Sunday, August 14, 2022

Tiga Hari Menelusuri Fang Cun

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Semilir angin di musim semi yang menghampiri wilayah Cina Selatan terasa lembut membelai kulit. Melangkahkan kaki di area yang tertata rapi terasa menyenangkan, walau kelelahan mendera. Inilah laporan wartawan Trubus Dian Adijaya Susanto ke sentra ikan hias terbesar di Asia.

Sejak keberangkatan dari Jakarta, Trubus terus mereka-reka seperti apa rupa Fang Cun. Membayangkan luasnya yang 20 ha, wah betapa besarnya pusat penjualan ikan hias kelas dunia itu. Selama 5 jam 45 menit mengudara, Iskandar, importir ikan hias yang kerap ke sana enggan bercerita tentang Fang Cun. “Lihat saja sendiri,” ucapnya sedikit berahasia. Lamunan itu buyar manakala roda burung besi China Southern 757 menapak landasan Baiyun International Airpot.

Dari bandara kami singgah sejenak di Hotel Shiweitian Yinshi Jhongsin di Jiangnan Avenue. Lalu taksi Mazda kuning keluaran 1990 melesat membawa Trubus menuju Fang Cun. Jarak dari Jiangnan Avenue ke Fang Cun ditempuh selama 30 menit melintasi Hedong Road dan jembatan piramida He Tong Ta Ceauw yang membelah sungai Chiang He. Gedung-gedung jangkung jadi pemandangan selama perjalanan.

Terbesar

Gerbang Fang Cun membentang 10 m beralas beton. Dua penjaga berseragam biru dan beberapa polisi berhelm tampak ikut berbaur bersama pengunjung. Mereka mengawasi keamanan sekaligus mengamati tindak-tanduk orang asing. Saking tegasnya saat Trubus memotret tiba-tiba 2 polisi menghampiri, melarang Trubus mengabadikan suasana Fang Cun.

Dari gerbang sejauh mata memandang di sisi kanan terlihat toko aksesori akuarium seperti Resun dan Boyu. Jika menengok ke kiri berderet lapak-lapak penjual giok dan aneka buah tangan.

Fang Cun dibelah menjadi 6 bagian besar. Empat bagian di sebelah utara menempati lahan seluas 15 ha. Di sana terdapat ikan hias, tanaman air, dan satwa klangenan seperti anjing, burung, dan kucing. Sisanya di sebelah selatan dikhususkan bagi penjual tanaman hias seperti bonsai dan anggrek. Ikan hias dan aksesorinya menempati lahan terbesar seluas 10 ha.

Agar tertata rapi pengelola dari Departemen Perikanan Guangzhou membagi Fang Cun dalam blok-blok. Blok terdepan ditempati para produsen aksesori akuarium. Setiap blok diisi 6 produsen yang menempati areal 10 m x 5 m.

Di sanalah setiap produsen memanjang aneka aksesori seperti akuarium, aerator, selang, dan lampu. “Ini hanya showroom saja. Kalau ada pemesanan yang melayani kantor pusat,” ucap seorang staf Boyu pada Trubus lewat penerjemah. Pusat Boyu terletak di Raoping, Shantou, Guangzhou, sekitar 6 jam perjalanan darat dari Fang Cun.

Para produsen itu merasa wajib membuka perwakilan di Fang Cun. Pemerintah Cina memang membangun Fang Cun khusus sebagai sentra penjualan terbesar di Cina dengan akses transportasi memadai. Soal akses, Guangzhou malah mengalahkan Beijing sebagai ibukota negeri Tirai Bambu. “Semua penerbangan dari dan keluar Cina wajib melalui Guangzhou,” tutur Alen Li, manajer Boyu saat ditemui Trubus di Raoping.

Aneka ikan hias

Gerai ikan hias menempati 12 blok di bagian dalam. Penjualnya sampai melebar ke emper-emper toko layaknya pasar tradisional di tanah air. Setiap jenis ikan hias memiliki blok tersendiri. Maskoki, misalnya, menempati blok A. Di sana dijumpai sekitar 20 toko menjual beragam maskoki seperti oranda, lion head, tossa, dan ranchu.

Setiap toko rata-rata mempunyai 5—6 akuarium masing-masing berukuran 120 cm x 60 cm x 60 cm. Beberapa toko seperti Lan Hui Sui Zhu milik Wang Xu Xia malah memajang ikan di akuarium raksasa berukuran panjang 2,5 m. “Biar pengunjung tertarik dulu melihat. Setelah puas biasanya suka membeli,” ucap perempuan 30 tahun itu. Wang Xu ratarata menjual maskoki berukuran 5—8 cm seharga Rp20.000—Rp30.000/ekor.

Menurut Wang Xu rata-rata semua pemilik toko melayani permintaan ekspor. Namun, fungsi mereka sebetulnya kepanjangan tangan dari pemilik farm yang tersebar di seluruh Cina. Toko milik Wang Xu merupakan perwakilan dari sebuah farm maskoki di dekat Beijing.

Dari pengamatan Trubus, blok lain menyediakan ikan berbeda seperti koi, guppy, gurami hias, dan diskus. Beberapa toko juga menjual Botia macracantha asli Sumatera, berukuran sekepalan tangan orang dewasa. Menurut Ling Kung Ching, pemilik Zhi Yuan Aquarium di Blok N, minimal 150 jenis ikan dijual di Fang Cun. “Semua untuk ekspor. Dari yang kecil seperti tetra dan guppy hingga yang besar, arapaima, ada di sini,” ucap penjual khusus koi itu.

Yang menarik, beberapa ikan hias diperdagangkan di lapak-lapak berwarna ngejreng. Parrot, misalnya, jenis cichlasoma itu disuntik hingga corak tubuhnya berwarna-warni bak pelangi. Mereka ditaruh di dalam kantong plastik berkapasitas 20 l. Setiap kantong diisi 5—6 parrot sewarna berukuran 10 cm dan dijual seharga Rp75.000.

Murahnya harga ikan di Fang Cun memang menjadi daya tarik bagi pembeli. Namun, waspada jika memesan dalam jumlah banyak. “Hati-hati, karena seringkali barang yang dipesan saat datang tidak sesuai yang diinginkan,” papar Iskandar. Itulah sebabnya Is, sapaan akrab Iskandar, menaruh orang kepercayaan untuk mengawasi pengepakan hingga pengiriman.

Redup saat SARS

Berkeliling mengitari Fang Cun terasa menyenangkan. Ada saja hal-hal menarik yang ditemui seperti ketam hias. Berkarung-karung satwa bertubuh indah itu dibawa peternaknya lalu ditumpahkan ke wadah raksasa. Mereka dibiarkan berseliweran sebelum disapu untuk dikumpulkan lagi.

Teriakan-teriakan penjual tanaman air terdengar seperti di pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Mereka berderet sepanjang 100 m dengan baki biru berisi beragam tanaman air. Tangan pengunjung tak segan ditariknya.

Fang Cun memang selalu ramai setiap hari terutama akhir pekan. Namun, saat epidemi SARS (Severe Acute Respiratory Syndromme) mewabah. “Semua toko di sini nyaris tutup. Tidak ada yang beli,” ucap Wang Xu. Apalagi saat itu Guangzhou dianggap sebagai asal muasal SARS. Beruntung sejak travel warning dicabut bisnis ikan hias perlahan berdenyut kembali.

Meski demikian harga-harga ikan hias di sana belum kembali normal. Seekor ranchu dewasa yang dahulu dijual 1.000 yuan setara Rp1-juta, kini hanya dilego rata-rata 300 yuan setara Rp300.000. “Yang penting bisa laku dulu,” papar Ling Kung Ching. Tiga hari lamanya pusat belanja ikan hias itu ditelusuri. Di sana apapun jenis yang dibutuhkan senantiasa tersedia.***

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img