Thursday, December 8, 2022

Tornado sang Ratu

Rekomendasi

Itulah sepenggal cerita dalam film Twister yang disutradarai Jan de Bont asal Belanda. Terinspirasi bentuk putaran willy-willy-julukan tornado-itu, Farida Hanum di Medan, Sumatera Utara, menyematkan nama twister pada aglaonema kesayangan. Pemilik nurseri Bulan itu menambahkan kata soft karena putaran daun sri rejeki itu terlihat lembut. Jadilah chinese evergreen itu dipanggil dengan sebutan soft twister.

Bentuk daun anggota famili Araceae itu panjang dan melengkung searah putaran jarum jam. Paduan warnanya menyejukkan mata: kuning, hijau, dan merah muda di tulang daun. ‘Soft twister termasuk aglaonema bongsor’, ujar Farida. Sejak Maret 2006, tornado kecil itu menghias halaman rumah wanita kelahiran Medan itu.

Koleksi lain yang juga bernuansa kuning: cochine kuning, daeng chalen, sri kemuning, dan angel. Yang disebut pertama bersosok kompak dan kokoh lantaran tangkai daun pendek. Cochine kuning istimewa karena daun lebar dan tebal. Lazimnya, hibrida cochine berdaun tipis. ‘Ini jenis yang bisa diandalkan’, ujar Farida. Paduan warnanya pun cantik: hijau, kuning, dan jingga. Daeng chalen bersosok kokoh dan kekar.

Sementara sri kemuning berkilau laksana emas. Paduan warna kerabat alokasia itu unik, seperti campuran emas-kuning-dan tembaga-jingga. Sosok tanaman kekar dan kompak. Angel terlihat cantik dengan garis yang sangat tajam. Warna dan corak daun seperti aglaonema bidadari: kuning, hijau, dan merah muda di tulang dan jari-jari daun. Garis-garis warna jelas bak pelangi. Bentuk daun besar dan runcing, panjang 28 cm dan lebar 10 cm.

Punggung kura-kura

Selain aglaonema dominasi kuning, Farida juga mengoleksi sri rejeki berwarna merah. Sebut saja apinya dan red bergundi. Apinya terkesan berani dengan warna daun merah menyala seperti kobaran api. Bentuk daun agak bulat. Pertumbuhan sri rejeki itu lambat. Dalam satu tahun hanya muncul 10 daun, ujar wanita kelahiran 23 September 1961 itu. Lazimnya daun aglaonema muncul satu helai per bulan. Farida memboyongnya dari Thailand pada Mei 2006. Red bergundi tampil menarik dengan bercak hijau yang menghiasi merahnya daun. Bentuk daun meruncing di ujung.

Masih di Medan, Trubus juga melihat aglaonema baru di nurseri Virensa Garden milik Hj Lisa Permata Sari. Sebut saja splash pink, red turtle, gold dragon, dan red giant. Splash pink berdaun besar, panjang 20 cm dan lebar 15 cm. Penampilan kerabat keladi itu memikat dengan sapuan warna merah muda di jari-jari daun.

Red turtle bertekstur unik, mirip punggung kura-kura dan bergelombang bagaikan otot perut Ade Rai, binaragawan kenamaan Indonesia. Gold dragon dan red giant memiliki motif dan warna daun sama: batik dan berwarna kontras, merah dan hijau. Gold dragon berpenampilan kompak lantaran tangkai daun pendek. Daun tebal dan bertekstur kasar. Sementara red giant berdaun besar, panjang hampir 30 cm, dan tepinya bergelombang.

Nun di Pekanbaru, Riau, sri rejeki koleksi Syahrial Usman juga tak kalah menarik. Misal gabriela berdaun kecil. Corak daun mirip batik dengan paduan warna merah dan hijau memikat. Tangkai daun panjang sehingga penampilannya terlihat lebih menarik bila dengan anakan. Jenis lain, aglaonema berwarna merah jambu dengan bercak hijau. Tepi daun bergelombang bagaikan ombak di tepi pantai.

Sementara Yoe Kok Siong di Yogyakarta mengoleksi pendatang baru dari negeri Gajah Putih yang masih tanpa nama. Aglaonema bersosok mungil itu berdaun kecil, panjang, dan runcing di ujung. Warnanya kuning kehijauan dan merah muda di tulang serta jari-jari daun. Sama seperti pendatang baru lainnya, sri rejeki itu pantas menghias teras rumah Anda. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Destika Cahyana)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Potensi Pemanfaatan Limbah Ceker Ayam sebagai Obat

Trubus.id — Mahasiswa Universitas Gadjah Mada menciptakan collagen tripeptide yang dihasilkan dari limbah ceker ayam sebagai alternatif pengobatan aterosklerosis.  Fitria Yuliana,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img