Friday, August 19, 2022

Tiada Lahan Polibag pun Jadi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Hasil panen ubi cilembu di polibag bisa lebih tinggi karena nutrisi terserap optimal.

TRUBUS — Budidaya ubi jalar dalam wadah tanam praktis dan berpotensi meningkatkan hasil panen minimal 50%.

Agin Sutisna takjub dengan hasil panen berupa 1 kilogram (kg) ubi jalar (terdiri atas 4 umbi) di polibag berdiameter 35 cm. Panenan itu jauh lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya konvensional. “Hasil panen budidaya di tanah paling bagus rata-rata 500 gram dengan luasan sama,” kata petani di Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, itu.

Semula Agin iseng memanfaatkan polibag bekas pada penghujung 2020. Ia memasukkan media tanam dan menanam 1 rambat bibit ubi jalar cilembu dalam polibag itu. Empat bulan kemudian ternyata hasilnya memuaskan. “Padahal tidak ada tambahan pupuk kimia pada percobaan menanam di polibag,” kata petani berumur 52 tahun itu. Keberhasilan uji coba itu mendorong Agin menanam ubi jalar dalam polibag dengan skala lebih luas.

Lebih unggul

Agin Sutisna pun mempersiapkan 2.500 polibag berdiameter 60 cm di lahan 2.100 m2. Polibag berdiameter 60 cm itu sanggup menampung 6 rambat bibit. Idealnya satu polibag menghasilkan 5 kg ubi jalar dengan masa budidaya 4 bulan. Paling sedikit 3 kg ubi jalar/polibag. Agin menghitung hasil panen budidaya konvensional dengan luasan sama hanya 1 kg.

Ubi jalar dalam polibag tetap produktif jika media tanam memadai.

Ia meracik media tanam sendiri yang berupa campuran kompos kotoran kambing, sekam sisa budidaya ayam, dan tanah dengan perbandingan 1:2:1. “Usahakan tanah jangan dominan karena media tanam yang keras menyebabkan pertumbuhan umbi kurang optimal,” kata Ketua Kelompok Tani Beringin itu. Pemberian pupuk susulan sebulan setelah tanam. Ia melarutkan 8 kg SP36 dan 4 kg NPK Phonska ke dalam 200 l air.

Aplikasi pupuk itu setiap 2 pekan. Agin mengatakan budidaya ubi dalam polibag lebih praktis dan ekonomis dibandingkan dengan budidaya konvensional. Alasannya bisa 3 kali panen tanpa olah tanah selama setahun. Harap mafhum, budidaya konvensional mengharuskan olah tanah. Biaya 3 kali olah tanah dalam setahun mencapai Rp9 juta. Apalagi masa pakai polibag hingga satu tahun atau tiga periode budidaya ubi jalar.

Keruan saja budidaya ubi dalam polibag mengirit ongkos produksi. Agin hanya menambahkan sedikit media tanam setiap kali panen. Lebih lanjut ia menuturkan modal awal bertanam ubi dalam polibag lebih mahal. Namun, lebih praktis untuk jangka panjang. Pemupukan lebih tepat sasaran keunggulan lain menaman ubi jalar dalam polibag. Pupuk mudah tercuci jika hujan pada budidaya konvensional di lahan.

Kelebihan lainnya menggunakan polibag yaitu pekebun bisa merancang media tanam sesuai untuk pertumbuhan ubi jalar. Menurut peneliti dari Fakultas Pertanian, Universitas Padjadjaran, Dr. Haris Maulana, S.P., M.P. menanam ubi jalar di polibag memang bisa meningkatkan hasil. Syaratnya kualitas media tanam mesti memadai. “Media tanam kaya bahan organik dan gembur terbukti bisa meningkatkan panen ubi jalar,”kata Haris.

Kantong tanam

Hasil penelitian Haris menunjukkan rata-rata hasil panen ubi jalar varietas rancing dalam polibag berdiameter 40 cm menghasilkan 600 g. Sebetulnya hasil panen di polibag ada yang mencapai 1 kg. Bahkan ada juga yang kurang dari 600 g. Jadi, hasil panen dalam polibag bervariasi. Meski begitu hasil panen itu lebih tinggi dibandingkan dengan budidaya ubi jalar secara konvensional yang hanya 300 gram per tanaman.

Petani di Desa Tegalmanggung, Kecamatan Cimanggung, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Agin Sutisna menanam ubi cilembu di polibag.

“Hasil panen 300 gram itu jumlah minimal agar pekebun mendapatkan untung secara ekonomi,” kata Haris. Polibag bukan satu-satunya wadah tanam untuk ub jalar. Alternatif lainnya menggunakan kantong tanam (planterbag). Menurut Supervisor Marketing PT Wanghort Pratama Lestari, Herdiyansyah, pekebun bisa memilih kantong tanam khusus tanaman umbi kreasi perusahaannya. Pilihan produknya yaitu kantong tanam berdiamater 50 cm dan tinggi 30 cm atau kantong tanam berdiameter 35 cm setinggi 50 cm.

Kelebihan kantong tanam yakni pekebun mudah memanen umbi. Pasalnya pekebun bisa membuka dan menutup kantong tanam layaknya jendela. Kantong tanam itu awet karena pemakaiannya bisa 7—10 tahun. Artinya pekebun ubi jalar bisa memanen 21—30 kali tanpa mengganti kantong tanam. Keunggulan lainnya lebih praktis karena mudah dipindahkan. (Muhamad Fajar Ramadhan)

Previous articleBatatas Bebas Lanas
Next articleOrganik Demi Harga Naik
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img