Wednesday, August 10, 2022

Tersihir Suplir

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Raja bintang merupakan suplir fenomenal dengan harga Rp3,5 juta per tangkai. (foto : dok. Trubus)

TRUBUS — Suplir hibrida baru yang adaptif di dataran rendah. Harga fantastis, Rp3,5 juta per tangkai daun.

Di dunia terdapat ratusan spesies suplir. Hanya 2 spesies yang paling kaya hibridanya yaitu Adiantum raddianum dan Adiantum tenerum. Dari keduanya A. tenerum yang adaptif di dataran rendah. Pehobi yang tinggal di kota-kota besar dataran rendah di tanah air layak mengoleksi jenis paku itu. Daya adaptasi yang tinggi di dataran rendah itulah yang membuat kolektor suplir di Jakarta Timur, Denny Pribadi, memilih hibrida A. tenerum sebagai koleksi. “Dari ratusan hibrida, tinggal pilih yang masih langka untuk koleksi. Jadi kita mempunyai hibrida langka dan bandel,” kata alumnus Desain Komunikasi Visual, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Universitas Trisakti, itu.

Menurut Denny tetua A. tenerum adaptif di dataran rendah dan tinggi. “Aslinya A. tenerum hidup di Benua Amerika,” kata mantan desainer batik Danarhadi itu. Sebaliknya A. raddianum hanya optimal di dataran tinggi. A. raddianum hanya optimal di dataran rendah ketika musim hujan, tetapi saat musim kemarau tangkai daun rebah. Padahal A. raddianum tumbuh tegak di habitat asli yang berupa pegunungan. Belakangan hibrida A. tenerum mulai banyak diburu karena makin eksotis dibandingkan dengan spesies aslinya dan hibrida sebelumnya yang populer pada 1980.

Tren kembali

Nancy kristata asal Thailand.

Hibrida anyar itu berasal dari Thailand dan menjadi koleksi para kolektor seperti Denny Pribadi di Jakarta dan Anthony Yong di Medan, Sumatra Utara. Sebut saja lady geneva venus, raja bintang, larasati, nancy, monalisa, postard anjani, dan soraya rawing. “Semuanya masih terbatas sehingga hanya di tangan kolektor,” kata Anthony Yong. Para pehobi merogoh kantong yang cukup dalam untuk mengoleksi hibrida suplir yang langka itu. Musababnya, perniagaan suplir—kata yang diambil dari bahasa Prancis chevelure yang bermakna rambut di kepala—itu dihitung per tangkai.

Mirip ketika aroid—aglaonema dan anthurium—tren pada 2000. Saat itu pekebun menjual aroid berdasarkan jumlah daun yang tumbuh optimal. Harga satu tangkai raja bintang—salah satu hibrida A. tenerum—Rp3,5 juta. Yang lebih terjangkau larasati dan lady geneva venus yang berharga Rp700.000—Rp800.000 per tangkai tergantung kondisi kesehatan tanaman. Sepintas harga itu mahal. Namun, sebetulnya harga itu tidak berubah jika dibandingkan dengan penjualan suplir pada 1980 dan 1990. “Harga sepot suplir sekitar Rp20.000 saat itu. Bandingkan dengan harga emas atau pendapatan bulanan pegawai di masa itu,” kata Denny.

Bedanya seiring waktu harga emas dan pendapatan bulanan pegawai naik, sedangkan harga sepot suplir tidak berubah. Paling harga naik hanya Rp75.000 per pot untuk jenis-jenis yang populer pada 1980. Kini harga suplir hibrida baru mengoreksi harga suplir sehingga kembali menjadi tanaman bergengsi seperti di era 30—40 tahun lalu. “Status suplir sekarang setara dengan tanaman hias lain yang juga tren,” kata Denny.

Lebih lanjut ia menuturkan, sebuah hibrida langka karena sulit menghasilkan spora. Dampaknya peluang memperbanyak dari spora terbatas. Beda dengan spesies dan hibrida lainnya yang pada umur 2 tahun sudah menghasilkan spora. Raja bintang, larasati, dan lady geneva venus termasuk yang belum menghasilkan spora meskipun berumur 2 tahun. Konon kolektor raja bintang di Indonesia hanya 3—4 orang. Sebuah hibrid juga menjadi buruan kolektor karena bentuk daun berbeda dengan spesies atau hibrida lain yang beredar sebelumnya.

Kolektor suplir di Jakarta Timur, Denny Pribadi.

Contohnya hibrida bernama soraya rawing. Menurut Denny, suplir hibrida membutuhkan media tanam yang cocok untuk tumbuh di dataran rendah. “Prinsipnya media harus porous. Suplir menyukai air, tetapi tidak menyenangi media becek karena akarnya gampang busuk,” kata Denny. Ia menyarankan media tanam berupa pasir, kerikil, dan pupuk kandang dengan perbandingan setara untuk penanaman di dataran rendah. Adapun media tanam di dataran tinggi berupa kompos andam. Berikan juga pupuk dasar lambat urai sebagai sumber hara. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img