Friday, December 9, 2022

Tiga Baratayuda di Tanah Andalas

Rekomendasi

Perang itu memang tak bisa dicegah. ‘Puting beliung menyerang. Tenda-tenda rata dengan tanah,’ kata Syahrial Usman, pengusaha di Riau. Di Lampung, tiang-tiang pancang rubuh. Raja dan ratu bergeletakan. Hanya Jambi yang selamat dari amukan Dewa Bayu. Raja dan ratu di kota itu diungsikan saat puting beliung menyergap pada penghujung Maret.

Toh, perang baratayuda tetap berlangsung seminggu berselang. Di Bumi Lancang Kuning, raja daun Anthurium moonenii menaklukan sang ratu yang mengenakan mahkota bersusun 3, tiara. Penampilan, kelangkaan, dan kesehatan prima anthurium langka itu membuat 5 pengadil perang – Nurdi Basuki, Sugiono Budhiprawira, Deborah Herlina, Handry Chuhairy, dan Destika Cahyana – menobatkan koleksi Syahrial sebagai yang terbaik.

Di Lampung sebaliknya. Ratu berjuluk superred mengalahkan 115 peserta aglaonema, anthurium, dan ratu gurun alias adenium. Aglaonema berwarna merah solid itu menarik perhatian Ir Zainal Muttaqin, direktur Politeknik Negeri Lampung yang menjadi juri kehormatan. Di Jambi raja dan ratu tak diadu. Peperangan hanya menentukan raja dan ratu terbaik di Tanah Pilih Pesako Betuah itu.

Indikasi tren

Tiga perang baratayuda berupa kontes tanaman hias yang berbarengan di Pulau Sumatera itu menjadi catatan sejarah. ‘Selama ini kontes yang kerap bersamaan hanya di Jawa dan Bali. Kini di Sumatera pun berbarengan. Itu tanda tren tanaman hias sudah menyebar ke kota besar di Sumatera,’ kata Sugiono Budhiprawira, pemain dan juri tanaman hias di Bogor. Selama ini hanya Medan, kota di Sumatera yang menjadi barometer tanaman hias.

Menurut Nurdi fenomena di Sumatera pun terlihat menggembirakan. ‘Kualitas peserta kontes hampir setara dengan di Jawa dan Bali,’ katanya. Nurdi menyebut moonenii dan tiara – masing-masing juara anthurium nonjenmanii dan aglaonema merah di Riau – sebagai tanaman berkualitas. Keduanya bahkan layak bertanding dengan jawara-jawara di Tanah Jawa. Penampilan prima keduanya berkat tangan dingin Syahrial Usman alias Yank yang merawatnya sejak 3 – 5 tahun silam.

Sugiono mengatakan pesaing moonenii di kelas anthurium nonjenmanii tak kalah menawan. Sebut saja hookeri kulit jeruk milik Andriani Lubis sebagai runner up dan corong klangenan Ir Edward Nanggaraja Butarbutar di posisi ketiga. Daun hookeri yang tebal dan kasar mengesankan kegagahan. Ia kian menarik karena daun utuh, nyaris tanpa cacat. Sedangkan corong dewasa setinggi 1,7 m tampak istimewa karena kerusakan daun minimal. Sulit menemukan corong dewasa yang tampil mulus. Biasaya daun corong dewasa berlubang dan sobek karena terbakar sinar matahari atau serangan hama.

Menurut Herry Hariry Bahar dari Pecinta Tanaman Hias Pekanbaru (PTHP), kontes kali ini merupakan yang pertama di Bumi Lancang Kuning. Sebanyak 116 peserta – anthurium dan aglaonema – berkompetisi menjadi yang terbaik. Peserta berasal dari seluruh kabupaten di Provinsi Riau. Mereka dinilai dengan standar penilaian nasional oleh 2 tim juri dari Perhimpunan Florikultura Indonesia (PFI) dan Trubus. Tercatat 3 nurseri mendominasi perhelatan akbar itu. Ketiganya nurseri Kandang Kembang, Lis Flower, dan Ananto Budiman.

Lampung

Kontes tanaman hias di Lampung tak kalah seru. Sebanyak 115 aglaonema, anthurium, dan adenium turut meramaikan perhelatan dalam rangka merayakan Dies Natalis ke-24 Politeknik Negeri Lampung dan Ulang Tahun ke-44 Provinsi Lampung. Lomba yang digelar Pengusaha Tanaman Hias (Pentas) Lampung itu menjadi istimewa karena menggunakan sistem penjurian baru di dunia aglaonema dan anthurium: semua tanaman dinilai dan diberikan rapot hasil penilaian. Sistem itu sebelumnya hanya lazim di adenium.

Dengan sistem itu semua tanaman dinilai. Biasanya juri hanya menentukan 10 besar dari setiap kategori sebelum melakukan penilaian. ‘Dengan sistem rapot, semua pemilik tanaman mengetahui kelebihan dan kekurangan tanaman,’ kata Andy Solviano Fajar, juri dari Solo. Rapot itu bisa menjadi acuan kualitas tanaman di kontes berikutnya. Artinya, kualitas tanaman bisa meningkat atau sebaliknya menurun. Konsekuensinya 5 juri – Andy Solviano Fajar, Kurniawan Junaedi, Nesia Artdyasa, Rudi Purwantoro – menilai tanaman secara maraton selama 9 jam.

Pemenang baru diketahui pada 4 April dinihari pukul 01.00 WIB. Toh, itu tak menyurutkan hobiis untuk menyaksikan pemenangnya. ‘Dinginnya malam tak menjadi halangan, mereka tetap melihat meski memakai sarung,’ kata Nesia Artdyasa, juri termuda dari Trubus. Di kelas jenmanii besar nama Mohammad Adam mendominasi. Dua koleksi pengusaha kontraktor dari Metro, Lampung, itu berhasil merebut juara ke-1 dan 2. Pemenang anthurium lain pun banyak direbut Lampung (lihat tabel). Sayang, takhta juara aglaonema luput. Pemenang aglaonema majemuk dan tunggal direbut Sun Sun dari Jakarta Barat dan Yani Suryani asal Bandung.

Jambi

Di Jambi sebanyak 47 peserta berkompetisi di acara bertajuk Bang Nawi Cup. Meski peserta tak sebanyak Riau dan Lampung, kontes yang digelar Himpunan Pecinta Aglaonema dan Anthurium Jambi itu meriah. ‘Itu sudah melebihi target. Kita sampai menolak peserta karena tempatnya terbatas,’ kata Doddy Hidayat, salah satu panitia. Panitia pun menggunakan kategori yang mendekati ideal. Anthurium dibagi menjadi 3 kelas: jenmanii, open, dan gelombang cinta.

Sementara aglaonema dibagi menjadi 4 kategori: merah majemuk, merah tunggal, nonmerah tunggal, dan nonmerah majemuk. ‘Dengan banyak kategori, persaingan dan penilaian semakin adil,’ kata Gede Suyono, koordinator juri asal Bali. Di Jambi nama Margaretha bersinar karena merebut 2 jawara di kelas open masing-masing sebagai juara pertama dan ketiga. Di kelas jenmanii Tata Harisanto mendominasi dengan merebut juara kedua dan ketiga. Di posisi pertama jenmanii milik Sugi. Pemenang dari Jambi itu melengkapi berakhirnya 3 baratayuda di Pulau Andalas. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdyasa).

 

Previous articleEksplorasi Bangka
Next articleBahan Bakar dari Limbah
- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mentan Ingin Produk Hortikultura Segera Tembus Pasar Mancanegara

Trubus.id — Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menginginkan produk hortikultura, seperti buah dan sayur bisa tembus pasar mancanegara. Mengingat,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img