Saturday, August 13, 2022

Tomat Aman dari Ulat

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

TRUBUS — Petani mewaspadai ulat tomat pada musim kemarau. Ulat pencuri laba petani.

Dikdik Sontani curiga ketika melihat buah tomat di lahannya berlubang dan menghitam. Lama-kelamaan buah tomat Solanum lycopersicum membusuk. Petani sayuran di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupatem Garut, Jawa Barat, itu menemukan ulat di dalam buah tomat. Itulah ulat buah Helicoverpa armigera yang kerap berulah saat musim kemarau.

Petani tomat di Desa Mekarsari, Kecamatan Cikajang, Kabupatem Garut, Jawa Barat, Dikdik Sontani.

Peneliti di Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Siti Herlinda, menyatakan, ulat buah itu momok bagi pekebun tomat. Herlinda menuturkan, kerusakan buah tomat akibat hama itu mencapai 80%. Menurut Herlinda ngengat betina H. armigera meletakkan telur di bagian tanaman yang berambut dan kasar seperti pucuk, batang, kelopak bunga, dan tangkai bunga. Jadi, petani mesti waspada jika menemukan ngengat H. armigera di lahan. Musababnya ngengat mampu hidup dan terus bertelur selama 10 hari.

Pelindung buah

Suhu yang lebih tinggi mempercepat perkembangan daur hidup ulat buah. Terbentuknya kuncup bunga dan bunga mekar sekitar 40 hari setelah tanam (hst) diikuti dengan munculnya telur H. armigera. Aktivitas terbang ngengat dan cuaca memengaruhi tempat peletakan telur. Penerbangan ngengat menurun dan populasi telur berfluktuasi pada musim hujan. Puncak populasi telur dan larva pada 40 – 75 hari setelah tanam.

Tingginya populasi larva menyebabkan buah terserang lebih banyak. Satu musim tanam tomat selama 4 – 5 bulan. Artinya selama setahun, petani setidaknya dua kali menanam tomat. Dikdik dan petani yang tergabung dalam kelompok tani Digdaya Agro Nusantara itu menanam tomat di lahan seluas 45 hektar. Biasanya pria kelahiran Juli 1960 itu menuai 60 ton tomat per hektare.

Namun, akibat serangan larva penggerek buah hanya 54 ton atau susut sekitar 10%. Oleh karena itu, Dikdik memanfaatkan larvasida minecto xtra. Pada 2021, pria 61 tahun itu menyemprotkan pestisida 2 – 3 kali dalam satu musim tanam. Penyemprotan pertama letika tanaman berumur 20 hari. Ia melarutkan 0,15 ml pestisida itu dalam seliter air. Satu hektare lahan tomat membutuhkan setidaknya 500 liter untuk mengatasi serangan ulat buah tomat.

Menurut Brand Activation Lead Sumatera and East Indonesia, Syngenta Indonesia, Ali As’ad, insektisida berbahan aktif Siantraniliprol 200 g per liter dan Lufenuron 200 g per liter itu berbentuk pekatan suspensi dan berwarna putih. Ali mengatakan, insektisida sistemik dan kontak itu mampu menghambat pertumbuhan serangga. Itu sebabnya ulat dapat terkendali dan tidak menyebabkan kerusakan pada buah.

Menurut Ali ulat buah menjadi hama utama tomat apalagi pada musim kemarau. Meskipun kerugian tidak terlalu signifikan, bila dibiarkan akan mengganggu pertumbuhan tomat. Ali menyarankan penyemprotan pestisida itu ketika tanaman pada fase vegetatif. Pada fase awal tanaman tomat, petani dapat menggunakan Curacron 500 EC.

Cegah serangan

Brand Activation Lead Sumatera and East Indonesia, Syngenta Indonesia, Ali As’ad. (Dok. Pribadi)

Menurut Ali Syngenta meluncurkan teknologi Minecto Xtra pada Desember 2020. Teknologi itu berbahan aktif siantraniliprol 200 g per l dan lufenuron 200 g per l. Penyemprotan cukup dua kali dalam satu musim tanam. Pertama saat tanaman tomat berumur 49 hari. Kedua ketika tanaman anggota famili Solanaceae itu berumur 56 hari atau interval 7—14 hari. Namun, sebelumnya direkomendasikan untuk melakukan penyemprotan dengan Curacron pada umur 35 hari dan 42 hari setelah tanam “Pergantian jenis bahan aktif ini selain pencegahan dan pengendalian, juga menghindari ulat menjadi resisten,” kata pria 31 tahun itu. Penyemprotan selanjutnya ketika tanaman berumur 63 hari. Petani dapat memberikan Proclaim ketika tanaman berumur 70 hari. Konsentrasi cukup 0,2 gram dalam satu liter air agar buah tetap terjaga hingga pemanenan.

Selain hama, keberadaan penyakit juga merugikan bagi petani tomat. Menurut Ali musim hujan dengan kelembapan yang tinggi memicu munculnya berbagai macam penyakit pada tomat. Ia menyebutkan cendawan Phytophthora infestans yang mengakibatkan batang, daun, dan buah mengalami pembusukan sering juga disebut busuk basah. Cendawan Alternaria solani yang mengakibatkan daun dan batang tanaman menjadi busuk dan mengering juga mengincar tomat. Jadi, mencegah lebih baik daripada mengobati (Hanna Tri Puspa Borneo Hutagaol/Peliput: Riefza Vebriansyah)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img