Sunday, November 27, 2022

Tetaplah Lincah, Wahai Penari

Rekomendasi

Tupai gula dengan tubuh proporsional dan lincah menarik para hobiisPakan dan kandang tepat kunci merawat tupai gula.

Suryo Adilaksono baru saja tiba di rumah usai bertugas keluar kota. Keringat di  tubuhnya masih menderas. Meski belum mengaso, hobiis tupai gula di Radiodalam, Jakarta Selatan, itu bergegas menyambangi satwa kesayangannya. Sepekan tak berjumpa, Adilaksono memendam rindu. Namun, begitu melihat hewan berkantong koleksinya itu terkulai lemas, ia terperanjat. Asisten sutradara itu buru-buru menyuapkan pakan ke mulut tupai gula.

“Tupai malah muntah dan tak mau menelan makanan,” katanya. Beberapa jam kemudian tupai gula Petaurus breviceps itu meregang nyawa. Penyebab kematian itu adalah kesalahan memberi pakan. “Selama saya keluar kota, petugas yang merawat tupai gula kurang telaten. Bubur bayi untuk pakan  tupai kurang tercampur rata dengan air. Ada pakan yang mengendap di dasar wadah sehingga basi. Pakan basi itulah yang membuat tupai mual,” kata Suryo.

 

Reza Agatha (kiri) dan Stefanus Herwin, tertarik tupai gula karena lucu dan bisa dibawa kemana-manaSalah makan

Menurut ahli satwa dari Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, drh Slamet Raharjo, lambung dan pencernaan tupai gula amat lembut. “Tupai gula tak dapat mencerna makanan-makanan yang keras dan tajam. Lambungnya akan bereaksi jika pakan mengandung zat yang beracun. Salah satu reaksinya adalah muntah dan diare,” tutur Slamet. Diare akibat salah pakan biasanya tak mengganggu aktivitas kerabat kanguru itu.

Penyebab lain diare adalah infeksi saluran pencernaan yang menyebabkan tupai gula lemas, enggan beraktivitas, dan mata sayu.  “Kalau hidungnya basah, biasanya karena infeksi bakteri,” kata Slamet. Bila sudah begitu sebaiknya segera bawa tupai ke dokter hewan untuk mendapatkan pengobatan. Itulah sebabnya pehobi tupai gula alias sugar glider mesti memperhatikan jenis pakan.

Sebagian besar pehobi memilih bubur bayi sebagai pakan pokok opossum terbang itu. Dosisnya 3—5 gram atau satu sendok teh per hari. Menurut Slamet bubur bayi mencukupi kebutuhan karbohidrat tupai gula. Pemberiannya tidak boleh berlebihan, maksimal 6 gram per hari. Slamet menuturkan pehobi sebaiknya mengombinasikan bubur bayi dan makanan alami seperti buah-buahan manis dan berair. Pemberian jenis pakan yang sama terus-menerus menyebabkan kekurangan nutrisi.

“Bila gizi tidak berimbang, tupai gula bisa kegemukan sehingga tidak lincah lagi, atau sebaliknya,” kata Slamet.  Oleh karena itu ia menyarankan agar pehobi memberikan pakan bervariasi.  “Sekitar 3—4 hari sekali menu makanan harus diganti. Umpamanya tiga hari pertama, berikan pisang sebanyak dua ruas ibu jari, tiga hari berikutnya pepaya dengan porsi sama,” tuturnya.

Pehobi tupai gula di Jakarta Barat, Stefanus Herwin, menambahkan masing-masing setetes minyak zaitun dan minyak ikan ke dalam bubur bayi untuk menyehatkan kulit. Ia juga menambahkan madu ke dalam air minum sebagai sumber energi sehingga si penari papua aktif bergerak. Nama genus Petaurus dalam bahasa Latin berarti penari.  “Yang terpenting kebutuhan protein tupai gula yang mencapai 40—50% dari total pakan terpenuhi,” kata July Kadewi, pehobi tupai gula sejak 2005. Adilaksono memberikan pakan tambahan 10 ulat hongkong per hari sebagai sumber protein.

 

Cegah stres

Menurut Slamet, penyebab lain tupai gula lemas dan enggan makan adalah stres. Penyebab stres adalah bentuk dan ukuran kandang kurang sesuai. Beberapa pehobi memelihara satwa menyusui itu di kandang hamster, burung, atau hewan lain yang berdinding kawat. Menurut July, tupai gula sangat suka meluncur. “Oleh karena itu ketinggian kandang minimal 1 meter dan lebar 40 cm,” tuturnya. Ukuran kandang itu dapat dihuni sepasang tupai gula.

Adilaksono menyarankan satu kandang sebaiknya dihuni seekor jantan.  Sebab, tupai gula termasuk hewan teritorial. Bila penghuni kandang lebih dari satu jantan menyebabkan perkelahian untuk perebutan wilayah. “Boleh saja lebih dari satu jantan, asalkan jantan itu adalah anaknya,” tuturnya. Untuk mencegah stres,  buat kandang senyaman mungkin bagi tupai. Misal dengan menambahkan kantong berbahan kain bekas, kaus  kaki bekas, atau tempurung kelapa untuk tempat istirahat dan bersembunyi.

Alangkah baiknya bila di dalam kandang juga terdapat sarana bermain seperti roda berputar, jembatan yang terbuat dari kain, dan tali-tali untuk bergelantungan. “Hindari menggunakan mainan yang terbuat dari bahan-bahan beracun,” kata Suryo. Tupai gula menyukai keadaan bersih. Oleh karena itu taburkan serbuk kayu atau zeolit di permukaan alas kandang untuk menyerap bau feses dan urine.

Menurut Slamet, tempatkan kandang di dalam ruangan bersuhu 20—25ºC. “Semakin sejuk, semakin bagus,” tuturnya. Suhu di dalam ruangan relatif lebih stabil ketimbang di luar ruangan. Untuk mengatasi tupai gula yang stres, tempatkan hewan marsupialia itu di dalam kandang, lalu terangi dengan lampu bohlam berdaya listrik 10—15 watt. Penerangan lampu untuk menjaga suhu tupai gula stabil. Ketika stres, suhu tubuh turun. Bungkus bohlam dengan kertas agar tidak menyilaukan tupai.

“Tutup juga sekeliling kandang dengan kertas hingga sepertiga tinggi kandang agar tidak terganggu kondisi luar,” kata alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada itu. Selang 2—3 hari biasanya tupai gula sudah membaik. Tanda-tandanya ia sudah aktif bergerak dan sudah berani keluar dari persembunyian. (Bondan Setyawan)

Previous articleMenutup Kaprat Dalam Susu
Next articleMobil Agave

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img