Sunday, January 25, 2026

Trik Winarso Dandani Koi Calon Jawara

Rekomendasi
- Advertisement -

Kohaku sepanjang 89 cm itu memang istimewa. Bak supermodel di atas catwalk, Botan memamerkan pattern terang dengan pola kiwa tegas membalut tubuh. Tangan dingin Winarso Tanuwidjaya mendandani Botan membuahkan gelar grand champion dari para juri.

Botan hanya satu dari sekian banyak koleksi Winarso yang setelah dirawat khusus mampu meraih gelar juara. Contoh shobu sanke. Koi berukuran 83 cm itu bisa memiliki bentuk tubuh proporsional dengan pattern unik. Koi ini berkualitas tinggi,” ujar Manabu Ogata, penangkar asal Jepang yang menjadi juri 2nd Indonesia Combined Koi Show 2005 di Jakarta awal Mei silam.

Setali tiga uang dengan Botan mendapat gelar terhormat Victory Beauty Rose di 2nd Indonesia Combined Young Koi Show 2005 di Surabaya. Meski baru mencapai panjang 65 cm, kecantikannya membuat para juri sepakat mengganjarnya dengan gelar grand champion. “Umurnya masih sangat muda, sekitar 3 tahun,” ujar pemilik Golden Koi Center di Jakarta Barat itu.

Tak hanya mania dan hobiis Carasius auratus tanahair yang mengagumi kepiawaian Winarso dalam mencetak koi jawara. Peternak dan hobiis koi di Taiwan, Singapura, dan Jepang pun mengakui dia sebagai “tukang koi” andal. Lihat saja prestasinya saat mengikuti 23rd All Japan Young Koi Show di Jepang. Selain kinshowa berukuran 58 cm yang meraih best in variety, Winarso juga meraih Sakura Award. Penghargaan itu diberikan kepada ikan terbaik selama kontes.

Induk berserti. kat

Membuat koi cantik memang tidak mudah. “Perlu penanganan serius sejak awal memilih calon,”  ujar Winarso. Ayah 3 putra itu bahkan langsung mengunjungi Jepang 5—6 kali setahun untuk memilih calon jawara. Menurut Winarso pada Oktober—November berlangsung panen koi. Itu saat yang baik untuk mencari ikan. Biasanya pemilihan ikan bersamaan dengan acara lelang.

Nah, Wiwi—begitu Winarso dipanggil—punya trik memilih koi. Kerabat ikan mas itu harus memiliki bloodline atau garis keturunan yang jelas. Itu lantaran silsilah ikan menentukan kualitas koi. “Saya selalu menanyakan asal indukan koi itu dan melihatnya langsung. Itu penting untuk memprediksi kualitas ikan,” katanya. Sertifi kat koi high quality wajib dimiliki setiap membeli koi.

Koi calon jawara harus memiliki tubuh bongsor, panjang, dan kekar bak torpedo. Pada umur 5 tahun koi harus berukuran minimal 80 cm. Warna menjadi prioritas kedua. Warna hi atau merah harus terang. Warna putih sebagai warna dasar wajib putih bersih bak salju. Untuk jenis showa atau sanke, spot hitam harus solid dan pekat. Kiwa alias batas warna antara putih dan merah juga harus jelas dan tegas.

Perawatan intensif

Calon jawara yang baru didatangkan dari Jepang dirawat telaten di tanahair selama 5—6 bulan menjelang kontes. Sebelumnya ikan harus dikarantina selama 2—3 minggu dalam kolam steril. Wiwi mencemplungkan 20 ml/ton air biotalk pada hari pertama. Selanjutnya obat untuk mensterilkan air itu dikurangi, masing-masing 15 ml/ton air dan 10 ml/ton air pada hari ke-2 dan ke-3. Selama karantina, koi tidak diberi pakan. Baru pada minggu ketiga, pakan pelet dan kombinasi wheatgerm dengan hi silk diberikan sedikit demi sedikit. “Diberikan 20% dari porsi normal karena sistem pencernaan koi belum bekerja baik,” ucap Wiwi.

Setelah proses karantina selesai, koi dipindahkan ke kolam permanen. Untuk kolam berkapasitas 30 ton dimasukkan 8—10 ikan berukuran 60—70 cm. Semakin besar koi semakin sedikit jumlah koi yang dicemplungkan. Maksudnya agar ketersediaan oksigen terjamin, kotoran tidak meracuni air, dan mudah diperhatikan. “Untuk kontes, ikan harus sering diperhatikan. Kalau jumlah ikan dalam kolam terlalu banyak, repot,” katanya.

Suhu air diatur berkisar 24—250C dengan pH 7—7,5. Selain untuk mencegah ikan stres, suhu juga bagian dari sentuhan akhir pembentukan kualitas warna tubuh. Oleh karena itu, Wiwi sering “mempermainkan” suhu selama beberapa minggu sebelum kontes digelar. Awalnya, ia menurunkan suhu beberapa derajat dari suhu normal. Selang 2—3 minggu sebelum kontes, suhu dinaikkan kembali secara perlahan-lahan. “Dengan cara itu warna merah lebih solid dan terang. Tubuh pun lebih padat dan kekar,” katanya. Derajat keasaman alias pH air diatur sedemikian rupa hingga berkisar normal agar kualitas warna tidak turun.

Pemb e r i a n p a k an t i d a k b o l eh sembarang. Maklum, pakan berperan menjaga kondisi tubuh dan warna koi. Empat hingga lima bulan sebelum kontes, Winarso memberikan 50% pakan pencerah warna. Pakan itu dicampur pelet dan enzim (manda). Jumlah pakan yang diberikan tergantung ukuran dan jumlah koi di dalam kolam. Contoh kolam berisi 20 koi berukuran 60 cm perlu diberi pakan sebanyak 0,5 kg/hari yang dipecah dalam 3—4 kali pemberian.

Asupan pakan pencerah warna dihentikan 2 bulan sebelum kontes. Itu agar warna putih koi tidak rusak dan pecah. Sebagai gantinya dosis kombinasi wheatgerm dan hi silk diberikan masing-masing sebanyak 50%. “Pakan yang mengandung probiotik juga bagus untuk pertumbuhan koi,” kata Wiwi.

Untuk mencegah penyakit, Winarso rutin memberikan obat-obatan. Dimilin untuk mencegah serangan kutu diberikan 1 g/ton air setiap 4 bulan sekali. Malacete green, pembasmi jamur, diberikan dengan dosis 1 g/5 ton air. Demikian pula antibiotik seperti Teramicyn dosis 100 g/0,5 ton air. Bila ikan telah terjangkit penyakit internal seperti luka, dropsy, dan sisik bangun, penyuntikan Belmaton dan Solcoseril secepatnya dilakukan.

Satu hingga dua minggu menjelang kontes, ikan perlu dipuasakan. Tujuannya agar ia tampil fi t saat tampil di depan juri. Pemberian pakan sebelum kontes menyebabkan koi membuang kotoran yang mengandung amonia. Akibatnya ikan lemas dan sakit lantaran teracuni. Dengan perawatan intensif itu wajar bila Winarso mendulang prestasi dari koikoi yang dipeliharanya. (Rahmansyah Dermawan)

 

Artikel Terbaru

Madu Herbal Rahasia Bugar Setiap Saat

Bagi sebagian besar orang termasuk Dede Rizky Permana, pandemi Covid-19 merupakan masa penuh kecemasan. Meski begitu ada kebiasaan kecil...

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img