Friday, August 19, 2022

Terpesona Rupa Labisia

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Penampilan Labisia sp. asal Provinsi Jambi.

TRUBUS — Labisia yang endemik menarik hati pencinta tanaman hias.

Sherry Sukendy tersihir kecantikan Labisia sp. asal Provinsi Jambi. Daun tanaman famili Myrsinaceace itu memanjang. Permukaan daun bak beludru dengan warna kombinasi hitam dan merah jambu. “Daunnya tebal, tidak kaku, dan tidak mengilap. Saya jarang melihatnya di media sosial. Sepertinya malah ramai di luar negeri,” kata pencinta tanaman hias di Jakarta Utara itu.

Sherry membeli labisia dari pebisnis tanaman hias di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, Agung Prasetyo. “Peminat labisia mulai muncul pada Maret 2020,” kata Agung. Ia menjual labisia asal Pulau Sumatra seharga Rp250.000—Rp850.000/tanaman. Selain itu ada juga labisia yang didatangkan dari Kabupaten Sekadau, Kabupaten Kapuas Hulu, dan Kabupaten Bengkayang. Ketiga kabupaten itu berada di Kalimantan Barat.

Aneka jenis

Labisia jenis octopus asal Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat.

Labisia asal Pulau Kalimantan berdaun lebih membulat. “Corak warna labisia kalimantan tidak terlalu variatif, tapi bentuknya menarik,” kata pria kelahiran November 1990 itu. Salah satu jenis labisia asal Pulau Kalimantan yaitu labisia crocodile. Agung menuturkan penamaan itu tidak resmi, hanya untuk memudahkan pedagang karena daunnya mirip bentuk tubuh buaya.

Serupa dengan labisia octopus yang juga berasal dari Pulau Kalimantan. Daunnya lonjong menyerupai tentakel gurita. Harga labisia asal Pulau Kalimantan lebih murah yakni Rp250.000—Rp350.000/tanaman. Pria berumur 31 tahun itu mendapatkan labisia dari pemburu langsung. Penjualan labisia di pasar lokal masih sedikit. Itu salah satu motivasi Agung berbisnis tanaman endemik Indonesia itu.

“Saya menjual labisia di pasar lokal dahulu supaya masyarakat mengenal tanaman eksotis itu,” kata pemilik perniagaan tanaman hias Sampang the morning itu. Setelah mendapatkan labisia dari pemburu, Agung tidak menjual labisia langsung ke konsumen. Ia mengadaptasikan labisia selama 3—6 bulan agar tanaman terbiasa di tempat baru. Banyak pembeli jera membeli langsung dari pemburu karena tingkat mortalitas tinggi.

Lazimnya hanya 1 dari 10 tanaman yang bertahan hidup. Menurut pemilik Segar Nursery, Okky Oktariyadi, permintaan labisia muncul pada November 2018. Namun, saat itu penjualan labisia belum semarak seperti pada 2020. Eksportir tanaman hias itu mengirimkan minimal 50 tanaman per jenis ke negara-negara di Asia seperti Hongkong, Thailand, dan Singapura.

Harga jual labisia untuk pasar ekspor US$20— US$40 setara Rp280.000—Rp570.000 per tanaman. Pebisnis sukulen di Kota Bandung, Jawa Barat, itu mengatakan, labisia asal Provinsi Jambi paling banyak dicari. “Penjual dari pemburu pun mudah didapat. Berbeda dengan labisia sanggau yang mulai sulit ditemukan. Saya belum mendapatkan satu pun jenis itu setelah beberapa kali mencari,” kata Okky.

Media tanam

Sama seperti Agung, Okky pun memelihara labisia terlebih dahulu sebelum dijual. Dengan cara itu, sekitar 80 labisia hidup dari 100 tanaman. Ia memanfaatkan lumut hutan sebagai media tanam. Porsinya sepertiga bagian media tanam. Harap mafhum labisia termasuk tanaman semi akuatik yang tumbuh di pinggir sungai. Komposisi media lainnya yakni pasir malang, sekam bakar, sekam mentah, andam, dan sabut kelapa dengan perbandingan 3:3:2:2:2.

Labisia asal Pulau Sumatra yang berwarna putih dan cokelat yang memesona.

Okky mengatakan, perbanyakan labisia tergolong mudah. “Saya belajar memperbanyak tanaman dari biji dan setek daun sejak Agustus 2021. Kecepatan tumbuh keduanya hampir sama. Malah lebih bagus dari biji karena karakter tanaman lebih kuat dan lebih sehat,” kata Okky. Pehobi tanaman hias di Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan, Banten, M. Apriza Suska, mengatakan banyak yang mencari labisia sejak 2—3 tahun terakhir.

Suska mengatakan, terdapat penjualan labisia jenis kura-kura dengan harga jutaan pada 2020. “Saya mengenal labisia sejak lama. Sering lihat di hutan. Saya sudah mencoba setek daun dan berhasil. Hanya prosesnya masih lama,” kata Suska. Labisia menyukai kondisi gelap karena tanaman itu tumbuh di bawah tegakan. (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img