Monday, August 15, 2022

Terpulang pada Keluarga

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dewasa ini kita mulai mengenal sejumlah keluarga yang melanggan beras organik. Di kota, mulai muncul keluarga yang bangga mengkonsumsi beras lokal, buah lokal, palawija dan sayur yang tidak dipupuk kimia, disemprot pestisida dan insektisida buatan. Di desa, juga mulai berkembang pesawahan organik, meskipun belum dilakukan besar- besaran.

Contohnya, Suster Th eresianne di Jogonalan, Klaten, Jawa Tengah, ikut membantu 200-an keluarga petani gurem mulai dari mencari pupuk kandang hingga menyalurkan hasil panen di perkotaan. Memang diperlukan orang atau lembaga yang menjamin keaslian dan membantu proses pengadaan, serta penjualan beras lokal, palawija, sayur dan buah-buahan asli setempat.

“Rata-rata petani menggarap 0,2 hektar, dengan hasil 7 kuintal. Setahun 3 kali panen, termasuk sekali palawija,” ceritanya. Kalau harga gabah Rp2.100/kg, satu keluarga mendapatkan Rp1.470.000 sekali panen. Jadi, kalau 3 kali panen hasil bumi satu keluarga petani kecil, berkisar Rp5-juta setahun. Betulkah?

Pertanyaan instan adalah: bagaimana kita ikut membantu menambah penghasilan? Apakah dengan menghargai beras organik lebih mahal dari rata-rata beras biasa? Suster Th eresianne menyimpan berbagai jenis beras lokal yang tinggi kualitasnya, nikmat rasanya, dan insya Allah akan lebih bagus harganya. Selain itu, ia juga punya program agroturisme. Misalnya dengan mengundang anak-anak kota bertamasya di desa. Ikut panen kacang, menjaga sawah, mengairi kebun, dan menikmati masakan asli di desa.

Ekonomisasi tanah desa

Ibu melahirkan saya di tepi hutan jati, yang gersang dan panas, kawasan perbukitan kapur utara, di Lamongan, Jawa Timur. Waktu itu, 1 Februari 1956, kurs resmi Rp47 per dolar Amerika. Sementara di pasar gelap, sedolar Rp55. Ibu mengontrak sebuah rumah kayu, dikelilingi pohon-pohon sawo Manicara achras, dalam sebuah pekarangan seluas satu hektar. Ayah menghitung ada 76 pohon kelapa Cocos indica tumbuh di pekarangan kami dan sekitar 10 batang aren Arenga pinnata, penghasil kolang-kaling, ijuk, dan gula aren.

Ibu mengajar di sekolah dasar negeri, dengan gaji bersih Rp246 sebulan. Setelah 30 bulan gaji itu terkumpul Rp6.000 (sekitar 127 dolar), beliau bisa membeli rumah besar dengan tiga kamar tidur dan pekarangan luas di desa. Maka, pada usia 2,5 tahun, saya tidak tinggal di rumah kontrakan lagi.

Lima puluh tahun berlalu. Dusun kelahiran saya, Ngimbang, tampaknya tidak miskin lagi. Hutan jati semakin hijau. Air sendang pun berlimpah. Pekarangan tempat saya dilahirkan sudah penuh rumah. Ada garasi mobil, ada juga tempat kursus komputer dan les bahasa inggris. Penghasilan masyarakat pertanian tidak melulu tergantung pada panen padi, singkong, tembakau, kelapa atau penjualan kayu jati. Ada penjahit, wartel, bengkel mobil, toko bahan bangunan, kantor pos, sebuah bank, bahkan agen pulsa isi ulang. Namun, harga-harga berubah. Dengan seribu dolar pun, kita belum dapat membeli rumah.

Dalam dua generasi penduduk Pulau Jawa meningkat hampir 3 kali lipat. Dari 40-juta pada saat saya lahir, menjadi 115-juta. Harga tanah pun mengalami revolusi luar biasa. Hanya dalam tempo satu generasi (25 tahun) terakhir, setiap jengkal tanah harganya bisa meningkat seribu kali lipat. Artinya, dari seribu rupiah menjadi satu juta rupiah. Orang-orang desa tersingkir, menjadi kuli bangunan dan pembantu rumah tangga di kota-kota besar atau merantau menjadi TKI di luar negeri. Berbagai lahan di desa dibeli dan menjadi milik orang kota.

Satu contoh nyata bisa kita lihat di Sukaresmi, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Topografi , desa ini jauh lebih indah daripada dusun miskin tempat ibu melahirkan saya. Sukaresmi yang kaya terletak di kawasan pegunungan, dilingkungi kebun bunga dan udara sejuk, tidak jauh dari kawasan Puncak yang indah permai. Namun sayang seribu sayang, desa ini justru dilingkungi oleh lahan kritis ratusan hektar. Bukit-bukit yang mestinya subur dengan panorama indah dan udara sejuk, terlihat gundul, tidak terawat, dan mulai longsor di sana-sini.

Apa yang terjadi? Tidak penting betul. Yang mendesak adalah bagaimana memperbaikinya. Pejabat setempat berkata, “Lebih dari separuh, kalau tidak 70%, tanah di dusun yang indah ini sudah dibeli orang kota.” Pemiliknya jarang datang dan pengelolaan ditangani oleh orang-orang kepercayaan. Setiap orang kepercayaan mengkoordinir sejumlah petani penggarap. Para petani penggarap inilah yang memanfaatkan lahan itu untuk hidup sehari-hari dengan menanam sayuran dan palawija.

Pohon-pohon besar ditebangi supaya sinar matahari dapat bersinar leluasa, mempercepat kapri, buncis, bunga-bungaan, jagung manis, sawi, dan berbagai tumbuhan cepat panen. Akibatnya, pelan-pelan daerah subur itu menjadi tandus. Sembilan mata air yang dulu mengaliri dusun, satu persatu menjadi kering dan tinggal dua atau tiga saja. Dengan membanting tulang sekuat tenaga pun, para petani penggarap tidak semakin kaya. Apalagi setelah kesuburan tanah menurun dan pasokan air makin berkurang.

Teman-teman saya, Arman, Idham, dan Nia, mencoba mengumpulkan pihak- pihak yang berkepentingan aga bukitbukit di seputar Sukaresmi dapat disuburkan kembali dan sumbersumber air hidup lagi. Para penggarap pun setuju memikul tanggung-jawab yang lebih besar. Tinggal uluran tangan keluarga di kota yang memiliki tanah-tanah luas itu.

Ada kabar, mereka sudah cukup mendapat keuntungan dengan memakai surat-surat kepemilikan tanah sebagai jaminan untuk mendapat permodalan. Dengan mematok harga Rp500.000 semeter saja, tiap satu hektar dapat dijadikan agunan senilai Rp50-juta. Jadi tanpa menggarap pun, tiap hektar tanah sudah mendatangkan jaminan berkah dari bank. Namun, tentu akan lebih bagus lagi, bila ada upaya konservasi yang pada gilirannya semakin meningkatkan nilai jual lahan.

Inilah yang sedang diperjuangkan. Pemerintah Kabupaten Cianjur berusaha keras, dibantu oleh Institut Pertanian Bogor (IPB) maupun uluran masyarakat internasional, berusaha menemukan model untuk merehabilitasi lahan-lahan kritis itu. Berbagai bibit tanaman yang dianggap mampu menolong pun dibagikan. Gerakan rehabilitasi lahan pun dicanangkan secara nasional. Namun, selang beberapa tahun berlalu, hasilnya belum kelihatan. Sebab gerakan rehabilitasi lahan lebih memerlukan peran dan campur tangan warga.

Agribisnis & keluarga lestari

Tampaknya perlu upaya kecil-kecilan untuk menangani masalah besar itu. Sudah banyak contoh proyek-proyek raksasa gagal menjawab problematik petani gurem. Sekarang, dengan rendah hati, programprogram besar itu mungkin perlu dipecahpecah dan dipulangkan kepada setiap keluarga, setiap pribadi. Jadi bukan badan, lembaga, departemen. apalagi negara yang melindungi negeri ini.

Itulah sebabnya, kesejahteraan hidup menjadi bagian terpenting dari hak asasi. Satu keluarga sejahtera di kota bisa memiliki sepuluh hektar lahan di desa terpencil, yang menjadi semakin tandus apabila tidak dipelihara. Sebaliknya, ada juga keluarga yang mampu memperbaiki lingkungan. Saya kenal Sunarto, dari sebuah dusun di Sleman, Yogyakarta, telah sukses jadi manajer industri pariwisata. Setiap pulang ke desanya, ia melakukan program-program pelestarian. Misalnya membenahi sumber air tempatnya mandi di masa kecil. Mengadopsi pohonpohon besar supaya tidak ditebang dan memperbanyak benih gayam Innocarpus fagifer untuk penghijauan.

Ada juga yang setiap pulang ke desa membawa pemahaman baru akan pentingnya ekologis. Memasang larangan menyetrum ikan di sungai dan menembak burung. Tentu tidak cukup hanya melarang-larang. Ada juga yang mengusahakan pekerjaan alternatif, membuka perpustakaan, mengkampanyekan hemat energi, pengolahan sampah, membuat kompos, dan mengintrodusir bibit baru baik ternak maupun tanaman.

Yang lebih penting dari itu semua, keluarga-keluarga sadar lingkungan ini mengkonsumsi dan mendukung perluasan tanaman organik. Mereka melanggan beras yang ditanam, dikelola, dan dipasarkan dengan memperhatikan konservasi dan pengkayaan ekologis maupun sosial. Langkah berikutnya, mengkampanyekan penggunaan obat-obatan alami, sekaligus mengembangkan tumbuhtumbuhan berkhasiat untuk kosmetika dan farmasi, seperti dilakukan oleh Martha Tilaar.

Dengan latar belakang itu semua, pantaslah Desa Sukaresmi menjadi pembicaraan nasional pada akhir September 2005. Departemen Kehutanan dan Pendidikan Nasional, bahu membahu, membantu Pemda Cianjur untuk membenahi sebuah desa. Ada satu program “Kecil Menanam Besar Memanen” (KMBM) yang dicoba untuk dijadikan model. Intinya melakukan rehabilitasi lahan dan mengkonservasi keragaman hayati melalui pendidikan dan perubahan perilaku. Kalau sukses program ini akan menjadi model tingkat nasional.

Sedini mungkin, anak sekolah dilatih menyuburkan kembali bumi yang melahirkannya. Dengan begitu mereka akan tahu ada tanaman yang justru meningkatkan kesuburan tanah. Misalnya kedelai, turi, kaliandra, ramayana, dan jacaranda. Ada juga hewanhewan yang memakmurkan warga desa. Termasuk di antaranya burung walet dan kelelawar yang melakukan penyerbukan bunga durian. Namun, di atas semua itu adalah pentingnya ketrampilan untuk mengolah hasil bumi.

Dari sisi bisnis, masyarakat di perkotaan pun selalu menunggu produk-produk inovasi: sehat dan nikmat untuk menjadi kegemaran keluarga. Sampai di sini jelaslah pengembangan agribisnis—melalui perbaikan daya dukung alam—terkait erat dengan perhatian warga kota terhadap saudarasaudarinya di desa. Jadi mau makan beras enak, mau melahap ikan yang nikmat, atau memandang bunga yang cantik pun, kembali pada niat dan partisipasi Anda sekeluarga. *** *) Eka Budianta, sastrawan, konsultan pembangunan, lulusan LEAD International, penyandang hadiah Ashoka sebagai inovator publik, kolumnis TRUBUS.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img