Trubus.id–Mengolah buah naga afkir menjadi aneka produk meningkatkan nilai tambah. Itulah yang tengah ditekuni Nursamsih. Ia mengolah buah naga menjadi dodol.
Warga Desa Silirbaru, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi, itu mencampur 12—36 kg buah naga merah dengan 1—3 kg tepung ketan. Sekali proses, ia menghasilkan 5—15 kg dodol buah naga yang memiliki masa simpan 2 pekan pada suhu ruang.
Begitupun dengan Ella Defi Lestari ia mengolah buah naga afkir dari Kecamatan Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur untuk olahan minuman buah naga. Konsepnya ia memanfaatkan buah yang kurang layak jual tetapi masih layak makan.
Buah naga yang digunakan merupakan buah yang tertusuk atau berkarat. Buah itu tidak laku dijual karena rentan busuk. Harganya pun lebih murah mencapai Rp5.000 per kg. Bandingkan dengan buah naga segar Rp20.000 per kg. Ella rutin membeli 10 kg buah naga per 2 pekan.

Menurut periset dari Pascasarjana Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Lampung, Nur Rohmatul Aini, produsen olahan buah naga perlu mengembangkan teknologi agar kualitas produk lebih baik.
Perhatikan juga untuk keawetan dan masa simpan produk olahan. Nilai produk juga semakin baik jika ditunjang dengan kemasan yang menarik. Produk olahan buah naga dapat menjadi ciri khas dari daerah tertentu.
Selain dapat mengurangi tingkat konsumsi masyarakat terkait barang impor, adanya olahan buah naga menciptakan lapangan kerja baru.
