Tuesday, August 9, 2022

Tiga Terpendam di Pulau Timah

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Bagi penikmat bonsai, keistimewaan Bangka bukan pada kekayaan timah dan kaolin di tanahnya. Di pulau itu hidup 3 tanaman endemik yang gagah dibuat bonsai: sapu-sapu, nasi-nasi, dan sekuncung.

 

Ketiga spesies asli Bangka dan Belitung itu memang istimewa. ‘Secara umum ketiganya berdaun kecil. Batangnya pun cocok dibuat bonsai,’ kata Huscen Achmad, trainer bonsai di Palmerah, Jakarta Selatan. Daun berukuran kecil disukai penggemar bonsai karena membuat sosok tanaman di pot proporsional seperti di alam. Ukuran daun pohon tua di alam memang jauh lebih kecil ketimbang sosok pohon keseluruhan yang meraksasa.

Menurut Budi Sulistyo, praktikus bonsai di Jakarta, sejatinya ketiga spesies endemik itu telah dikenal lama di dunia bonsai tanahair. Huscen mencatat, pada era 80-an, banyak sapu-sapu dan nasi-nasi yang dikirim ke Jakarta untuk dijadikan bahan bonsai. Sayang, sebagian besar bahan bonsai itu mati karena proses pemulihan gagal.

Munculnya sapu-sapu, nasi-nasi, dan sekuncung di Bali pada pameran 9th Asia Pacific (ASPAC) Bonsai and Suiseki Convention and Exhibition 2007 pada September 2007 seolah membuka ingatan para penggemar bonsai. ‘Meski tak juara, ketiganya menjadi model tanaman yang sehat dan terawat,’ ujar Budi. Sejak itulah ketiganya kembali menjadi buruan para kolektor bonsai. Teknik penanganan tanaman yang kian berkembang diyakini mampu mengatasi kesulitan adaptasi bakalan. Tanaman diadaptasi di pot di daerah asal, baru dikirim ke luar daerah setelah tumbuh stabil.

Daun jarum

Bahan bonsai yang paling fenomenal ialah sapu-sapu Baeckea frutescens. Ia berdaun jarum dengan jarak perantingan rapat, mirip cemara udang khas Pulau Madura. Julukan sapu-sapu disematkan karena masyarakat Bangka kerap menggunakan baeckea sebagai sapu. ‘Di Bangka lebih populer sapu-sapu ketimbang sapu lidi,’ tutur Irawan Asin, ketua Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Pangkalpinang.

Perakaran dan batang sapu-sapu pun istimewa. ‘Teksturnya kasar dan berkesan tua, mirip dengan pohon raksasa di alam,’ kata Andry Kurniawan, kolektor bonsai di Pangkalpinang. Di alam, junjung atap-sebutan lain sapu-sapu-tumbuh di atas tanah yang bercampur pasir kuarsa putih. Di wilayah pantai Pasir Padi, Bangka, hamparan sapu-sapu seluas 3 ha tumbuh bagaikan gulma. Di tepi hamparan sapu-sapu banyak ditemukan seduduk putih Melastoma sp.

Daun jarum baeckea mengeluarkan aroma wangi. K Heyne dalam Tumbuhan Berguna Indonesia III menyebut daun jarum itu pernah terkenal di Jazirah Malaka sebagai obat demam dan penat dengan nama daun cucur atap. Menurut Fredy Wiyanto, praktikus tanaman hias asli Bangka, sapu-sapu pernah populer sebagai penghias tepi dan pembatas jalan di Pangkalpinang pada era 80-an. Itu karena kerabat jambu air itu tajuknya cantik dan beraroma wangi.

Kompak

Yang juga tak kalah gagah ialah nasi-nasi. Disebut demikian karena buah berwarna putih seperti nasi. Rasa buah agak masam dan kesat. Nasi-nasi Syzygium buxifolia disukai sebagai bahan bonsai karena ukuran daun kecil, tajuk kompak, dan batang kokoh. Nasi-nasi tumbuh di tanah yang bercampur pasir berwarna kekuningan dan dekat rawa. Namun, di Tuing, Sungailiat, hamparan nasi-nasi tumbuh berdekatan dengan sapu-sapu. Itu karena wilayah tersebut peralihan antara tanah berpasir kuarsa dengan pasir kuning yang dekat rawa.

Bahan bonsai yang juga potensial ialah sekuncung. Bentuk daun seperti jarum, mirip sapu-sapu. Makanya komunitas bonsai di Pangkalpinang menyebutnya sebagai sapu-sapu laki-laki. Ia banyak ditemukan sebagai tanaman pagar di rumah-rumah penduduk di Jalan Raya Belinyu, Sungailiat. Namun, menurut Irawan, sekuncung memiliki kelemahan yang sulit diatasi. ‘Bila percabangan dipangkas, tunas baru sulit sekali tumbuh,’ katanya.

Toh, Trubus melihat sebatang sekuncung-yang telah dibentuk berundakundak mirip cemara udang-tumbuh di pekarangan rumah penduduk. Artinya, meski sulit, cabang yang telah dipotong mampu memunculkan tunas. Dari Pulau Timah 3 harta terpendam itu siap diolah jadi bonsai istimewa. (Destika Cahyana/Peliput: Nesia Artdiyasa)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img