Tuesday, November 29, 2022

Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 “ Semarak Hutan di Tengah Mal “

Rekomendasi

Sang penjaga mematok Rp1,5-juta untuk kantong semar asal Borneo itu. Fransiska heran bukan kepalang. Baginya, berkunjung ke Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 seolah menyaksikan beragam keunikan . ora dan fauna dari hutan tropis Asia, Afrika, dan Amerika di tengah pusat perbelanjaan modern. Tertarik pada keunikan periuk monyet, Fransiska merogoh Rp300-ribu untuk 3 nepenthes di pot mini.

Begitulah suasana hari pertama pameran Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 yang digelar pada 18 Mei— 4 Juni 2006. Decak kagum kerap terdengar dari bibir para pengunjung yang keheranan sejak masuk pintu mal WTC Manggadua. Sebuah rekaman video dari layar TV 21 inci menunjukkan pemandangan langka. Empat tanaman penangkap serangga—nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia—beraksi menangkap lalat, semut, dan kepik. “Lihat, ini benar-benar nyata. Saya kira hanya cerita dalam dongeng,” kata Liliana Surya pada suaminya.

Tak puas memandang dari layar kaca, para pengunjung mengalihkan mata pada akuarium berukuran 70 cm x 35 cm x 35 cm di sebelah monitor TV. Di balik kaca bening terlihat 4 tanaman asli: nepenthes, dionaea, drosera, dan sarracenia, berlomba menangkap lalat di dalam akuarium. Bagian atas akuarium ditutup kain kasa sehingga lalat tak bisa keluar dari habitat alam buatan itu. Dua pengunjung yang  sabar, terlihat puas menyaksikan dengan mata kepala sendiri, seekor lalat terperosok ke dalam kantong sarracenia.

Atraksi yang luar biasa itu membuat para pengunjung penasaran. Dua stan yang memajang tanaman penangkap serangga terlihat ramai. Menurut Afriza Suska, pemilik stan Komunitas Tanaman, 15 tanaman perangkap serangga berpindah ke tangan hobiis hanya dalam hitungan 2 jam. Carnivorous plant itu dibandrol Rp50-ribu— Rp100-ribu. Padahal, target awal bukanlah menjual tanaman, tapi merekrut hobiis baru sebagai anggota komunitas pencinta tanaman pemangsa serangga.

Tanaman langka

Pemandangan yang tak kalah menarik ditemukan di lantai dasar mal. Pameran  aneka flora dan fauna unik digelar di bagian barat lantai dasar. Sebut saja aksi katak berkuping dan bertanduk yang bertengger di atas daun kantong semar. Pun, kecoak terbesar di dunia. Belum lagi kehadiran belalang daun. Warnanya hijau, mirip daun. Namun, jika hinggap di daun jambu biji yang kemerahan, tubuhnya pun berubah kemerahan. Kemampuan itu mengingatkan kita pada bunglon.

Tak jauh dari tempat fauna unik itu, berjejer ragam buah yang sedang diburu hobiis. Sebuah tabulampot tin bertengger di atas kaki beton dengan gagah. Dari ketiak daun muncul buah berwarna hijau seukuran bola pingpong. Tin diburu karena terbukti dapat berbuah di Indonesia. Buah yang tercatat di 3 kitab suci—Injil, Al-Qur’an, dan Weda— itu cocok dijadikan tanaman kebanggaan keluarga. Di sebelahnya, tabulampot marasi—buah pengubah rasa asam dan tawar menjadi manis—memamerkan bunga dan buah. Kehadiran tabulampot itu mematahkan pendapat orang yang mengatakan marasi tak cocok dijadikan tanaman buah penghias ruangan.

Di sudut lain, kaktus berdaun dan sikas mutasi memamerkan keindahannya. Mereka seolah tak mau kalah dengan tanaman hias yang tengah populer seperti aglaonema, adenium, dan euphorbia. Dari pengamatan Trubus, pameran kali ini diramaikan juga oleh beragam ramuan herbal pendatang baru. Sebut saja sarang semut, gamat, dan keben. Ketiganya melengkapi kehadiran 2 obat tradisional yang lebih dulu populer, buah merah dan VCO.

Tertarik menikmati keindahan hutan dari segala penjuru dunia di tengah mal di Batavia? Jangan sampai ketinggalan. Datanglah ke pameran Trubus WTCM2 Agro Expo 2006 yang digelar hingga 4 Juni 2006. (Destika Cahyana/Peliput: Rosy Nur Aprianti)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id — “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img