Monday, November 28, 2022

Terpesona Senja

Rekomendasi

Demam twilight rupanya juga melanda pencinta aloe.

 

Drama cinta nan melodramatis sejoli Bella Swan yang manusia biasa dan Edward Cullen, sang vampir, mengaduk-aduk perasaan pembaca novel dan penikmat film berseri Twilight Saga. Tarik-ulur kisah asmara Bella dan Edward karya novelis Stephanie Meyer itu membetot perasaan para penggemarnya. Novelnya  menjadi best seller, filmnya dinanti-nanti para penggemar film Hollywood.

Pesona twilight juga menyihir penghobi aloe. Dialah Aloe “twilight zone” koleksi Meisutamta, kolektor tanaman hias di Jakarta Utara. Sukulen itu terlihat elok dengan warna dasar daun yang gelap kontras dengan bintil-bintil putih yang menyebar di permukaan daun. Sosoknya jadi seperti twilight-fenomena optik metereologi yang muncul akibat pemencaran partikel cahaya di atmosfer. Fenomena itu biasanya muncul saat matahari terbit atau terbenam. Di tepi daunnya berjejer rapi duri yang beberapa di antaranya memunculkan semburat jingga. Meski ukurannya mini, hanya setinggi 7 cm, aloe itu dengan segera menarik perhatian.

Meisutamta terpincut aloe sejak 5 tahun lalu. Saat itu Meisu, sapaannya, jatuh cinta pada aloe jucunda. Sosok aloe yang lazim ditemukan di nurseri-nurseri tanaman hias itu khas: kompak dan mini. Itu yang membuat tanaman anggota famili Xanthorrhoeaceae itu istimewa di mata Meisu.

Daftar merah

Kini Meisu juga mengoleksi Aloe vimbrialis. Menurut hobiis aloe di Jakarta, Darson Sumarno, vimbrialis termasuk jenis langka. Sosoknya elok dengan daunnya yang indah. Pantas saja Meisu sempat ketar-ketir ketika sebagian daun aloe langka itu membusuk karena kebanyakan mendapatkan air. Apalagi pria murah senyum itu mendapatkan vimbrialis dari jauh: seorang rekan mengirimkan langsung dari Afrika.

Sosok tanaman berdiameter 10 cm itu terlihat berbeda dari  aloe lainnya dengan  bulu-bulu halus berwarna putih di daun sehingga teksturnya seolah-olah sehalus beludru. Warna daunnya ciamik dengan kombinasi hijau tua di tengah dan merah marun di pinggir daun. Meisu meletakkan vimbrialis di tempat ternaungi sebab daun tipisnya mudah terbakar bila terpapar cahaya matahari langsung.

Koleksi istimewa lain, Aloe erinacea. Aloe endemik Namibia itu bersosok kompak dengan daun tumbuh roset dan menguncup ke atas. Sekujur tubuhnya dipenuhi duri hijau yang makin ke ujung daun warnanya makin gelap. “Durinya indah,” tutur Meisu mengagumi erinacea. Erinacea koleksi Meisu berumur 10 tahun, tapi tinggi tanaman hanya 15 cm. Tanaman anggota subfamili Asphodelaceae itu termasuk aloe yang laju pertumbuhannya lambat. Salah satu situs kaktus dan sukulen dari mancanegara menyebutkan erinacea berduri putih termasuk salah satu jenis langka. Dalam daftar International Union for Conservation of Nature (IUCN) pun erinacea termasuk dalam status terancam atau endangered dalam apendix II. Itu berarti untuk mendapatkannya harus dari hasil penangkaran.

Koleksi lain, Aloe suzannae, termasuk di dalam daftar merah dengan status sangat terancam atau critically endangered. Suzannae menjadi langka karena sulit tumbuh, daya adaptasinya rendah, dan rentan busuk. Pantas pemilik awal menyerah merawat suzannae. Di tangan Meisu muncul tiga daun setelah tiga tahun dirawat. Daun baru nampak sehat dengan bentuk daun yang panjang dan membulat tumbuh simetris.

Variegata

Menurut Meisu, merawat aloe gampang-gampang susah. “Tanaman tidak tahan air sehingga medianya harus porous,” kata pengusaha otomotif itu. Penyiraman cukup 2 kali dalam satu pekan saat musim kemarau. Pada musim hujan interval lebih panjang lagi. Meisu membiarkan sukulen-sukulen asal benua Afrika itu bermandikan cahaya matahari dengan meletakkan di pagar rumah dan balkon.

Total jenderal koleksinya sebanyak 50 jenis aloe yang dikumpulkan sejak 5 tahun lalu. Di kediamannya di Jakarta Utara, Trubus melihat Aloe canarina dihiasi duri berwarna jingga terang bak darah yang mengalir di pinggir daun yang berwarna hijau muda. Jenis lain Aloe pearsonii berdaun sepuluh helai yang tumbuh sempurna. Menurut Darson sulit menemukan aloe berdaun gempal itu yang tumbuh sempurna. “Pearsonii termasuk yang rentan busuk,” kata Darson.

Aloe jucunda variegata menjadi salah satu kesayangan Meisu. Sukulen yang ditanam dalam pot tanah liat berwarna cokelat itu nampak memesona dengan daunnya yang roset berbentuk bintang. Semburat warna kuning memanjang menghiasi permukaan daun. Sementara kehadiran duri berwarna kecokelatan di tepi daun membuat aloe itu terlihat gagah.

Variegata lain misalnya Aloe armatissina. Belang kuningnya muncul simetris di tepi kanan dan kiri daun. Aloe brevifolia variegata dan Aloe mitrifomis variegata pun tumbuh sentosa di halaman belakang. Demam aloe ada di rumah Meisu. (Pranawita Karina)


Keterangan foto :

  1. Aloe erinacea pertumbuhannya lambat
  2. Meisutamta kepincut aloe sejak 5 tahun silam
  3. Aloe “twilight zone” memiliki warna daun yang kontras dengan bintil-bintil putih yang tersebar di permukaan daun
  4. Aloe pearsonii sulit mendapatkan yang sempurna
  5. Aloe armatissina memiliki sosok yang kompak dan simetris
  6. Aloe suzannae sulit dirawat lantaran pertumbuhannya lambat dan daunnya mudah busuk
  7. Duri berwarna jingga di pinggir daun Aloe canarina membuat aloe ini istimewa
  8. Aloe vimbrialis, langka di daerah asalnya di Afrika. Daunnya tipis dan mudah terbakar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Jambu Mete, Komoditas Kelas Premium di Pasar Global

Trubus.id — Jambu mete menjadi salah satu komoditas kelas premium di pasar global. Bahkan, jambu mete merupakan produk kacang-kacangan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img