Saturday, June 22, 2024

Tiram Jika Washington Pindah ke Cisarua

Rekomendasi
- Advertisement -

Pemandangan di kumbung tiram milik Mamat Rahmat itu kontras sekali dengan panorama isi kumbung tiram putih lain. Rumah jamur alias kumbung lain dihuni lebih dari 5.000 baglog yang ditumbuhi pinhead mini bergaris tengah 5—10 cm.

Tiram Pleurotus ostreatus dalam kumbung ukuran 10 m x 5 m di desa Cisarua, Cimahi, Jawa Barat, itu memang tampil beda. Selain tudungnya yang luar biasa lebar, dagingnya yang empuk pun tebal, sampai 5 cm. Bobotnya rata-rata 2—3 ons per tudung, lebih berat daripada tiram konvensional yang cuma 0,5 ons. Mamat Rahmat mendatangkan tiram jumbo itu dari Washington, Amerika Serikat, setelah menjelajah internet pada Januari 2005.

Setelah transaksi via internet senilai US$ 34, sekitar sepekan kemudian sebungkus sample berisi 10.000 bibit tiba di Cisarua. Bibit berbentuk kapsul diselimuti kapur kemudian diinokulasikan ke dalam baglog yang diletakkan di kumbung tiram lain.

Sebulan panen

Awalnya alumnus Universitas Bandung Raya itu menginokulasikan bibit ke dalam botol. Menurutnya cara itu akan mengurangi tingkat kegagalan karena botol cenderung aman mengatasi perubahan lingkungan. Dua minggu setelahnya miselium mulai tumbuh. Saat itulah pearl oyster itu diinokulasikan ke dalam baglog.

Selang seminggu kemudian tiram itu dipindahkan ke kumbung bersuhu 24—28oC dan kelembapan 80%. Tiram asing itu memang hebat. Ia langsung memunculkan pinhead saat miselium mulai tumbuh.

Umumnya bibit tiram menjalani masa penebalan miselium selama 6—8 minggu sebelum menumbuhkan tudung. Namun, tiram washington enggan berlama-lama menunggu masa itu. Sang pendatang bisa dipanen perdana setelah sebulan dari masa inkubasi. Bahkan ada yang bisa dipetik kurang dari 30 hari. Ini lebih cepat daripada tiram biasa yang berproduksi 40—60 hari setelah masa inkubasi yang memakan waktu 6—8 minggu.

Di tempat Rahmat satu baglog memunculkan 3—4 tudung tiram washington berbobot rata-rata 2—3 ons per tudung. Dari baglog berbobot 1,5 kg bisa didapat 1,1—1,2 kg jamur segar dengan tingkat keberhasilan 70—80%. “Saya tidak menyangka tiram itu bisa tumbuh sampai ukuran jumbo,” tutur pria 39 tahun itu takjub.

Soal perawatan, jamur dari Amerika itu tak rewel. Cukup diperlakukan seperti tiram umumnya yang sehari-hari mesti diberi pengembunan. Apalagi iklim di Cisarua yang berada di kisaran suhu 24—28°C sangat kondusif. Hanya saja, demi efektivitas produksi baglog mesti diregenerasi selepas 4 bulan. “Secara umum perawatan sama dengan tiram biasa,” tutur ayah 3 putra itu. Karena diameter lebih besar, populasi baglog per m2 pun dikurangi. Bila tiram umumnya bisa mencapai 25 baglog per m2, tiram washington hanya 10—15 baglog per m2.

Belum banyak yang mengenal pendatang dari Amerika itu. Pantas jika Mamat membandrol harga serupa tiram biasa untuk si jumbo itu. Dengan biaya produksi yang sama, budidaya tiram washington lebih menguntungkan sebab produktivitasnya lebih tinggi.

Kini kumbung berukuran 10 m x 5 m itu dihuni 10.000 baglog tiram washington yang sudah beberapa kali panen. Bila musim petik tiba, rak-rak dalam rumah tanam jamur itu layaknya dinaungi payungpayung mini yang menggiurkan.

Unggulan lain

Sejak 1998 Bahril Ulum, pekebun jamur di Gadog, Bogor, menyilangkan tiram asli Cina, Th ailand, dan India. Lima tahun berselang, tepatnya awal 2003, tiram grandmaster yang berhasil diadaptasikan di dataran rendah—menengah terlahir dengan kombinasi sifat baik induknya yang stabil. Sekarang Pleurotus ostreatus varietas grandmaster dikebunkan di Gadog, Bogor.

Mulanya Bahril kecewa dengan bibitbibit tiramnya yang diimpor dari India dan Cina. Meskipun bisa mencapai diameter 15 cm, tiram dari 2 negara itu lembek dan tipis sehingga mudah rusak. Apalagi jamur itu rakus air, sehari saja terlambat siram, jamur bakal kering.

Setahun kemudian, mantan pegawai bank swasta nasional itu beralih menumbuhkan tiram asal Th ailand yang kondang tebal dan tak mudah rusak. Namun, kekecewaan kembali dirasakan. Tiram Th ailand sukar tumbuh dan sulit beradaptasi. Otomatis produksi pun rendah. Bahril kemudian menyilangkan ketiga jenis jamur itu. “Saya ingin menggabungkan sifat-sifat baiknya,” tutur pria murah senyum itu.

Kini, ia bisa tersenyum cerah. Varietas yang diberinya nama grandmaster terbukti adaptif di tempat yang tinggal berketinggian 600 m dpl. Grandmaster juga istimewa lantaran genjah. Hanya dalam 25 hari selepas masa inkubasi, baglog tempat tumbuhnya telah dipenuhi tudungtudung kecil siap petik. Dengan masa penebalan miselium 2 hari, grandmaster mulai memunculkan pinhead setebal 3 cm. Dengan kelebihan itu, sang jamur tak akan mengalami kendala pengangkutan dan tak mudah rusak.

“Apalagi kalau suhu dijaga 24oC dan kelembapan 80%, jamur akan tumbuh optimal,” papar Bahril. Menurutnya grandmaster memang diperuntukkan bagi pekebun jamur di dataran rendah—menengah.

Di tempat Bahril satu baglog memunculkan lebih dari 18 tudung tiram. Dari baglog berbobot 1,25—1,30 kg bisa didapat 0,5—0,6 kg jamur segar dengan tingkat keberhasilan 80—100%. Ketika panen, risiko rusak saat simpan bisa dikurangi. Sebab grandmaster tahan simpan hingga 4 hari di luar ruang pendingin. “Warnanya putih cerah dan tak mudah menguning,” ujar Bahril.

Pengembunan mutlak dilakukan. “Bila ada tanda-tanda hama segera disingkirkan,” ujar pria kelahiran Bogor itu. Untuk produksi optimal, baglog mesti diregenerasi 4 bulan sekali.

Soal rasa, grandmaster jagonya. Aromanya harum, rasa legit, gurih, dan renyah. Tak heran grandmaster menjadi incaran pecinta jamur. (Hanni Sofi a)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Berbisnis Olahan Bayam, Anak Muda Asal Tasikmalaya Raup Omzet Puluhan Juta

Trubus.id—Bayam tidak hanya menjadi sumber zat besi, tetapi juga bisa menjadi sumber cuan bagi  Filsya Khoirina Fildzah, S.Kep., Ners...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img