Tuesday, August 9, 2022

Tetap Kokoh Diterjang Penyakit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Varietas baru itu kokoh diselimuti daun nan hijau. Dari sela-sela cabang bergantung belasan buah yang mulai kemerahan, sehat, dan siap panen. Itulah tumpuan meraup laba. Yang sepanjang 2003, lenyap ditelan virus bule alias Tobacco mosaic like virus.

 

Virus kuning yang kerap menyerang tembakau itu membuat daun cabai jadi kuning dan kerdil. Akibatnya, tanaman tidak berproduksi sesuai harapan. Serangan yang parah menyebabkan tanaman gagal berbuah seperti terjadi di Magelang. Penyakit itu memang momok pekebun di sentra cabai terbesar di Jawa Tengah itu.

Beberapa pekebun mencoba mengatasi dengan menyemprotkan pestisida, tetapi hasilnya mengecewakan. Karena tidak kompak menyemprot, vektor pembawa penyakit seperti kutu kebul tetap merajalela. Saat disemprot, hama hanya terusir sementara lalu balik lagi setelah aman. Pekebun hanya pasrah menerima kondisi mengenaskan itu.

Di tengah kegalauan itu, Cipto Legowo, pakar cabai di Magelang, memperkenalkan varietas baru, new emperor. Ternyata cabai keriting asal Taiwan itu cukup rentan terhadap virus yang berasal dari tembakau. Saat jenis lain yang ditanam pekebun jadi lautan kuning, dengan varietas baru hanya 1—2 tanaman yang terserang.

Keunggulan varietas keluaran Qiang Nong Seed itu tercermin dari sosok tanaman yang kekar, kuat, dan subur. Sosok buah mirip TM 99, cabai keriting yang mendominasi pertanaman. Buah berdiameter 7—10 mm dengan panjang rata-rata 14 cm. Bobot buah 5—6 g. Daging tipis dan amat pedas. Produktivitas tinggi, mencapai 1 kg per tanaman.

Selain new emperor, beberapa varietas lain bisa jadi pilihan pekebun. Pendatang gres itu menawarkan berbagai keunggulan, seperti tahan serangan penyakit busuk batang dan produksi tinggi. Misal princes 06 keluaran PT Tanindo Subur Prima dan new taro asal PT East West Seed Indonesia. Perusahaan terakhir juga memperkenalkan varietas baru cabai besar di antaranya adipati, provost, dan bagayo.

Tak hanya impor, benih lokal juga menggebrak pasar dengan kehadiran tanjung, pertiwi, dan rekap. Berikut beberapa di antaranya.

Princes 06

Varietas baru dari Jawa Timur ini bersosok tegak dan kuat. Ia bisa beradaptasi baik di dataran rendah hingga tinggi. Warna buah muda hijau dan setelah tua berwarna merah mengkilap. Varietas produksi PT Tanindo Subur Prima itu amat tahan serangan penyakit layu bakteri. Ia pun tahan dalam penyimpanan dan pengangkutan. Buah dipanen pada umur 76—80 hari setelah tanam (HST) dengan potensi hasil 15,3 ton/ha.

New taro

Cabai baru ini hasil revisi sifat dari taro yang telah dikenal sebelum 2000. Ia dapat dikenali dari sosok tanaman yang berbatang tegak dengan tajuk melebar. Buahnya keriting sepanjang 17 cm x 0,8 cm dengan bentuk silindris dan seragam.

Setelah matang buah berwarna merah cerah. Ia tahan serangan layu bakteri. Buah mulai dipanen pada 90 hst. Si pedas asal Purwakarta itu berpotensi menghasilkan 1 kg/tanaman. Cabai ini toleran terhadap lingkungan sehingga bisa ditanam di dataran rendah hingga tinggi.

Bagayo

Hasil riset PT East West Seed Indonesia itu tahan layu bakteri. Sosok tanaman tegak dengan percabangan banyak. Buah agak keriting berukuran 15 cm dengan diameter 0,8 cm. Setelah buah matang warna merah mengkilap. Pada umur 90 hst, buah mulai dipanen. Produktivitas mencapai 1 kg/ tanaman. Ia bisa ditanam di daerah rendah hingga tinggi. (Syah Angkasa)

Previous articlePerang Sound System
Next articleOrganik
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img