Monday, November 28, 2022

Tren Tangkarkan Siluk Merah

Rekomendasi

Kakinya diselonjorkan sekadar melemaskan urat-urat. Siang itu medio Maret 2005, langkah Johnson memang terasa berat setelah keluar-masuk gerai-gerai penyedia arwana di lantai 2 Plaza Maspion dan ruko di samping pusat perbelanjaan di Jakarta Utara itu. “Saya sedang mencari induk superred, siapa tahu ada untuk farm di Pontianak,” ujarnya saat dijumpai Trubus.

Menangkarkan superred? Itulah yang kini dilakoni Johnson sejak tahun lalu. Tepatnya 8 November 2004, lebih dari Rp1-miliar dikucurkan mantan pedagang lou han itu untuk membangun sebuah farm superred di Desa Mempawah Toho, Pontianak. Lokasi farm yang berjarak 2 jam perjalanan darat dari ibukota Provinsi Kalimantan Barat itu dibangun di atas tanah seluas 5 ha. Areal yang sekelilingnya masih dipenuhi ladang-ladang kelapa sawit itu disulap menjadi 6 kolam masing-masing berukuran 12 m x 30 m berkedalaman 3 m.

Sekeliling kolam tanah tampak dipagari seng setinggi 2 m. Untuk lebih menjamin keamanan farm, sejumlah penduduk asli setempat direkrut menjadi penjaga. “Di sana relatif aman dari pencurian,” ujarnya. Hingga Juni 2005, kolam-kolam itu sudah disesaki 50 ekor Schleropages formosus sepanjang 50 cm lebih. “Mayoritas induk superred, tapi ada pula induk golden,” tutur pria yang berdomisili di Taman Semanan Indah, Jakarta Barat itu.

Meski belum berproduksi, setiap bulan Johnson perlu mengeluarkan fulus Rp3-juta—Rp5-juta untuk biaya perawatan dan lainnya. Keberanian eksportir sarang walet untuk menangkarkan superred itu tidak lepas dari potensi pasar yang membentang. “Superred hingga kini tetap dicari baik lokal apalagi ekspor. Harganya pun stabil cenderung naik,” katanya. Johnson kini masih mengurus surat izin penangkaran. Ia berharap setidaknya paling cepat 1—2 tahun kedepan farmnya sudah mampu melepas superred ke pasar.

Mewabah

Aroma superred pun menggoda Sriyadi di Joglo, Jakarta Barat. Akuntan publik itu semula hanya hobiis tulen superred. Hingga 2000, koleksi siluk merahnya baru dalam hitungan jari. Namun memasuki 2001, kelahiran Klaten 3 Maret 1966 itu mulai benar-benar serius menekuni bisnis superred. “Supered itu profi table karena keuntungannya tinggi dan risikonya tinggi pula,” ujar Sriyadi.

Awalnya alumnus Sekolah Tinggi Ekonomi YKPN di Yogyakarta itu membeli anakan superred berukuran 8 cm dari seorang penangkar di Pontianak, Kalimantan Barat. Superred itu lalu dijual kembali Rp3,5- juta per ekor. Setelah beberapa bulan dan dirasa menguntungkan ,ayah 2 putra itu mulai berani mendatangkan superred lepas telur berumur sebulan dengan pertimbangan harga beli lebih murah. Ikan-ikan itu dibesarkan hingga umur setahun sebelum dilepas lagi ke pasar. Sebagian ikan kahyangan itu disimpan untuk dibesarkan lebih lanjut.

Sambil berdagang, penggemar olahraga bulutangkis itu pun rajin mengumpulkan calon-calon induk superred yang dibeli dari kolektorkolektor di Jakarta. Semua ikan itu dibesarkan di 3 kolam berukuran 4,2 m x 12 m dan 3 m x 11 m berkedalaman 2 m. Sebagian lagi dipelihara di dalam akuarium. “Saat ini sudah ada sekitar 200 superred yang ada,” tutur Sriyadi yang kini giat memperluas pasar dengan mendirikan PT Arwana Citra Ikan Hias Indonesia. Gencarnya promosi yang dilakukan menuai hasil. Masuknya permintaan dari Th ailand dan Singapura sebanyak 40—50 ekor per bulan melalui website perusahaan.

Meningkat

Maraknya penangkaran superred memang tak lepas dari kemudahan izin penangkaran yang diberikan oleh pemerintah untuk mencegah perdagangan ilegal. Di sentra lama penangkaran seperti Kalimantan Barat, sejak awal 2003 jumlah penangkar superred melonjak hingga 30% akibat kebutuhan lokal dan ekspor terus meningkat. “Padahal pada 2002 baru ada sekitar 25 penangkar yang terdaftar,” ujar Puji S Pujianto, kepala Balai KSDA Kalimantan Barat.

Di Riau dan Jakarta meski tidak ada angka pasti, pertambahan penangkar superred sudah terasa sejak kurun 2003—2004 silam. Irwan sebut saja demikian, sejak awal Januari 2005 misalnya sudah mencemplungkan dana lebih dari Rp500-juta untuk membangun farm superred di Pondokgede, Jakarta Timur. Farm di areal tanah seluas 5.000 m2 itu memiliki 2 kolam tanah berukuran 12 m x 20 m berkedalaman 2 m. Dengan luasan seperti itu sebenarnya beberapa kolam dapat dibangun di sana. “Bagi saya kolam superred cukup satu. Yang penting perlu ada waduk untuk mensuplai air ke kolam. Intinya dibuat seperti di habitat aslinya agar ikan merasa nyaman,” papar Irwan yang sudah menyiapkan 10 induk superred itu.

Secara umum ekspor arwana nasional memperlihatkan grafi k peningkatan dari tahun ke tahun. Merujuk data Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam, ekspor ikan naga selama 2001 mencapai 38.296 ekor senilai US$1.367.714. Pada 2002 secara kuantitas terjadi penambahan volume ekspor yang mencapai 52.968 ekor senilai US$1.324.200. Khusus siluk merah pengiriman terbanyak ke negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Cina.

Dirental

Menurut Herry Johan, pemerhati arwana di Jakarta Timur, menjamurnya penangkar superred merupakan kabar yang sangat menggembirakan. “Ini ikan asli kebanggaan kita yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Sudah sewajarnya ia harus dilestarikan agar nama Indonesia terangkat,” papar ketua Perkumpulan Pemerhati dan Peduli Arowana itu. Herry merasa prihatin dengan kenyataan justru nama Singapura yang lebih terkenal sebagai pemasok superred di dunia.

Hal senada juga diungkapkan oleh Jap Khiat Bun eksportir ikan hias di Cibinong. “Superred harus dilestarikan karena memiliki prospek sangat bagus,” ujar pemilik CV Maju Akuarium yang sejak 2003 serius membiakkan sekitar 60 superred di kolam berukuran 20 m x 15 m berkedalaman 5 m itu. Awal Mei 2004, raut wajah penggemar golf itu berseri-seri setelah mendapati sepasang superred menelurkan 28 ekor anakan.

Buntut terkenalnya superred menggiring sebuah perusahaan besar di Jakarta melakukan terobosan baru dengan mengambil alih sebuah farm besar superred di Sungai Landak, Pontianak, Kalimantan Barat, pada awal 2005. Di bawah bendera PT Inti Kapuas Arowana Tbk, mereka menjadi satu-satunya pemain superred yang berani menggaet peminat superred dengan sistem penjualan saham. “Perusahaan kami go publik. Kepemilikan perusahaan akan dijual dalam bentuk saham sehingga peminatnya akan berperan aktif,” ujar Fridya Purbasari, manajer pemasaran.

Perusahaan yang menggelar launching perdana pada 8 Juni 2005 itu kini memiliki sebuah ruang pamer di bilangan Pesanggrahan, Jakarta Barat. Di sana tak kurang dari 100 arwana superred beragam ukuran dari 15—50 cm dipajang. “Semua ikan unggulan berasal dari farm kami di Kalimantan dan dijual dengan garansi,” ujar alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanegara itu. Sejak pembukaan hingga sekarang sudah terjadi transaksi hingga Rp200-juta Rencananya gerai serupa akan dibangun di Bandung, Solo, dan Surabaya.

Selain gerai, terobosan baru diusung perusahaan bermerek dagang Sheelook Red itu dengan merentalkan superred di restoran dan gedung perkantoran. Harga sewa berkisar Rp2,5-juta/bulan. “Semua perawatan mulai dari pemberian pakan hingga kebersihan akuarium kami yang menanggung,” papar Fridya. Aroma superred rupanya kini bak asap yang kian membumbung. (Dian Adijaya S/Peliput: Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img