Monday, August 8, 2022

Trubus Kusala Swadaya 2015: Trofi Bagi Penyemai Benih Harapan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Abdul Gofur dari Yayasan Merah Putih pemenang Trubus Kusala Swadaya kategori kelompok.
Abdul Gofur dari Yayasan Merah Putih pemenang Trubus Kusala Swadaya kategori kelompok.

Penghargaan bagi insan atau kelompok yang memberdayakan dan mencerdaskan masyarakat. Kisah yang menginspirasi.

Senyum mengembang di wajah Abdul Gofur ketika menerima Trubus Kusala Swadaya pada Kamis, 5 November 2015 di markas Yayasan Bina Swadaya di Kota Depok, Provinsi Jawa Barat. Ia dan rekan-rekan tergabung dalam Yayasan Merah Putih, pegiat di bidang pendidikan kepada masyarakat adat Tau Taa Wana di Morowali, Sulawesi Tengah. Mereka berperan mengentaskan buta aksara yang membuat masyarakat adat kerap terpedaya. Mereka mengajarkan pendidikan melalui skola lipu—dalam bahasa setempat berarti sekolah kampung.

Karena kiprahnya itu, Gofur dan rekan-rekan di Yayasan Merah Putih menjadi salah satu dari 3 penerima Trubus Kusala Swadaya 2015. Penghargaan itu merupakan penghargaan kepada para wirausahawan muda yang telah berinisiatif dan kreatif melakukan upaya-upaya peningkatan keberdayaan masyarakat, baik melalui aktivitas di bidang pertanian, lingkungan, pendidikan, energi terbarukan, dan sosial-ekonomi dengan pendekatan kewirausahaan sosial. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan Bina Swadaya, yang menaungi Grup Trubus, sejak 2007. Penyelanggaraan pada 2015 merupakan periode ke-4.

Ketua pengurus Yayasan Bina Swadaya, Prof Dr Paulus Wirutomo (kanan) menyerahkan penghargaan kepada Lasmi, juara kategori individu.
Ketua pengurus Yayasan Bina Swadaya, Prof Dr Paulus Wirutomo (kanan) menyerahkan penghargaan kepada Lasmi, juara kategori individu.

Bermitra
Ketua panitia Trubus Kusala Swadaya 2015, Suryo Dwianto Agung Nugroho, mengatakan, “Dengan penghargaan itu kami mengharapkan semangat masyarakat terdorong untuk lebih banyak melakukan pemberdayaan berbasis kewirausahaan sosial.” Kini makna kewirausahaan menjadi sangat mengena ketika dihubungkan dengan berbagai permasalahan sosial di masyarakat.

Panitia menunjuk ekonom dari Universitas Indonesia Prof Rhenald Kasali PhD, sosiolog dan guru besar FISIP Universitas Indonesia sekaligus ketua pengurus Yayasan Bina Swadaya, Prof Dr Paulus Wirutomo, sastrawan dan budayawan Arswendo Atmowiloto, serta pengamat kebijakan dari Insitute of Ecosoc Rights Sri Palupi sebagai juri. Dari 60 kandidat yang terjaring, akhirnya terpilih 12 nomine yang akan dipilih juri sebagai pemenang dengan beragam kriteria.

Kriteria itu di antaranya adalah kemandirian, tata kelola, kesetaraan gender, kepedulian lingkungan, peningkatan kontribusi masyarakat (promosi dan advokasi), serta penciptaan hal baru (kreativitas dan inovasi) dalam meningkatkan keberdayaan dan kesejahteraan masyarakat. Menurut anggota panitia Trubus Kusala Swadaya, Emilia Prasetyo, beberapa poin penting penilaian adalah dampak terhadap lingkungan, keberlanjutan, dan daya inovasi untuk memanfaatkan sumber daya dan potensi lokal.

Pemandangan dari lokasi sekolah kampung YMP di Morowali.
Pemandangan dari lokasi sekolah kampung YMP di Morowali.

“Kewirausahaan sosial harus berefek kepada 3 P, yaitu people, planet, dan profit. Artinya efeknya dapat dirasakan oleh masyarakat tanpa merusak lingkungan sambil tetap menghasilkan keuntungan tinggi,” kata Emilia. Contohnya adalah yang dilakukan Lasmi, pengusaha jamu gendong di Mampang, Jakarta. Selain menghimpun penjual jamu gendong di sekitarnya, ia juga mengajak warga sekitar untuk terlibat mengolah serta meracik jamu (halaman 64—65).

Industri jamu jelas ramah lingkungan lantaran menggunakan bahan-bahan yang berasal dari alam dengan metode pengolahan yang tradisional dan higienis. Hal nyaris serupa juga tampak di industri bulu mata D’Eyeko di Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah. Sejatinya D’Eyeko terbilang industri bulu mata buatan yang sangat mapan dengan kualitas standar ekspor yang dipercaya banyak pembeli internasional.

SAquinus Krisnaldi anggota panitia Trubus Kusala Swadaya 2015 dalam kegiatan verifikasi ke sekolah kampung.ONY DSC
SAquinus Krisnaldi anggota panitia Trubus Kusala Swadaya 2015 dalam kegiatan verifikasi ke sekolah kampung.ONY DSC

Beberapa pesohor seperti Syahrini dan Olga Lydia pun bersedia menjadi duta produk itu. Hebatnya, Yohanes Ferry, pemilik D’Eyeko, tidak lupa dengan masyarakat sekitarnya. Ia membuat remote facilities, yaitu unit produksi di luar pabrik yang dilakukan mitra. Dengan 87 mitra yang masing-masing mempekerjakan 30—60 orang, kehadiran D’Eyeko memberikan efek domino bagi perekonomian masyarakat sekitar. Bersama Yayasan Merah Putih, Lasmi dan Yohanes Ferry akhirnya terpilih menjadi peraih Trubus Kusala Swadaya 2015.

Semangat tinggi
Bagi panitia Trubus Kusala Swadaya, sekolah kampung ala Yayasan Merah Putih (YMP) di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah sangat berkesan. YMP menyelenggarakan pendidikan bagi etnis Wana yang tinggal di lereng-lereng gunung. “Setiap kantong perkampungan etnis Wana hanya bisa dijangkau dengan berjalan kaki berjam-jam dari jalan utama terdekat. Padahal, etnis asli Sulawesi Tengah itu tinggal terpisah-pisah di banyak perkampungan,” ujar anggota panitia, Aquinus Krisnaldi, yang datang langsung ke lokasi itu.

Pengusaha bulu mata palsu pemenang Trubus Kusala Swadaya kategori individu.
Pengusaha bulu mata palsu pemenang Trubus Kusala Swadaya kategori individu.

Bisa dibilang, orang asli Morowali saja berpikir 2 kali kalau harus mengajar di sekolah di perkampungan itu. Namun, YMP justru mengkhususkan diri memberikan pendidikan bagi anak-anak etnis Wana. Maklum, ketertinggalan mereka membuat etnis Wana kerap dibodohi oleh pedagang yang membeli hasil bumi mereka. “Semangat belajar mereka tinggi meskipun hanya dengan fasilitas seadanya,” kata Nino—panggilan Aquinus.

Prestasi nomine lain tidak kalah luar biasa. Sebut saja Linus Liarian yang menghijaukan Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (halaman 62—63) dan pasangan Ibang Lukmanurdin dan Nissa Wargadipura yang mendirikan pesantren Ath-Thaariq yang memadukan pendidikan agama dengan pertanian berbasis ekologi (halaman 60—61).

Terbukti bahwa bangsa ini masih memiliki orang-orang berjiwa besar yang bersedia memikirkan pemberdayaan masyarakat sekitarnya. Pada ulang tahun ke-46, Majalah Trubus menampilkan profil para nomine dan pemenang Trubus Kusala Swadaya agar lebih banyak pihak terinspirasi. (Argohartono Arie Raharjo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img