Tuesday, November 29, 2022

Tjhin Tjong Yen Rp 2-miliar untuk Bonsai

Rekomendasi

’’Bayangkan harga sebuah bisa mencapai Rp200-juta,’’ kata bos tembakau itu sambil menunjuk bonsai asam jawa berumur 25 tahun.

Bukan hanya itu koleksinya. Masih ada kimeng dan hokianti yang nilainya setara dengan asam jawa. Ketiga koleksi Tjhin Tjong Yen itu merupakan bonsai-bonsai terbaik. Mereka kerap jadi langganan the best ten di ajang lomba dan pameran nasional. Bonsai-bonsai itu berumur puluhan tahun. ’’Awalnya jelek, tapi saya rawat sehingga tampak seperti sekarang,’’ ujar suami Agustina Terutama itu.

Asam jawa bergaya tegak informal itu hidup di atas batu. Bentuk melintir, komposisi antara batang dengan cabang serasi. Prestasi yang diraih antara lain bonsai terbaik pameran nasional 1999 di Malang dan meraih top ten di pameran nasional 2000 dan 2002. Padahal ketika dibeli pada 1993 kondisi Tamarindus indica itu bentuknya tak beraturan. Saya lihat potensi cukup besar, maka langsung dibeli seharga Rp75-juta,’’ jelasnya.

Buah kegilaan

Di tengah-tengah kesibukannya sebagai pengusaha tembakau, setiap pagi sambil mengisap rokok, Tjhin Tjong Yen mengamati bonsai-bonsainya di halaman belakang. Baru selepas pukul 8.30 ia berangkat ke kantor. Tengah hari mengontrol koleksi bonsai lain di kantor. Usai aktivitas bisnisnya rampung, ayah 2 anak itu kembali menikmati keindahan bonsai di rumah.

Di halaman belakang rumah ada 30 bonsai. Ratusan koleksi lainnya diletakkan di gudang PT Matratama Manunggaljaya, miliknya. Dia juga masih mempunyai 50 koleksi yang ditempatkan di rumah mertua di Semarang. Jumlah bonsai yang demikian banyak itu buah dari kegilaan yang berlangsung 25 tahun. ’’Kalau sudah hobi, saya tidak tanggung-tanggung. Bagi saya bonsai sebagai ekspresi diri dan untuk menghindari stres,’’ ujar bungsu 8 bersaudara itu.

Walau sudah ditekuni sejak 1978, Tjong Yen—sapaan akrabnya—terjun ke lomba baru pada 1997. Ketika itu kimeng miliknya berhasil masuk 10 besar pada lomba yang digelar Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI). Sejak itu Ficus retusa menjadi langganan bonsai terbaik. Termotivasi gelar juara yang diraih akhirnya Tjong Yen getol mengikuti berbagai pameran dan lomba bonsai nasional. Dalam kurun waktu itulah berbagai prestasi ditorehkan.

’’Pembentukan bonsai saya lakukan sendiri. Tapi perawatan sehari-hari diserahkan pada pegawai. Kita tinggal beri instruksi saja,’’ ujar pria yang gemar melukis itu.

Berburu bakalan

Hasratnya pada bonsai membuat Tjong Yen rajin berburu ke berbagai daerah seperti Surabaya, Madura, dan Jakarta. Taiwan pun tak luput dari sasaran perburuan. ’’Saya hanya berburu bakalan. Jarang beli yang sudah jadi dan juara. Ada kepuasan tersendiri bila bakalan yang kita rawat menjadi bonsai terbaik,’’ kata pria bertubuh tinggi itu.

Memang untuk mencetak bonsai berkualitas butuh waktu lama. Misalnya kimeng dan kawista butuh waktu 5 tahun hingga siap lomba. Bakalan bonsai itu baru ia beli seharga Rp50-juta per buah. Bonsai bergaya natural itu punya bentuk batang dan ranting yang alami. ’’Kesan tua itu yang saya lihat. Perbandingan besar batang dan tinggi seimbang,’’ ucapnya.

Keahlian Tjong Yen menjadi pebonsai bukan didapat secara mudah. Secara otodidak ia rajin bertanya pada pebonsai senior. Buku dan majalah bonsai pun ia lahap untuk menambah pengetahuan. Setiap 4 bulan dia mendatangkan ahli bonsai dari Malang, untuk melatih pegawai dan mentraining koleksinya.

’’Saya banyak curi ilmunya,’’ ungkap ayah dari Andre Saputra dan Christina Fatmasari itu. Bila ditotal, tak kurang Rp2-miliar dikeluarkan Tjong Yen untuk menekuni hobi itu selama ini. ’’Itu bukan investasi. Saya mengeluarkannya bukan untuk bisnis. Cuma untuk menyalurkan hobi,’’ katanya.

Perjalanan Tjong Yen menekuni bonsai banyak liku-likunya. Beberapa kali ia gagal membentuk bakalan. Misalnya pada awal 80-an, karena salah media tanam, bakalan bonsai hokianti berharga mahal mati. Santigi juga sulit tumbuh karena cuaca Temanggung tak mendukung. Menyiasati hal itu Tjong Yen memindahkan ke Semarang yang lebih panas dan dekat pantai. Hasilnya santigi kembali normal.

Karena alasan cuaca Tjong Yen juga belum berhasil mentraining azalea di Temanggung. Menurutnya azalea cocok di daerah berketinggian 750—1500 m dpl. Temanggung hanya berketinggian 500 m dpl.

Media tepat

Menurut Tjong Yen, kunci keberhasilan membuat bonsai sehat terletak pada media. Kemampuan mendrainase air dan kandungan bahan organik yang tinggi menjadi syarat media. Dia memilih media berupa pasir khusus dari Malang yang dicampur dengan kotoran kambing.

Dua bulan sekali ia menambahkan nematisida dan pestisida. Pupuk daun diberikan sekali seminggu. Tambahkan pupuk yang lambat mengurai untuk menambah hara dalam tanah. Serangan hama dicegah dengan menyemprot insektisida sebulan sekali.

Untuk memperoleh kesan tua batang dipahat dan dikelupas. Batang dan ranting yang tak beraturan dipotong. Setelah melewati perawatan telaten dan masa training sekitar 3—5 tahun bonsai dapat diikutsertakan lomba. Itulah saat yang ditunggu-tunggu Tjong Yen. Pasalnya di sanalah hasil kerja keras mentraining bonsai dibuktikan. (Destika Cahyana)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Mencetak Petani Milenial, untuk Mengimbangi Perkembangan Pertanian Modern

Trubus.id — Perkembangan pertanian modern di Indonesia harus diimbangi dengan sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni. Dalam hal ini...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img