Friday, August 12, 2022

Tinggi Produksi Jambu Citra

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Hasil panen jambu citra diangkut dengan perahu seng.
Hasil panen jambu citra diangkut dengan perahu seng.

Panen 400 kg jambu citra dari sepohon di Thailand. Produksi di Indonesia per pohon 100—200 kg.

Wajah Kunnapha Songchai amat cerah. Perempuan pekebun di Ban Phan Peao, Provinsi Samut Sakhon, 1,5 jam bermobil dari Bangkok, Thailand, itu baru saja memetik ribuah jambu citra. Ia menyebut jambu berdiameter 5—6 cm, berbentuk lonceng, warna merah membara, itu thab thin chan. Citra nama asli jambu air dari Indonesia. Tekstur lebih renyah dan lebih manis.

Songchai girang karena produktivitas tanaman anggota famili Myrtaceae itu fantastis: 400 kg per pohon. Bandingkan dengan produksi pekebun di Indonesia yang hanya setengahnya, yakni 100—200 kg per pohon. Songchai memanen buah 2—3 kali setahun dari kebun seluas 21 rai atau sekitar 3,2 ha. Ia menyewa kebun itu 20.000 bath setara Rp8-juta per tahun sejak 2005. Biaya sewa itu cukup ditutup oleh tanaman sampingan di pinggir kebun, seperti nangka, pisang, dan lengkeng.

Bakal buah yang melekat di batang lebih berkualitas karena lebih besar dan manis.
Bakal buah yang melekat di batang lebih berkualitas karena lebih besar dan manis.

Buah kering
Suaminya, Suthep Kasetsongchai, dan putri tunggalnya, membantu mengelola kebun itu. Pekerjaan seperti memupuk dan menyemprot pestisida ditangani mereka plus 6 tenaga kerja tetap. Adapun pekerjaan lain seperti membungkus dan memanen buah serta memangkas cabang diborongkan kepada buruh harian.

Songchai memerlukan 40—50 tenaga kerja per hari untuk membungkus buah. Seorang pekerja hanya mampu membungkus buah jambu citra 2—3 pohon setiap hari. Songchai dan para pekerja sedang membersihkan buah hasil panen pagi itu. Mereka mengelap buah satu per satu dengan kain agar kering. Mula-mula mereka melepas plastik bening pembungkus yang menyebabkan buah berkeringat.

Kemudian mereka menyusun buah bersih dan mengilap dalam kotak stirofoam berukura 60 cm x 40 cm x 40 cm. “Buah harus kering agar tidak busuk hingga habis terjual,” ujar perempuan 58 tahun itu. Belum selesai membersihkan buah yang menghampar di lantai, seorang pemanen datang membawa seperahu buah jambu berisi belasan ember. Pengangkutan di kebun itu memang menggunakan perahu seng berukuran 5 m x 1 m.

Dari kebun 3,2 ha, Kunnapha Songchai mendapat Rp400-juta per musim.
Dari kebun 3,2 ha, Kunnapha Songchai mendapat Rp400-juta per musim.

Belasan ember dari perahu pun segera memenuhi ruang sortir di bawah rumah panggung itu. Kegiatan pascapanen itu berlangsung hingga sore. Bagaimana cara Songchai menghasilkan jambu citra bermutu dan berproduksi tinggi? Menurut konsultan pertanian, Narin Watana Anurak, wilayah Samut Sakhon rendah dan kerap tergenang air. Untuk mengatasi air yang menggenang, warga membuat saluran air.

Tanah hasil galian saluran air itu untuk mempertinggi bedengan. Dengan demikian jambu citra bebas genangan. Sementara itu air di saluran sedalam 100 sentimeter menjadi “jalan” bagi perahu ketika pekebun mengontrol kesehatan tanaman atau panen. Faedah lain menjadi sumber air saat kemarau. Songchai membuat bedengan selebar 6 meter dan panjang 100–110 meter.

Kunnapha Songchai (berbaju merah), pekebun jambu citra di Provinsi Nakon Sakhon.
Kunnapha Songchai (berbaju merah), pekebun jambu citra di Provinsi Nakon Sakhon.

Ketinggian bedengan dari permukaan air mencapai 0,5 meter. Jarak antarbedengan 2 meter. Selain saluran air, sebenarnya tidak terlihat pekerjaan atau teknologi istimewa di kebun itu. Songchai menanam bibit jambu citra di tengah-tengah bedengan. Jarak antartanaman 6 m. Artinya setiap bedeng terdiri atas 18 tanaman. Pohon berumur 10 tahun itu hanya setinggi 2 meter. Batang dan ranting terlihat jelas.

Itu menandakan Songchai rutin memangkas cabang dan ranting. Ketua kelompok tani yang menemani Trubus, Somsak Thongkum menuturkan, pemangkasan rutin tiap tahun agar sinar matahari tetap masuk dan menyinari batang, cabang, dan bunga atau buah. Pemangkasan tidak boleh terlalu banyak karena membuat warna buah pucat. Pemangksan rutin membuat tinggi daun lebar tajuk terjaga 3 m dengan cabang dan ranting kekar.

Tanda buah matang yaitu lubang di dasar jambu terbuka penuh.
Tanda buah matang yaitu lubang di dasar jambu terbuka penuh.

Songchai membiarkan daun hasil pemangkasan menjadi penutup tanah yang menghalangi tumbuhnya gulma. Setelah lapuk, daun pun menjadi pupuk organik. Di dahan dan ranting itu puluhan dompolan bunga jambu melekat secara bergerombol. Buah yang muncul di batang kualitas baik karena besar dan manis. Somsak Thongkum mengemukakan dari dompolan itu, pekebun mempertahankan 4—5 bunga. Jika pekebun mempertahankan semua bunga, “Buahnya pasti kecil-kecil. Di sini buah itu tidak laku dijual,” kata Thongkum.

Atur panen
Di Samut Sakhon jambu air berbuah pada Maret—April serta Oktober—November. Songchai menghindari panen pada April—Mei, karena saat itu musim panen durian, rambutan, dan manggis. Konsumen lebih suka mengonsumsi ketiga buah itu. Jadi jambu pun diistirahatkan berbuah sekaligus menyehatkan tanaman.

Bungkus buah dengan plastik buram. Bagian dasar harus dilubangi agar keringat jambu terbuang.
Bungkus buah dengan plastik buram. Bagian dasar harus dilubangi agar keringat jambu terbuang.

Setelah kondisi tanaman pulih, ia kembali memberi pupuk NPK 15:15:15. Pemupukan berikutnya sebulan kemudian, dengan kandungan kalium tinggi, yakni menjelang tanaman berbunga dan berbuah. Setelah panen, ia mempupuk NPK 16:16:16. Pemupukan dilakukan sendiri oleh anggota keluarga dengan memakai perahu. Mereka menghamburkan pupuk di tanah di bawah tajuk. Dalam setahun ia 4 kali memupuk.

Untuk menyiasati harga pupuk majemuk NPK yang tinggi, Songchai meramu 3—4 jenis pupuk. Ia menggunakan pupuk dengan kandungan 46—0—0, 18—46—0, dan 0—0—60, serta menambahkan suplemen yang mengandung mineral silika dan asam amino. Dengan melakukan pencampuran pupuk itu, Songchai menghemat 500 baht setara Rp200.000 per karung.

Dengan rajin memangkas, tanaman jadi pendek,sehingga memudahkan panen.
Dengan rajin memangkas, tanaman jadi pendek,sehingga memudahkan panen.

Menurut pakar buah-buahan di Bogor, Jawa Barat, Dr Mohammad Reza Tirtawinata pencampuran seperti itu riskan dilakukan di Indonesia. Sebab, kandungan pupuk berbeda dengan di Thailand. Selain itu pupuk sejenis sulit ditemukan di Indonesia. Setelah berbunga dan jadi buah, Songchai menghadapi kendala besar yakni serangan lalat buah. Serangga itu menusukkan ovipositor di permukaan buah untuk menyimpan telur.

Untuk mengatasinya ia membungkus buah saat sebesar kelereng atau 28 hari setelah penyerbukan. Namun, ia tidak membungkus semua buah, hanya 50—60%. Artinya ada 40—50% buah tidak dibungkus plastik. Menurut Songchai dengan membiarkan sebagian buah terbuka, ukuran lebih besar dan lebih manis karena buah membantu fotosintesis. Ia tidak khawatir lalat menyerang buah itu karena masih ada penjebak lalat di setiap pohon. Agar buah manis secara merata, maka dahan yang merunduk harus ditopang kayu atau bambu. Tujuannanya agar buah di area itu dapat menerima sinar matahari.

Topang cabang denga kayu agar buah dapat menerima sinar matahari.
Topang cabang denga kayu agar buah dapat menerima sinar matahari.

Penangkap lalat itu berisi hormon yang mengandung metil eugenol yang merangsang lalat masuk botol. Songchai memanen jambu citra saat rekahan di bagian bawah buah telah berlubang penuh. Sebanyak 50% hasil panen merupakan kelas A berbobot 120—160 gram atau sekilogram terdiri atas 6—8 buah, warna merah terang, dan berbentuk lonceng proporsional. Adapun buah kelas B (bobot 100 gram atau sekilogram terdiri atas 8—10 buah atau lebih kecil, hanya 30%.

Songchai menjual buah kelas A 70 baht setara Rp28.000 per kg. Sementara harga buah kelas B 50 baht atau Rp20.000 per kg. Kedua kelas buah itu memasok pasar Tiongkok. Importir datang langsung ke kebun Songchai dan mengemas sendiri. Itu berlangsung sejak 10 tahun lalu. “Saya tahunya terima duit,” kata Songchai semringah.

Puluhan ember berisi buah siap dikirim ke Tiongkok.
Puluhan ember berisi buah siap dikirim ke Tiongkok.

Adapun kelas C berbobot 80–100 gram per buah mengisi pasar domestik. Harga jualnya 20—25 baht atau Rp5.000—Rp6.000 per kg. Dari penjualan jambu tongsamsie, ia menerima 1-juta—1,5juta baht atau sekitar Rp400-juta—Rp600-juta per tahun. Itu karena produktivitas jambu citra di kebun Songchai tinggi. Selain itu kualitas pun menjulang. (Syah Angkasa)

 

Malformasi Citra

Pekebun di Ban Phan Peao, Provinsi Samut Sakhon, Kunnapha Songchai, lazimnya memetik buah jambu citra berbentuk lonceng sesuai permintaan pasar. Namun, kadang-kadang ia memanen jambu citra lonjong. Jumlahnya memang amat kecil. Daging buah lonjong cenderung kurang padat karena bagian dalam masih ngapas. Warnanya pun kecokelatan.

Daging buah jambu citra yang lonjong bertekstur "ngapas"
Daging buah jambu citra yang lonjong bertekstur “ngapas”

Di balik kelemahan itu sejatinya buah lonjong lebih manis. Masyarakat Thailand lebih menyukai bentuk lonceng karena daging lebih padat dan warna lebih merah cerah. Bentuk lonjong diduga karena buah itu menerima sinar matahari lebih banyak daripada yang lain karena umumnya berada puncak tanaman. Setelah melihat bagian dalam buah lonjong, ahli buah di Bogor, Dr Mohammad Reza Tirtawinata menduga buahnya lebih manis karena bagian daging berwarna hijau cukup tebal. Itu adalah ciri buah yang manis karena ikut melakukan fotosintesis. (Syah Angkasa)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img