Trubus.id— Dari tangan dingin seorang pengusaha muda asal Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, lahir berbagai varian green bean kopi premium yang digemari penikmat kopi kelas atas. Ia adalah Ari Muartoni, pengusaha yang mengelola biji kopi segar menjadi lima jenis green bean bernilai tinggi: honey green bean, natural green bean, kopi lanang green bean, semi wash dan full wash green bean, serta kopi wine green bean. Kelima produk racikan Ari itu dibedakan berdasarkan proses penanganan pascapanen. Perbedaan perlakuan menghasilkan karakter dan cita rasa khas, sekaligus memengaruhi harga jual.
Dari seluruh varian, kopi wine green bean menjadi produk paling istimewa. Ari menyeleksi biji kopi matang sempurna dengan kulit ceri merah mengilap. Ia merendam biji kopi segar dan hanya menggunakan biji yang tenggelam sempurna. “Biji kopi yang terapung biasanya defect alias rusak, sehingga kualitasnya menurun,” ujar Ari. Biji kopi pilihan itu dijemur di bawah sinar matahari selama empat jam, kemudian dipindahkan ke tempat teduh agar tidak kehilangan kelembapan sebelum fermentasi. Selanjutnya, biji kopi dibungkus plastik dan dimasukkan ke dalam drum tertutup rapat. Proses fermentasi dilakukan selama 25–30 hari. Setelah fermentasi selesai, Ari menjemur kembali biji kopi selama 10–12 hari, lalu melakukan penyortiran ketat. “Kalau ada lubang sekecil jarum, langsung gugur. Karena ini green bean super premium,” jelasnya.
Tak heran, kopi wine green bean hasil fermentasi panjang itu dihargai Rp250.000 per kilogram. Nilai fantastis itu sepadan dengan proses yang rumit dan waktu produksi yang panjang. Selain kopi wine, Ari juga memproduksi varian semi wash dan full wash. Pada varian semi wash, sebagian lendir pada cangkang biji masih tersisa setelah pencucian dengan air mengalir. Sementara full wash benar-benar bersih dari sisa lendir sebelum dijemur di bawah sinar matahari. Varian ini dijual masing-masing seharga Rp180.000 dan Rp200.000 per kilogram.
Ari juga memproduksi kopi lanang green bean, varian unik yang hanya memiliki satu biji dalam setiap ceri kopi. Konon dipercaya dapat meningkatkan stamina. Namun, menurut Ari, cita rasa kuat pada kopi lanang justru berasal dari proses penyerbukan yang tidak sempurna sehingga konsentrasi zat rasa lebih tinggi.
Sejak 2021, Ari bersama komunitas Bolo Kopi aktif melakukan pemberdayaan kepada 12 petani mitra di Desa Songgon, Kecamatan Songgon, Banyuwangi. Setiap petani rata-rata memiliki kebun kopi seluas 1,2 hektare. Ia memastikan seluruh biji kopi berasal dari budi daya yang baik dan dipetik segar. Dengan teknik pascapanen yang tepat, nilai jual green bean meningkat tajam. “Kalau tanpa budi daya dan sortasi yang benar, harga hanya sekitar Rp20.000–Rp25.000 per kilogram. Setelah diolah, bisa naik sampai sepuluh kali lipat,” tutur Ari.
Proses yang teliti dan inovasi pengolahan yang Ari terapkan menjadikan green bean asal Banyuwangi itu bersaing di pasar kopi premium. “Kopi bukan sekadar minuman, tapi karya yang lahir dari kesabaran dan ketelitian,” ujarnya.
