Sunday, May 19, 2024

Tiga Kunci Hasilkan Porang Kualitas Tinggi

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id — Porang menjadi salah satu komoditas andalan ekspor ke pasar-pasar Eropa. Tentunya untuk menembus pasar Eropa, porang harus memenuhi kualitas standar yang dipersyaratkan.

Kualitas umbi porang bisa diukur dan dilihat dari kadar glukoman. Umbi porang kualitas tinggi umumnya mengandung glukomanan hingga 60%.

Bambang Subekti, pekebun porang di Desa Sukamanah, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, menyebutkan ada tiga kunci menghasilkan porang dengan produksi dan kualitas tinggi.

Persiapan lahan

Menurut Bambang, menyiapkan lahan itu layaknya menyediakan rumah bagi tanaman. Di mana, pekebun harus memastikan keadaan tanah.

Tanah harus gembur, banyak unsur karbon, dan porositas bagus sehingga oksigen bisa memasuki wilayah perakaran dengan baik.

Pupuk dasar penting diberikan sebagai bekal dukungan kehidupan tanaman. Jenis pupuk dasar berupa pupuk kandang atau kompos terfermentasi sempurna. Hal itu bertujuan agar mudah terurai dan menjadi nutrisi yang siap diserap oleh tanaman.

Secara ilmiah, pupuk kandang menyuplai lebih banyak unsur hara mikro seperti seng (Zn), besi (Fe), boron (B), dan molibdenum (Mo).

Bambang juga menyarankan pemberian pupuk 200 kg NPK per hektare. Tujuannya, untuk menyediakan unsur hara makro primer seperti nitrogen (N), fosfat (P), dan kalium (K) serta hara makro sekunder seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan sulfur (S).

Pemilihan bibit

Bambang menyebut banyak petani yang baru tanam porang gagal karena kurang memahami bibit. Menurutnya, bibit yang baik telah melalui satu siklus hidup porang (Oktober–Maret/April), baik katak maupun umbi sebagai bibit.

Namun, sebaiknya, katak tidak diambil paksa untuk dijadikan bibit. Tunggu sampai terlepas sendiri dari cabang dan biarkan di tanah selama satu bulan.

Secara umum, bibit (katak dan umbi) yang baik memiliki tekstur keras dan padat. Warnanya cokelat tua mengilap. Jika dikemas dalam pengiriman, bobot stabil atau tidak mengalami penyusutan, serta tidak ditumbuhi cendawan atau jamur. Bibit tersebut mampu bertahan untuk ditanam musim berikutnya.

Pemeliharaan yang baik

Pemeliharaan yang baik harus selalu menjaga kecukupan nutrisi dan air. Pemupukan susulan menyesuaikan fase pertumbuhan. Pada fase vegetatif, pemupukan dominan unsur N dan P.

Tanda tanaman sudah masuk fase generatif adalah ketika sudah muncul katak. Pada fase ini, pupuk yang diaplikasikan harus mengandung N dan K yang tinggi.

“Fosfat tetap dibutuhkan, tetapi dalam kadar rendah,” kata Bambang.

Tentukan umur panen

Rodiyati Azrianingsih, S.Si., M.Sc., Ph.D., peneliti porang di Pusat Penelitian dan Pengembangan Porang Indonesia (P4I), mengatakan, petani harus jeli menentukan umur panen.

“Umbi yang dipanen untuk diolah menjadi bahan pangan sebaiknya berumur lebih dari tiga tahun,” kata Rodiyati.

Menurutnya, pada umur tersebut, glukomanan tinggi dan kalsium oksalat rendah. Cara menentukan umur panen yakni dengan melihat tingkat percabangan tulang daun yang ditumbuhi bulbil.

Bila percabangan mencapai minimal tiga tingkat, pertanda umbi bisa dipanen. Ukuran umbi belum bisa dijadikan tanda umur masa panen. Hal ini karena meskipun umbi besar serta belum mencapai tiga tahun, biasanya rendemen rendah dan kandungan kalsium oksalat tinggi.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tiga Pilihan Mengolah Biji Ketumbar Praktis  

Trubus.id–Ketumbar berpotensi sebagai penurun gula darah. Hal itu sesuai peneliti di Laboratorium Farmakologi dan Toksikologi, Fakultas Farmasi Universitas Gadjah...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img