Monday, August 15, 2022

Tiga Provinsi, 2 Cerita Chokun dan Khiaowan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Citrus greening disease-di tanahair lebih dikenal dengan nama Citrus Vein Phloem Degeneration (CVPD), red-menyebabkan warna daun yang semula hijau berubah kuning. Daun terserang jadi lebih kaku, tebal, dan berdiri tegak. Tulang daun menonjol berwarna hijau gelap dan daun berwarna kuning. Pada intensitas serangan berat, ukuran daun mengecil dan menghasilkan buah yang kecil serta gagal matang-berwarna hijau. Risiko terbesar, tanaman mati.

Sementara Phytophthora parasitica menyerang bagian pangkal batang atau bagian sambungan antara batang atas dan bawah pada bibit jeruk asal okulasi. Kulit batang yang terserang permukaannya cekung dan mengeluarkan blendok. Pembusukan dimulai dari pangkal batang dekat permukaan tanah hingga titik okulasi. Bila bercak pada kulit melingkari batang, tanaman mati.

Akibat penyakit itu, banyak pohon jeruk chokun yang ditebang dan diganti tanaman lain seperti pisang namwa dan karet. Walhasil luas areal perkebunan jeruk di Kamphaengphet pun berkurang drastis tinggal ?-nya, 8-ribu ha. Sebagian besar jeruk yang tetap bertahan adalah khiaowan. Itu karena khiaowan lebih tahan terhadap hama dan penyakit serta biaya produksinya lebih rendah dibandingkan chokun. Selain itu, khiaowan lebih toleran terhadap perbedaan iklim, tanah, dan air.

Kamphaengphet

Kondisi itu membuat majalah pertanian Kehankaset di Thailand tergerak untuk menelusuri langsung ke daerah sentra. Pada perjalanan awal 2007 itu, 3 kebun di Kamphaengphet dikunjungi sebagai contoh kasus. Di kebun seluas 250 rai atau setara 150 ha milik Suwat Natrattana, 6.000 pohon chokun habis ditebang. Lahannya tengah dipersiapkan untuk ditanami khiaowan.

Pemandangan serupa terlihat di kebun Bunrat Mayam. Sekitar 9.000 chokun berumur 2,5 tahun di lahan seluas 180 ha ditebang dan digantikan khiaowan. Menurut Tim-sapaan Bunrat Mayam-menanam khiaowan lebih menguntungkan dibandingkan chokun. Dari khiaowan berumur 5 tahun, ia memanen 200 kg jeruk/pohon/tahun. Artinya, dalam 1 tahun diperoleh 1.800 ton jeruk. Dengan harga jual 5 baht/kg atau Rp1.375/kg, Tim meraih omzet Rp2,475-miliar/tahun.

Di kebun seluas 216 ha, Somchai Srisungsuk menanam pisang namwa dan pohon karet di sela-sela tanaman khiaowan. Padahal sebelumnya, Somchai menanam khiaowan seluas 30 ha dan chokun 180 ha. Kini 120 ha chokun telah beralih rupa menjadi khiaowan.

Chaiyaphum

Sebagian besar pekebun di Kampha engphet seakan berlomba untuk mengganti chokun dengan khiaowan. Namun, kondisi itu tak terlihat di 2 sentra jeruk di 2 provinsi di bagian timur laut Thailand: Chaiyaphum dan Loei. Di Chaiyaphum yang berjarak sekitar 300 km dari Bangkok, pohon-pohon khiaowan dan chokun berumur 4 tahun ditanam berdampingan di lahan seluas 11,2 ha milik Uraiwan Kewin.

Pemandangan serupa terlihat di kebun milik Siripong dan Sompop Choawjeen. Di kebun seluas 9,6 ha itu pemeliharaan malah dilakukan lebih intensif. Kebun di ketinggian 650 m dpl itu dilengkapi kolam air seluas 0,8 ha sebagai sumber air yang tak pernah kering. Sebelum penanaman, dilakukan analisis tanah agar diperoleh informasi tepat kandungan hara yang perlu ditambahkan.

Dua tahun setelah tanam, secara rutin dibenamkan pupuk organik dan kimia di bawah tajuk tanaman. Itu ditambah dengan penyemprotan pupuk daun 2 kali/bulan. Kerja keras Siripong dan Sompop itu membuat 90% buah yang dihasilkan mulus dan besar-besar. Harganya 30 baht/kg, setara Rp8.250/kg.

Loei

Di Provinsi Loei, terletak di utara Chaiyaphum, sebetulnya tak banyak ditemukan perkebunan jeruk besar Musababnya, wilayah Loei sebagian besar merupakan pegunungan. Kebun pertama yang dikunjungi, milik Chiyut Thepdulpitak di subprovinsi Wangsapung, terlihat pohon-pohon jeruk berumur 7 tahun di lahan seluas 19,2 ha. Sayang, produktivitas dan kualitas buah rendah. Seringnya turun hujan es dibarengi serangan citrus greening disease merusak buah.

Kondisi lebih baik terlihat di Phureur, subprovinsi lain. Daerah itu merupakan dataran tinggi dengan iklim hangat. Tak hanya jeruk, tanaman hias pun tumbuh baik. Ketika musim panen jeruk pada Desember-Januari, banyak turis-Phureur memang kota wisata-membeli buah dengan harga tinggi sebagai buah tangan.

Di kebun milik Tachapol dan Thunyadee Ruethawee seluas 32 ha suksesnya penanaman jeruk di Phureur terlihat jelas. Pohon berumur 8-9 tahun ditanam dengan jarak 4 m x 8 m di atas tanah liat berpasir dengan sumber air melimpah sepanjang tahun. Untuk meningkatkan kualitas buah, Ruethawee mengaplikasikan pupuk NPK dengan formula 13-13-21 sebanyak 6 kg/pohon/tahun atau sekitar 500 g per bulan.

Sebelum panen, tanaman dipupuk dengan NPK formula 0-0-52 dan pupuk daun. Pupuk organik diberikan setahun sekali sebanyak 1 karung/pohon. Pemangkasan rutin dilakukan setiap tahun. Jeruk yang dihasilkan sebagian besar dikirim ke pasar Mahanark dan Khonken. Sementara sisanya dijual di pasar lokal dengan harga sekitar 20 baht/kg, setara Rp5.500/kg.

Sekitar 90 km dari Phureur, terdapat kebun milik Natee Bundeeple, terletak di lereng gunung. Awalnya, pelopor pembentukan Deputy Dean of Architecture Faculty of Rangsit University itu menanam mangga namdokmai dan khioe sawoi pada 1988. Sayang, pasokan berlimpah membuat harganya turun. Walhasil pada 1994 mangga ditebang karena tak menguntungkan lagi. Natee mengganti dengan chokun.

Total populasi mencapai 4.000 pohon. Delapan puluh persen jeruk yang dihasilkan dikemas dan diantar langsung ke konsumen. Sisanya, dijual ke pasar swalayan dan pasar lokal. Dari 3 provinsi, ada 2 cerita tentang chokun dan khiaowan. (Atiphat Boonpermrasri dan Supanee Na Songkhla, wartawan majalah pertanian Kehankaset, Thailand)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img