Friday, August 19, 2022

Tiga Komoditas Satu Biaya

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Membidik pasar modern, harga terung jauh lebih tinggi. (Dok.Trubus)

Menanam terung, buncis kenya, dan brokoli dengan biaya setara penanaman buncis saja. Biaya tetap, omzet berlipat dua.

Menumpangsarikan tiga komoditas, omzet Hendra Hermawan naik berlipat

Trubus — Hendra Hermawan menanam tiga komoditas sekaligus, terung, buncis kenya, dan kubis di lahan 800 m2 di belakang rumahnya. Ia tidak menanam sayuran-sayuran itu di lahan terpisah. Petani di Desa Cibodas, Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, itu menanam ketiganya di bedengan yang sama selebar 0,9 m dengan tinggi 20 cm dan panjang 3—10 m menyesuaikan bentuk lahan. Terung di tengah, buncis di keempat sisinya, dan kubis di keempat sudutnya.

Jarak antarterung 0,5 m dengan buncis di tengah-tengahnya. Dengan demikian jarak terung-buncis dan terung-kubis 0,25 cm. Alumnus Jurusan Administrasi Niaga Universitas Pasundan itu pertama kali menanam terung. Ketika terung berumur 15 hari setelah tanam (hst), ia menanam buncis dan kubis. “Ini sudah dua tahun,” kata Hendra Hermawan. Prinsipnya memaksimalkan tempat. Terung di atas, buncis kenya di tengah, dan brokoli atau kubis di dasar.

Dua kali lipat

Menurut Hendra alternatif lain, kubis ditanam pertama. Saat umur kubis 20 hari, buncis dan terung menyusul. Pada 45 hst, kubis panen. Buncis mulai panen pada umur 40 hari atau 60 hst kubis, sedangkan terung mulai panen umur 60 hari (80 hst kubis). Bedanya kubis hanya sekali panen, buncis dua hari sekali, dan terung setiap hari. Pekerja harian di tempat Hendra memanen buncis sampai tanaman berumur 70—100 hari (90—120 hst kubis), sedangkan panen terung sampai tanaman berumur 8 bulan (320 hst kubis).

Buncis kenya komoditas andalan Hendra Hermawan.

Hendra tidak menanami semua lahan di pekarangan 800 m² itu. Namun, ia menjadikan sebagian lahan sebagai tempat pengomposan. Total di sana ada 800 tanaman terung plus buncis dan kubis masing-masing 1.600 tanaman. Sekali memanen ia mendapat 300 kg kubis dari 1.600 tanaman, sekilogram berisi 5—6 buah. Ia menjual ke pasar modern Rp8.500 sehingga beromzet Rp2,55 juta dari kubis. Sementara itu dari panen selama enam bulan, bungsu dari tiga bersaudara itu mendapat 2 ton. Pasar modern membayar Rp5.500 per kg. Berarti ia mendapat Rp11 juta.

Andalan Hendra adalah buncis kenya. Harga jual Rp17.500 per kg dalam selubung plastik wrap. Dari 1.600 tanaman ia mendapat 850 kg sehingga buncis menyumbang omzet Rp14,8 juta. “Biaya pupuk, mulsa, pestisida, dan penyiraman sama kalau saya hanya menanam buncis,” kata petani rekan Hendra, Akbar Hadi Permana. Artinya terung dan kubis yang menyumbang omzet Rp11 juta dan Rp2,55 juta ibarat bonus gratisan.

Jumlah omzet kedua sayuran itu terpaut sedikit dengan buncis. Pendapatan Hendra yang hobi mancing itu naik hampir dua kali lipat. Omzet itu tercapai dalam delapan bulan. Jumlahnya berlipat tiga kalau Hendra memanjangkan umur tanam terung sampai dua tahun seperti di pekarangan. Di sana ia tidak perlu membayar sewa sehingga bisa nonsetop menanam. Sekitar dua kilometer dari sana, Hendra menanam di lahan sewa seluas 5.200 m².

Jumlah nutrisi

Di lahan itu ia mengganti kubis dengan brokoli. Harga jual di pasar modern Rp13.000 per kg. Jumlah tanaman delapan kali lipat sehingga omzetnya pun lebih tinggi karena minus biaya sewa tanah. Pemaksimalan ruang di bedengan itu jelas memerlukan asupan hara lebih banyak. Hendra tidak menambah jumlah pupuk, tapi menambah keragamannya. Ia membenamkan pupuk dasar berupa 150 kg kompos di setiap 10 m panjang bedengan. Kompos itu terdiri atas kotoran kambing, ayam, kotoran cacing (kascing), dan kompos daun. Perbandingan tiap jenis kompos itu setara.

Aroma daunnya tidak disukai hama seingga bawang merah kerap menjadi tanaman tumpang sari.

Pupuk susulan berupa 6,5 kg NPK 16:16:16. Ia melarutkan pupuk itu dalam 200 l air lalu mengocorkan ke perakaran 1—2 kali sepekan. Setiap tanaman mendapat 0,5—1 liter. Sebetulnya tidak sekadar memaksimalkan ruang, Hendra juga memaksimalkan harga. Ia menjual hasil panen ke pasar modern lantaran harganya berkali lipat pasar tradisional. Gambarannya, harga terung di pasar tradisional Rp800 per kg sementara di pasar modern Rp5.500 per kg.

Ia hanya perlu mengupayakan mutu hasil panen memenuhi kriteria pasar modern. Salah satu caranya membiarkan terung tumbuh tinggi agar terbentuk buah yang lurus. Buncis kenya hanya menggunakan benih F3 untuk mendapatkan buncis berkualitas. Ia memangkas daun dan tunas air tanaman terung agar sinar matahari mencapai buncis dan kubis atau brokoli. Penanganan hama penyakit pun menggunakan bahan berspektrum luas agar ia tidak perlu sering menyemprot.

Meski lebih mahal, pemakaiannya efisien karena dosis dan frekuensi lebih rendah. Hendra menyemprot hanya ketika serangan melampaui ambang. Guru besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Prof. Dr. Anas Dinurrohman Susila, M.Si. menyarankan agar tumpang sari memadukan tanaman yang memberikan manfaat untuk tanaman lain.

Contohnya menumpangsarikan cabai dan bawang merah. Aroma daun bawang merah menghalau hama cabai sementara pupuk untuk tanaman cabai menyuburkan bawang merah. Kacang-kacangan, seperti kacang panjang atau buncis, juga bisa menjadi komponen tumpang sari yang meningkatkan kesuburan tanah. (Argohartono Arie Raharjo)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img