Sunday, November 27, 2022

Tung Hu Aquarium Dari Lim Chu Kang Melanglang Buana

Rekomendasi

Bus yang dikendarai Trubus bersama peserta lain berjalan beriringan menyisir jalan yang mulai basah. Suara merdu Celine Dion melantunkan lagu Th e Power of Love sayupsayup terdengar di antara hujan deras. Sesekali suara petir dan guntur membahana. Namun, keceriaan dan senyum para peserta tetap terlihat.

Sejak pagi mereka telah berkeliling ke beberapa farm ikan hias ternama di Singapura. Anjangsana ke Rainbow Aquarium di kawasan Sungai Tengah, Qian Hu di bilangan Jalan Lekar, dan Max Koi di kawasan Neo Tiew Crescent menjadi agenda rutin setiap tahun. Meneropong perkembangan dan tren ikan hias dunia melalui kegiatan farm visit benar-benar menambah wawasan dan relasi bisnis.

Kawasan industri

Dari Max Koi bus langsung melaju ke Tung Hu Aquarium di kawasan Lim Chu Kang. Setelah 20—30 menit berkendaraan, bus akhirnya memasuki k a w a s a n Kranji yang terletak di bagian paling barat Singapura, 35 km dari pusat kota. Ia berbatasan langsung dengan Johor, Malaysia. “Itu Sungai Kranji yang bermuara di Selat Johor. Bangunan itu adalah Tun Aminah Hospital. Itu sudah wilayah Malaysia,” ujar salah satu panitia sambil menunjuk bangunan tinggi di seberang sungai.

Daerah Kranji bukanlah tempat pariwisata dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Tidak ada taman indah atau pohon yang bergelayutan buah-buah. “Ini kawasan industri,” ujar wanita pemandu kegiatan farm visit itu.

Sekitar 10 menit dari kawasan industri itu, suasana langsung berubah. “Inilah kawasan Lim Chu Kang. Pusat penangkaran ikan hias di Singapura. Di kawasan ini puluhan hingga ratusan p e n g u s a h a industri ikan hias berkumpul,” ujar Nah Hwee Seng, staf Agrifood and Veterinary Authority (AVA), Singapura yang mendampingi peserta kunjungan. Sepanjang jalan, di sela-sela pohon dan semak, mulai Lim Chu Kang lane 1 hingga lane 5 berdiri farm-fam ikan hias. Di sinilah bercokol Coral Farm Aquaristic, Royal Hatcheries, Khaiseng Farm, Tung Hu Aquarium, dan industri ikan hias lain.

Tung Hu

Akhirnya bus berhenti tepat di jalan 20 Lim Chu Kang Lane 6F. Langit di atas farm yang lahir sekitar 1980 itu sedikit cerah walaupun gerimis masih turun. Satu per satu pengunjung turun dan langsung mengubek-ngubek farm seluas 2—3 ha.

Di samping bangunan utama, terdapat showroom ikan seluas 200—250 m2. Di dalamnya terdapat deretan rak akuarium berisi aneka macam ikan hias. Mulai guppy, molly, maskoki, hingga ikan siklid dipelihara di sana. Tak ada tanda-tanda yang meyakinkan Tung Hu sebagai penangkar arwana kawakan. Namun, saat pengunjung keluar dari ruangan itu, hamparan kolam arwana langsung terpampang.

“Ini kolam pembesaran dan perawatan arwana. Komoditas utama kami arwana,” ujar Sebrina Tan, pemilik farm. Yang dimaksud adalah 20—25 kolam pembesaran seluas 160 m2 per kolam yang dibatasi jalan setapak selebar 1 m. Di setiap areal terdapat belasan kolam arwana yang masing-masing dibatasi titian kayu. Di bawah titian dipasang jaring agar ikan tidak bercampur aduk.

Sejauh mata memandang Cuma hamparan kolam yang dipagari oleh beberapa bangunan dan pepohonan. Seluruh kolam diatapi screen setinggi 3 m yang dipasang melintang, tegak lurus dengan kolam. Pemasangan jaring sengaja berselangseling. Itu agar cahaya tetap masuk dengan intensitas tidak terlalu tinggi. Di bawah jaring beberapa pengunjung tampak asyik mengitari farm walaupun gerimis turun.

Ekspor-impor arwana

Dari sanalah Tung Hu rutin mengekspor arwana ke Cina, Amerika Serikat, dan Aus t r a l i a . Walaupun baru memfoku s k a n diri di dunia Schleropagus formosus 1,5 tahun silam, tetapi permintaan membludak. Setiap bulan golden arwana, superred, bloodred arwana, dan arwana jenis lain dikirim ke luar negeri. Sekali mengekspor 30 boks berisi ratusan arwana terbang ke negara tujuan termasuk beberapa negara di Eropa. “Sebulan bisa 2—3 kali mengirim,” ujar Alice Chan, staf Tung Hu.

Menurut wanita kelahiran Singapura itu untuk menjaga kepercayaan pasar, Tung Hu mengutamakan kualitas. Perawatan intensif terhadap kondisi air dan pakan menjadi kunci utama. Itu sebabnya arwana tangkaran Tung Hu jarang terserang penyakit. Mulai dari proses perkawinan hingga pembesaran ditangani langsung secara profesional.

“Pembersihan kolam kita perhatikan betul,” ujarnya. Selain itu, proses karantina yang ketat seperti pengecekan kondisi ikan, pemberian obat-obatan hingga puasa seminggu sebelum diekspor membuat arwana tangkaran Tung Hu mendapat pengakuan internasional.

Untuk mendapatkan arwana berkualitas, penyediaan indukan tentu dilakukan. “Kita impor juga dari luar tetapi tidak banyak. Hanya untuk stok indukan,” ujar Alice. Perusahaan yang mempekerjakan 10 karyawan itu mengimpor indukan dari Malaysia, Taiwan, Th ailand, Brasil, Peru, dan Indonesia. Selain kualitas, harga turut diperhitungkan sebelum ikan naga itu dicemplungkan. “Harga arwana di pasaran sangat bersaing. Jadi harus hati-hati,” tambahnya.

Dua jam berlalu. Gerimis tetap turun. Lelah berjalan-jalan, sang pemilik mempersilakan tetamu untuk bersantap siang. Obrolan ringan para pengunjung yang berasal dari Brasil, Peru, Ukraina, Cina, Indonesia, dan negara lain terdengar jelas. Pengalaman hari terakhir berkunjung ke Tung Hu Aquarium dan farm ikan hias lain di Singapura menjadi kenangan yang tak terlupakan. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Empat Gabus Hias yang Cocok untuk Pemula

Trubus.id — Pehobi pemula perlu memahami jenis gabus hias atau channa. Hal ini karena masing-masing gabus hias memiliki tingkat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img