Monday, August 8, 2022

Tuai Laba dari Beras Organik

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Permintaan beras organik yang datang ke Jaya tak hanya dari dalam negeri, tapi juga ke Korea dan India. Kedua negara itu minta dipasok 1 kontainer, setara 15 ton, beras organik sebagai sampel. Namun, keterbatasan pasokan membuat Jaya menunda permintaan itu. Saat ini, ibu dari 2 anak itu menjual ke pedagang di Jakarta dan Karawang, masing-masing 2 ton/minggu. Pasokan didapat dari petani binaan di Limbangan, Kabupaten Garut. Dengan harga jual Rp4.800/kg, maka laba yang didapat Rp1,6-juta/minggu setelah dikurangi biaya pembelian beras organik dari petani sebesar Rp8-juta.

Untuk memenuhi permintaan yang sangat tinggi itu Jaya bermitra dengan petani. Namun, untuk menambah jumlah pasokan, ia kesulitan lantaran petani meminta harga tinggi, Rp4.500/kg. Sedangkan anak ke-2 dari 4 bersaudara itu hanya sanggup membayar Rp4.000/ kg. Karenanya manajer pemasaran CV Sinar Kencana itu harus menghitung ulang kelayakannya agar tidak ada yang dirugikan.

Nun di Karangpilang, Surabaya, Fajar Sandi Oktiono, pemilik CV Anugerah, pun menuai berkah dari beras organik. Ia kerepotan melayani permintaan 20 ton dari Bali sejak sebulan terakhir. Sebelumnya mereka hanya minta 13 ton/bulan. Permintaan dari Kalimantan pun datang. Banjarmasin, Samarinda, dan Bontang masing-masing mengorder 5 kuintal/bulan. Untuk memenuhi permintaan itu, Fajar memperoleh pasokan beras dari petani di Sragen dan Sukoharjo.

Untung

Melambungnya permintaan beras organik antara lain dipicu keinginan masyarakat untuk hidup sehat. Salah satunya dengan mengkonsumsi pangan bebas residu kimia. Menurut Ir Sugiyanta, MSi dari Lab Produksi Tanaman, Departemen Agronomi dan Hortikultura, Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, beras organik lebih sehat karena tidak menggunakan pestisida kimia sehingga tidak ada senyawa berbahaya. Menurut Fajar nasi asal beras organik rasanya gurih dan tidak cepat basi dalam 48 jam.

Dengan kelebihan itu wajar bila konsumen yang telah merasakan beras organik jarang yang berbalik ke beras konvensional. “Bila makan beras organik selama 1 bulan, lalu makan beras biasa. Maka beras (biasa, red) yang dikonsumsi itu jadi tidak enak,” ujar Bambang Girun, staf bagian lapangan Kelompok Tani Kelopak.

Harga beras organik lebih tinggi dibandingkan nonorganik. Contohnya, harga mentikwangi organik di tingkat pedagang Rp4.800/kg dan anorganik Rp4.300/kg. IR 64 organik Rp4.000/kg dan anorganik Rp3.600/kg. Toh, harga tinggi itu tidak menjadi masalah. Permintaan malah cenderung meningkat.

Rata-rata dari areal seluas 1 ha menghasilkan 5—6 ton gabah kering giling (GKG), meski beberapa petani ada yang mencapai 9 ton. Dengan rendemen sebesar 60% dan asumsi produksi 6 ton, beras yang dihasilkan 3,6 ton. Harga jual Rp3.000/kg. Dengan biaya produksi Rp5,6-juta–termasuk sewa lahan dan tenaga kerja—petani organik menuai laba Rp5,2-juta. Bandingkan dengan beras konvensional. Pada luasan yang sama, produksi yang dihasilkan lebih rendah, 4 ton beras. Biaya produksi Rp6,6-juta. Dengan harga jual Rp2.500/kg, petani menerima keuntungan Rp3,4-juta per musim tanam.

Stabil tahun ke-4

Meski banyak kelebihan, pengembangan padi organik bukan tanpa hambatan. Yang paling lazim adalah penurunan produksi di awal peralihan. Dari lahan 1,2 ha Muslim hanya menuai 8 kuintal gabah kering. Ketika menanam padi sistem konvensional petani di Ngoro, Mojokerto, itu memanen 12 kuintal. ”Penurunan produksi di awal penanaman,  diimbangi dengan tingginya harga jual beras organik,” ujar Suratal, petani di Yogyakarta.

Lagi pula penurunan di awal penanaman itu tak berlangsung lama. Seiring meningkatnya kesuburan lahan, produksi pun kembali terkatrol. Menurut Darso Suprapto, petani di Gamping, Yogyakarta, pada tahun pertama setelah beralih ke sistem organik produksi turun jadi 4,7 kg GKG per ubin—2,5 m x 2,5 m—dari semula 5,4 kg. Baru pada tahun ke-4 produksi stabil dan lebih tinggi ketimbang hasil budidaya konvensional, jadi 5,9 kg per ubin.

Pencapaian produksi budidaya organik yang lebih tinggi dari sistem konvensional itu masih diragukan Dr Ir Agus  Setiyono, peneliti di Balai Penelitian Tanaman Padi, Subang. Pasalnya jika hanya menggunakan bahan organik saja, contohnya pupuk kandang, tidak mencukupi kebutuhan hara bagi tanaman. Karenanya produksi justru lebih rendah dari budidaya konvensional. Pendapat itu berbeda dengan Dr Ir Agus Suryanto, MS. Menurut ahli budidaya pertanian itu, pemberian pupuk kimia secara berlebih membuat pH tanah menjadi asam. Jumlah mikroorganisme dan kesuburan tanah berkurang. Akibatnya produktivitas padi tidak optimal. Ketika beralih ke organik, pupuk akan memperbaiki kesuburan tanah. Hasil produksi jadi optimal.

Meningkat

Toh, kendala yang muncul itu tak mempengaruhi perkembangan budidaya Lebih sehat

diimbangi dengan tingginya harga jual beras organik,” ujar Suratal, petani di Yogyakarta. Lagi pula penurunan di awal penanaman itu tak berlangsung lama. Seiring meningkatnya kesuburan lahan, produksi pun kembali terkatrol. Menurut Darso Suprapto, petani di Gamping, Yogyakarta, pada tahun pertama setelah beralih ke sistem organik produksi turun jadi 4,7 kg GKG per ubin—2,5 m x 2,5 m—dari semula 5,4 kg. Baru pada tahun ke-4 produksi stabil dan lebih tinggi ketimbang hasil budidaya konvensional, jadi 5,9 kg per ubin. Pencapaian produksi budidaya organik yang lebih tinggi dari sistem konvensional itu masih diragukan Dr Ir Agus padi secara organik. Malah semakin banyak petani yang terjun ke sana. Buktinya jumlah kelompok tani dan petani organik di Kabupaten Sukoharjo meningkat. Dari 15 kelompok , masing-masing beranggotakan 20—30 petani pada 1999, menjadi 117 kelompok, masing-masing 30—80 petani.

Kabupaten Sragen pun mengembangkan lahan padi organik seiring pencanangan program Sragen Go Organik 2010 oleh Bupati Sragen, Untung Wiyono. Dari lahan seluas 232 ha pada 2001 meningkat menjadi 1.973 ha pada 2004. Jumlah kelompok tani dan petani pun ikut melejit. Dari 29 kelompok dengan 639 petani pada 2001 menjadi 247 kelompok dengan 1.721 petani pada 2004.

Sentra penanaman antara lain di Kecamatan Tanon seluas 16 ha, Masaran dan Sambirejo masingmasing 50 ha. Selain Sukoharjo dan Sragen, banyak kabupaten lain di Jawa Tengah yang juga gencar mengembangkan beras organik. Contohnya, Banyumas, Semarang, dan Magelang.

Nun di Kalimantan Timur juga terdapat sentra penanaman padi organik, yaitu di Kecamatan Krayan, Kabupaten Nunukan. “Di Krayan terdapat 89 desa dengan luas penanaman mencapai 3.000 ha lebih,” kata HM Heru Winhartodo Amd, staf Dinas Pertanian Kabupaten Bulungan.

Banyaknya petani padi yang beralih ke sistem budidaya organik lantaran ramah lingkungan. Dan beras yang dihasilkan pun dipercaya lebih sehat untuk dikonsumsi. Akibatnya permintaan beras organik pun meningkat. Hal itulah yang dirasakan Ir Jaya Tulha dan rekan-rekan. (Rosy

Nur Apriyanti/Peliput: Lastioro Anmi

Tambunan dan Imam Wiguna)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img