15-juta itu pula penggemar reptil itu sah dinobatkan sebagai pemilik philo santa leopold lidiana termahal. Setahun silam di tempat lelang yang sama philo serupa-punya 12 daun sepanjang 50-60 cm-‘hanya’ laku US$1.000.

Lain lagi kelakuan Edi Sebayang. Pada Juli 2008 pengusaha kelahiran Tanah Karo itu kesengsem sansevieria dragon king. Sosoknya gemuk, mirip pemukul kasti berdaun lebar. Ia disebut-sebut sebagai daun sansevieria terbesar. Di dunia cuma ada 7 tanaman. Tiga di Thailand. Sisanya di Filipina. Yang diincar Edi dragon king milik hobiis di Filipina lantaran terbesar. Panjangnya 48 cm dengan lebar 8 cm. ‘Itu induknya. Anakannya ada 2 berukuran 2/3 dan ½ kali lebih kecil daripada induk.’ kata ayah 3 anak itu. Harganya? Si empunya membandrol US$12.000 untuk ketiganya. Itu setara dengan Rp112,8-juta.

Tujuan kolektor Filipina membandrol harga selangit itu supaya Edi mundur teratur begitu mendengar harga penawaran. Maklum, sang pemilik tak berniat menjual. Edi tak gentar. Si empunya menambah syarat lagi, ia hanya mau menjual bila Edi sanggup membeli 132 pot sansevieria beragam jenis seharga US$42.515 setara Rp399-juta. Siasat itu lagi-lagi meleset. Selang sebulan Edi membayar Rp399-juta.

Perusak harga

Polah kolektor tanaman hias tanahair memang kerap membuat para hobiis tanaman dunia geleng-geleng kepala. Di dunia internasional mereka dikenal berani membeli dengan harga tinggi. Simak saja pengalaman Lanny Lingga. Pada 2007 pemilik nurseri Seederama itu masuk ke sebuah situs untuk lelang anthurium di dunia maya.

Baru saja Lanny mendaftar, mantan importir benih tanaman hias itu langsung dihujani gelombang protes. Rupanya peserta lain ‘alergi’ begitu mengetahui Lanny asal Indonesia. ‘Mereka sebal kalau ada orang Indonesia ikut lelang,’ ujar Lanny. Musababnya begitu pemain Indonesia ikut, harga langsung ‘rusak.’ Maksudnya, harga anthurium yang paling mahal di Benua Amerika senilai Rp1-juta, berani dibeli orang Indonesia dengan harga berlipat-lipat.

Pengalaman Lanny setali 3 uang dengan yang dialami Ed Ladores, pemain tanaman hias di Filipina. Ia sering kesal karena kalah membeli tanaman hias lewat internet dengan orang Indonesia. Misalnya, Anthurium jenmanii setinggi 1 m yang nilai aslinya hanya US$25 berani ditawar orang Indonesia 10 kali lipat. Maklum, ketika itu tanaman seukuran tersebut laku di Indonesia dengan nilai Rp30-juta.

Paling lengkap

Keberanian itu membuat Indonesia menjadi gudangnya tanaman mahal-dan langka-di dunia. Michael D Ferirera, jagonya tanaman hias dari Australia, dibuat terbelalak ketika datang ke rumah seorang kolektor tanaman hias di Jakarta Barat. Di halaman rumah seluas 1.000 m2 sang kolektor membuat miniatur gunung. Di gunung itu ratusan encephalartos ditanam membentuk taman kering dengan jarak tanam superrapat.

Di antaranya ada 65 E. hirsutus beragam ukuran. Waktu Michael datang ke Afrika Selatan-habitat asal anggota keluarga Cycadaceae itu-hirsutus sangat langka. Maklum, pertumbuhan lambat. Ia juga unik, daun berwarna biru. Nurseri-nurseri besar paling hanya punya 5-6 tanaman. Harganya termahal di antara encephalartos lain: Rp5-juta-Rp6-juta per cm diameter bonggol. Jika koleksi di Jakarta Barat itu rata-rata berdiameter bonggol 10 cm, itu berarti total nilainya kira-kira Rp3,25-miliar. Pantas jika ada yang menaksir total nilai barang koleksi di sana mencapai Rp6-miliar.

Menurut Eka Budianta, budayawan di Jakarta, kegemaran orang Indonesia mengoleksi tanaman langka dan terbaik dari seluruh pelosok dunia memiliki akar budaya kuat. ‘Orang Indonesia menghargai sebuah benda dengan nilai estetika dan filantropi. Bukan sekadar nilai ekonomi dan legal belaka,’ katanya. Nilai ekonomi menginginkan harga sebuah barang seminimal mungkin, sedangkan harga legal berdasarkan yang berlaku di pasar. Sementara nilai estetika alias keindahan jauh di atas keduanya. Bisa 2-3 kali lipat nilai ekonomis dan pasar.

Begitu barang dihargai berdasar nilai filantropi atau kecintaan, tak dapat dibeli dengan uang. Bila diuangkan pun nilainya tidak bisa distandarisasi, tergantung kesepakatan. ‘Jadi koleksi tanaman mahal itu mirip dengan koleksi keris dan barang antik lain. Istilahnya pun bukan jual-beli, tapi maskawin agar berjodoh,’ tutur Eka. Bagi orang yang menghargai nilai estetika dan filantropi memiliki tanaman hias eksklusif menjadi sebuah jalan mencari kebahagiaan.

Tempat belanja

Menurut Chandra, tren tanaman hias yang bergonta-ganti di Indonesia sejak 8 tahun silam membuat semua tanaman hias terbaik berkumpul di tanahair. Misal saat adenium naik daun pada 2006, sebanyak 2 tanaman raksasa-A. somalense dan A. arabicum batang tunggal-berpindah dari Thailand ke Indonesia. Yang disebut pertama sosoknya setinggi 1,8 m bernilai Rp250-juta. Sedangkan somalense Rp125-juta.

Koleksi adenium Indonesia kian lengkap saat Usnelly Usman, pemilik nurseri Socotra Garden, mendatangkan 178 A. arabicum dari habitat asli di Bukit Aden, Yaman. Nelly menemukan varian arabicum spesies yang tak ditemui pada arabicum hibrid di Thailand dan Indonesia. Sebut saja arabicum batang merah dan golden. ‘Dengan keragamannya, Indonesia bisa menjadi laboratorium arabicum dunia,’ kata Paramita Darmawan, juri adenium dari Surabaya.

Perkara lengkapnya koleksi tanaman hias di Indonesia membuat Kenzo Nishihata, general manager Hanau Co Ltd, perusahaan tanaman hias di Jepang setiap tahun bolak-balik ke Indonesia. ‘Saya cukup datang ke sini untuk mendapat tanaman khas dari India, Thailand, atau Filipina,’ katanya pada wartawan Trubus Imam Wiguna. Indonesia memang terminal tanaman hias dunia. (Destika Cahyana/Peliput: Evy Syariefa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img