Tuesday, November 29, 2022

The 8th Blitar Koi Show 2007 : Showa Sanshoku Raja Kota Patria

Rekomendasi

Kesan elegan muncul saat pertamakali melihat ikan tangkaran Suzuki Farm di Niigata, Jepang, itu. Kualitas warna dan proporsi tubuhnya sangat bagus, kata Sugiarto Budiono, juri asal Jakarta. Tubuh sepanjang 65 cm itu memang bak torpedo. Mengecil di kepala kemudian membesar di tengah tubuh, dan terakhir mengecil lagi ke arah ekor. Itu memenuhi salah satu pakem untuk koi berkualitas.

Kohaku-juga milik Hariyanto-yang mencoba menyaingi, dibuat tak berdaya. Koi dengan 3 step corak merah itu pun memiliki tubuh ideal: bentuk torpedo dan membulat. Ukurannya besar, 65 cm. Namun, karena corak dasar putih di tubuh tidak terlampau bersih, sedikit kekuningan, kohaku itu tersingkir. Warna putih harus seperti salju, kata Sugiarto.

Sengit

Jalan sang grand champion merengkuh gelar bergengsi itu terbilang mulus. Awal turun di kelas showa sanshoku di atas 51 cm, nyaris tidak ada pesaing yang bisa melawannya. Satu-satunya pesaing yang mengusik hanya andalan Sen Sen dari Kediri. Namun, karena postur tubuhnya lebih kecil, ia tak mampu menyaingi sang juara. Kejadian serupa terus berlanjut hingga dikukuhkan menjadi yang terbaik.

Di kelas taisho sanshoku 46-50 cm, andalan Sugeng Rahayu dari Blitar melejit di atas semua pesaingnya. Koi berukuran tubuh 47 cm itu memang cantik. Kepalanya membulat dengan hi-warna merah-lebar memenuhi batok kepala. Corak belang merah dan putih terlihat simetris dengan sedikit semburat hitam. Sumi-nya tersebar seimbang di kiri dan kanan tubuh, kata Cheng Kwok Kwai, ketua juri dari Surabaya. Kelebihan itu juga mengantarkannya meraih gelar adult champion.

Pertarungan sengit terjadi di kelas showa sanshoku di atas 20 cm. Kelas dengan jumlah peserta terbanyak itu diikuti 24 koi . Penilaian berlangsung alot. Turun dengan kondisi prima, koi milik Sen Sen dapat menyabet gelar juara. Ikan berukuran 20 cm itu bertubuh padat dengan corak tricolor tersebar merata. Ia memiliki masa depan yang cerah, ujar Cheng Kwok Kwai.

Kemenangan ini sekaligus mengobati kekecewaan Sen Sen setelah kalah di kelas showa sanshoku ukuran di atas 51 cm. Jagoan Djatmiko asal Blitar di kelas tancho 26-30 cm mendapat perlawanan setimpal dari kota yang sama. Namun, pattern merah-jingga terang di kepala koi itu memikat juri hingga menobatkannya sebagai kampiun. Tak hanya itu, ukuran hi-nya yang besar dan bulat sempurna tak tertandingi.

Dalam lomba kali ini juga turut dipertandingkan kelas jumbo gosanke dan non-gosanke. Di kelas jumbo nongosanke tampil sebagai juara goshiki milik Agus Koi Center. Ikan sepanjang 61 cm itu memiliki paduan warna: putih, merah, biru muda, biru tua, dan hitam. Karena istimewa, Walikota Blitar, Drs H Djarot Saeful Hidayat MS, yang datang sempat terkagum-kagum.

Meriah

Kontes koi tingkat nasional yang diselenggarakan pada 29 Juni-1 Juli 2007 di Alun-alun Blitar itu terbilang istimewa. Berbeda dengan kontes sebelumnya, setiap ikan dinilai di dalam plastik yang diletakkan di lantai. Ini mengikuti cara Inggris, kata Sugeng Hariyanto, ketua panitia. Tercatat 540 koi beradu molek dalam 96 kategori. Para peserta datang dari segenap penjuru Jawa seperti Surabaya, Kediri, Solo, Yogyakarta, Malang, Tulungagung, Jember, Klaten, Tangerang, dan Jakarta.

Akrimna asal Blitar dinobatkan menjadi peserta pembawa koi terbanyak, 38 ekor. Yang menarik, Sugeng Rahayu harus bolak-balik naik ke panggung setelah 27 dari 33 koi andalannya mendapat juara hampir di semua kelas. Prestasi itu pun diganjar dengan piala bergilir dari Menteri Kelautan dan Perikanan. Ini membuktikan koi Blitar tetap berkualitas, katanya. (Andretha Helmina)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img