Sunday, August 14, 2022

Tersihir Penari Papua

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dia penari berkepala pendek yang menawan hati.

Penari itu bernama Petaurus breviceps. Dalam bahasa Latin, nama genus itu memang bermakna penari, sedangkan breviceps berarti kepala pendek. Lihatlah aksi tupai gula-begitu nama lokal satwa itu-ketika melompat, ia membentangkan selaput yang menghubungkan kaki depan dan belakang sehingga tampak seperti penerbang layang. Tupai gula juga piawai meluncur dari ketinggian 150 meter. Gerakannya lincah.

 

Ketika melompat dan meluncur itulah saat paling tepat untuk melihat keistimewaan tupai gula. Hobiis yang melihat atraksi itu kerap jatuh hati pada pandangan pertama. Pantas bila kini ribuan orang tengah jatuh hati pada “tarian” tupai gula itu. Tupai gula gemar mengonsumsi pakan manis seperti nektar dan buah-buahan. Kebiasaan meluncur dan mengonsumsi pakan manis menyebabkan para hobiis menyebut tupai gula itu sugar glider. Ada pula yang menyebut mamalia berwajah imut itu oposum terbang.

Minat Papua

Menurut dosen Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, drh Slamet Rahardjo, tupai gula hewan endemik Papua yang menetap di lubang-lubang pohon seperti eucalyptus. Seorang pengurus Komunitas Pecinta Sugar Glider Indonesia (KPSGI), July Lie, mengatakan bahwa 80% tupai gula yang beredar di kalangan hobiis berasal dari Papua, selebihnya dari Australia.

Namun, menurut July Lie, para hobiis lebih tertarik pada satwa berkantung asal Papua lantaran memiliki corak warna yang lebih menarik. Sejak 2009 tupai gula menjadi tren peliharaan para hobiis. July Lie mengisahkan asal-muasal tren tupai gula. Saat itu seorang anggota KPSGI ikut ajang pencarian bakat sambil membawa tupai gula. “Nah, sejak itulah makin ramai orang yang memelihara,” kata July.

Kini jumlah anggota grup KPSGI di situs jejaring sosial mencapai 1.500 orang. Sosok tupai gula yang menggemaskan memang menjadi daya tarik bagi hobiis untuk memeliharanya. Awal April 2012, sebagian mereka bertemu di sebuah pusat perbelanjaan. Hobiis asal Radio Dalam, Jakarta Selatan, Suryo Adilaksono, membawa seekor tupai gula. Mamalia itu berkali-kali menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Kelima jari kaki yang berkuku runcing, mencengkeram kuat permukaan tangan Suryo.

Sejurus kemudian tupai gula melompat, ke pundak. Keruan saja Suryo dan kawan-kawan tertawa menyaksikan tingkah klangenannya itu. Kerumunan para penggemar tupai gula tu menimbulkan tanda tanya bagi para pengunjung pusat perbelanjaan. “Ini hewan apa, Mas?” ujar seorang pengunjung yang penasaran. Masyarakat memang masih asing dengan tupai gula. Pengunjung lain menimpali, “Tupai terbang ya?”

Sepintas sosok hewan seukuran botol minuman dalam kemasan 500 ml itu memang mirip tupai terbang Petaurista elegants. Padahal, keduanya berbeda. Sosok tupai gula khas, terutama betina yang memiliki kantong di bagian perut. Ia memanfaatkan kantong untuk menyimpan anaknya terutama ketika meluncur. Perbedaan lain, menurut Slamet Rahardjo, pencernaan tupai terbang lebih keras. Ia mencontohkan tupai terbang mengonsumsi jeruk masih bisa, tetapi tidak bagi tupai gula karena menyebabkan sakit.

Keringat

Sosok tupai gula yang menggemaskan memang menjadi daya tarik bagi hobiis untuk memeliharanya. Apalagi satwa yang mampu bertahan hidup hingga 15 tahun itu bersosok mungil sehingga hobiis dapat menenteng saat bepergian. “Cukup masukkan ke dalam kantong yang telah diberi lubang,” ujar hobiis asal Jakarta Barat, Stefanus Herwin. Selain itu tupai gula juga tak menuntut perawatan ekstra.

“Ia termasuk hewan yang bersih karena suka melakukan grooming sendiri dengan cara menggaruk-garuk tubuhnya,” kata Slamet Rahardjo. Mamalia berkantong itu juga tergolong hewan yang bersahabat dan suka bersosial. “Sugar glider bisa berkomunikasi dua arah seperti kucing dan anjing sehingga bisa diajak bermain,” kata July yang sudah 7 tahun memelihara hewan marsupialia alias hewan menyusui yang berkantong itu. Di kalangan hobiis, kedekatan hewan kerabat kangguru itu dengan pemiliknya disebut bonding. Itu membuktikan bahwa mamalia marsupialia itu bukan hanya jinak, tapi juga bisa sangat dekat dengan sang pemilik, persis anjing. Hobiis menempuh beragam cara agar tupai gula jinak. July Lie, misalnya, dua kali sehari menyuapi tupai gula pada pagi dan malam. Menurut Suryo merawat tupai gula sejak belia-maksimal berumur dua bulan-mempercepat kedekatan itu. “Dalam dua pekan sudah bisa akrab. Namun, cepat-lambatnya masa kedekatan sebetulnya tergantung frekuensi interaksi pemilik dengan klangenannya,” kata pria yang berprofesi sebagai asisten sutradara itu.

Selain itu asal-muasal tupai gula turut mempengaruhi tingkat kecepatan akrab. “Kalau tangkapan dari alam biasanya lebih lama karena masih liar,” kata Suryo. Agar cepat akrab, Suryo meletakkan tupai gula di bajunya yang masih bau keringat. Sebab, satwa dilindungi itu mengenali kita dari bau.

Popularitas tupai gula di masyarakat dapat memicu perburuan di alam sehingga dapat mengancam kelestariannya. “Oleh karena karena itu wajib dilakukan penangkaran. Ketika tupai gula pertama kali beranak, jangan dijual dulu untuk dijadikan indukan. Setelah melahirkan kedua kalinya, baru boleh dijual,” jelas Slamet. Dengan begitu tupai gula tetap lestari walau makin banyak yang menggandrungi peari Papua itu.  (Bondan Setyawan)

Keterangan Foto :

  1. Sugar glider disukai karena imut, menggemaskan, dan bisa dibawa kemana-mana
  2. Pemberian makan dengan tangan mempercepat perkenalan tupai gula dan pemiliknya
  3. Suryo Adilaksono, “Sugar glider bukan tupai terbang tapi mamalia berkantong”
  4. Kandang ideal sugar glider memiliki tinggi di atas 1m
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img