Monday, November 28, 2022

Tiga Wajah Terimut Seantero Jagat

Rekomendasi

Tubuh lemahgemulai, rambut terpuntir ke belakang, dan kawat hitam melekat di gigi. Wajah Somad kemudian berubah sedikit maskulin sebelum total menjadi pria macho. Rambut kelimis, tubuh kekar, dan tegap. Gara-gara wajah baru itu suami aktris Dian Nitami jadi rebutan gadis-gadis.

Kisah Somad di sinetron yang kini dibuat jilid ke-2 itu mirip kisah perjalanan sosok serama di Malaysia. Sejak pertama kali diperkenalkan pada 1990-an di kontes ayam hias di Bukit Batu Pahat, Perlis, Malaysia, sampai menginjak pertengahan 2003, sang ayam liliput itu sudah 3 kali bersalin rupa. Seperti Somad yang bersalin macho, serama super A, generasi terbaru menjadi buruan kolektor mancanegara.

Setiap generasi yang diciptakan, sosok dan bobot ayam liliput itu semakin kecil. “Saat ini generasi terbaru, serama super A sudah berbobot 250—300 gram,” ujar Albert Tan, pengasuh situs serama.com. Serama super A diakui yang terkecil di dunia. Jantan berbobot lebih besar dibanding betina dan tinggi 20—25 cm. Betina lebih pendek, 18—20 cm. Bandingkan dengan ayam katai jepang yang berbobot lebih dari 4—5 kali lipat, 1,25—1,5 kg dan tinggi 30—35 cm.

Generasi terbaru

Kehadiran generasi terbaru itu langkah maju dalam perkembangan serama di Malaysia. “Bertambah kecil bukan berarti cebol, tapi tetapproporsional,” ujar The Leong Toh penangkar di Pulau Penang, Malaysia. Buktinya, penampilan serama tetap gagah dengan dada membusung bak kesatria. Dengan tubuh kecil, ekor lawi (ekor pedang, red) ayam liliput itu tampak kian menjulang.

Generasi terbaru itu silangan dari sesama serama pilihan. “Jantannya berasal dari Sri Selangor dan betina anakan Sri Penang,” ujar Albert Tan. Sepasang induk itu legendaris di zamannya. Di saat jaya, Sri Selangor merengkuh 26 kampiun di berbagai arena kontes. Sri Penang mengoleksi 16 gelar.

Sri Selangor menitiskan ukuran tubuh dan bobot yang kecil. Keturunan betina Sri Penang mewariskan keunggulan corak tubuh. Maklum semasa hidup Sri Penang memiliki corak bulu terang menawan bak lukisan. Corak tubuh perpaduan kuning keemasan dan merah serta hitam. (baca: 1001 Warna Serama:“Yang di Indonesia Tak Dilirik Lagi” hal 26 ). Itu berbeda dengan generasi pertama yang didominasi corak red jungle fowl, merah—hitam—cokelat . Keistimewaan lain, Sri Penang memiliki dada menonjol.

Bobot dan tinggi

Menurut Chooi—sapaan akrab The Leong Toh—perbedaan antargenerasi serama sebetulnya berkutat pada ukuran bobot dan tinggi. Serama generasi pertama yang diciptakan pada 1990-an berbobot 500 gram dan tinggi 25 cm. Serama yang kemudian disebut serama B itu kini mulai merambah di tanah air. Serama B memiliki kaki lebih panjang dan sayap mengantung. “Di sini dipanggil sebagai serama kapan (kaki panjang, red),” tutur ayah 2 putra itu. Di Malaysia, serama kapan sudah ditinggalkan.

Persilangan selanjutnya menghasilkan serama A yang mencapai bobot dibawah 300 gram dan tinggi 20—22,5 cm. Selama 1995—2002 serama berkaki pendek dan sayap tak menggantung itu sangat populer. Bila diperhatikan, sayap serama A sudah tersampir di sisi tubuh seolah menutupi kaki. Sosok tubuh pun sedikit berubah. Kepala lebih tertekuk ke belakang lantaran dada membusung. “Serama A banyak dimiliki oleh hobiis di sini,” ujar Khor Ah Peng Ketua perkumpulan serama di Kedah, Malaysia.

Sedikitnya penangkar penghasil serama super A di Malaysia diakui Chooi lantaran sulit mendapatkan induk berkualitas. Kalaupun bisa, harga indukan menjulang tinggi. Saat Trubus berkunjung ke farm Chooi akhir Juni 2004, pembeli asal Inggris berani memborong 7 serama super A seharga masing-masing £500 setara Rp9-juta per ekor. “Cukup mahal tapi dia mau,” ujar Alber Tan.

Toh meski serama super A di Malaysia masih terbatas, upaya penciptaan serama yang lebih kecil malah terus dilakukan. “Kami sudah menyeleksi beberapa induk untuk mendapatkan serama berbobot 200—250 gram dan tinggi 15 cm dalam 2 tahun ke depan,”ujar Chooi. Jika itu betul-betul terjadi sebutan serama raja pun akan disematkan pada generasi paling anyar itu. (Dian Adijaya S)

Sri Selangor Biang Serama Super A

Dialah cikal bakal terciptanya serama super A,” tutur Albert Tan pada Trubus menunjuk foto seekor serama di kliping koran lokal. Kelahiran Pulau Penang 42 tahun silam itu ingat benar, Sri Selangor ditelurkan dari sepasang serama generasi ke—2 pada 3 Juni 2000 bersama 4 saudara lain. Sayang 2 jam setelah telur keluar, sang ibu tak sudi mengerami telur berbobot masing-masing 12 gram itu. Semua kemudian ditetaskan dalam inkubator.

Sejak berumur 1—3 bulan Sri Selangor tumbuh seperti saudara lainnya. Menurut The Leong Toh yang setiap hari mengamati pertumbuhan Sri Selangor, perubahan fisik ayam yang pernah ditawar RM25.000 itu terlihat menginjak umur 5 bulan. “Tubuhnya tampak lebih kecil. Sampai umur 8 bulan tubuh tetap kecil dengan bobot 300 gram dan tinggi 9 inci,” ujar Chooi sapaan akrab The Leong Toh.

Keistimewaan lain corak warna sangat sempurna terdiri dari 5 warna seperti hitam, merah, cokelat, dan putih. Dalam berjalan pun Sri Selangor memiliki kharisma tersendiri. Tanpa perlu digoda, sang ayam liliput berjalan tegap dengan dada membusung bak kesatria saat dilepas di halaman.

Prestasi Sri selangor pun mengkilap. Saat pertamakali turun gelanggang di Polis Diraja Kontingent Selangor Serama Competition di Kuala Selangor pada 18 Mei 2001 ia meraih Best In Show setelah mengungguli 25 pesaing lain. Setelah menang, sang ayam liliput yang sebelumnya tak bernama itu kemudian diberi julukan Sri Selangor alias raja dari selangor.

Selama kurun 3 bulan kemudian, serama asal Pulau Penang itu terus merajai kontes di berbagai kota di Malaysia mulai dari Kelantan, Kedah hingga Kuala Lumpur. “Sampai Agustus 2001 tercatat 26 juara sudah dikoleksi,” ujar Albert. Sayang kondisi kesehatannya terus menurun pascakampiun di kontes serama di Sungai Petani pada 11 Agustus 2001. Sejak saat itu Sri Selangor pun dikandangkan untuk dipakai sebagai indukan.

Beruntung anakcicitnya mewariskan ukuran tubuh Sri Selangor. “Mereka disilangkan secara line breeding lagi untuk mendapat serama super A berukuran dan berbobot lebih kecil lagi,” ujar Albert. Sang moyang, Sri Selangor menghembuskan nafas pada pertengahan 2002. (Dian Adijaya S)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img