Monday, November 28, 2022

Udang Galah Gurih di Rasa Gurih di Laba

Rekomendasi

Mereka menunggu pesanan menu favorit, aneka masakan udang galah: udang goreng, udang tumis mentega, dan udang saus kalepso. Untuk menjamu pelanggannya setiap bulan Engking Sodikin butuh pasokan 1,2 ton udang segar.

Warung Engking di Desa Jamur, Sendangrejo, Sleman, memang selalu ramai pengunjung. Setiap hari, puluhan bahkan ratusan tamu berdatangan sekadar menikmati kelezatan udang galah dengan suasana pedesaan. Tak heran jika juru masak sibuk memenuhi pesanan tetamu. Pelayan pun tampak mondar-mandir membawa nampan berisi aneka masakan udang dari satu gubug ke gubug lain.

Kian hari pengunjung warung Mang Engking semakin bertambah. Kebutuhan udang air tawar pun semakin banyak. “Setiap hari rata-rata 30 kg udang galah terpanggang di wajan,” tutur ayah 2 anak itu. Khusus Sabtu dan Minggu, serta hari libur kebutuhan udang bertambah 5—6 kali lipat, mencapai 185 kg per hari. Dari usaha restoran khusus udang galah, pria humoris itu meraup omzet Rp15-juta per hari.

Restoran menjamur

Tak hanya warung Engking yang menjadi sasaran pengunjung. Restoran serupa yang menyajikan udang galah diserbu penikmat masakan. Sebut saja warung milik Purwanto Hadi. Lima restoran bambu milik pria kelahiran Yogyakarta 49 tahun silam itu ramai dikunjungi. “Sabtu dan Minggu pengunjung mencapai 500 orang,” kata Purwanto.

Menurut alumnus Arsitektur UGM itu, pengunjung menyukai udang galah selain rasanya gurih juga kandungan proteinnya tinggi, 21%. Tak heran jika menu udang bakar, udang saus mentega, udang kukus, udang saus kalepso menghasilkan omzet Rp5-juta—Rp10-juta per minggu bagi Purwanto.

Keuntungan dari usaha masakan khas udang galah tercium juga oleh Budi Pratikno. Pegawai bidang telekomunikasi di sebuah perusahaan ternama di Jakarta itu, membuka sebuah restoran berkapasitas 50—70 orang. Pilihan Budi mencemplungkan modal Rp5-juta—Rp10- juta tak sia-sia. Pada akhir pekan udang bakar madu, tempura, kuluyuk, dan udang goreng mentega habis diserbu pengunjung. Pria kelahiran Jakarta 38 tahun silam itu menangguk omzet Rp500-ribu—Rp650- ribu per hari.

Berdasarkan pantauan Trubus di Sleman, setidaknya ada 3 restoran bermenu udang galah yang setiap hari sesak pengunjung. Itu belum termasuk warung-warung pinggir jalan di sekitar Yogyakarta dan Kabupaten Sleman yang terus bertambah.

Kurang pasokan

Wajar jika permintaan udang galah melonjak. “Saya membutuhkan 50 kg udang segar per hari untuk restoran,” tutur Purwanto. Untuk memenuhi kebutuhan udang bercapit besar itu, ayah 2 anak itu mengaku kelimpungan. Sebabnya tambak 2.500 m2 hanya menghasilkan 3 kuintal udang dalam 3 bulan. Padahal menjelang Minggu dan hari libur kebutuhan udang meningkat, minimal 1 kuintal harus tersedia. Ia pun tak sungkan mencari dan mengangkut udang segar dari Banguntapan, Kapupaten Bantul dan sentra udang lain.

Setali tiga uang dengan yang dialami Engking. Kolam pribadi seluas 2,3 ha atau setara 13 kolam tambak di daerah Jamur, Sleman, belum menutup kebutuhan konsumen dari Lombok, Jakarta, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Untuk mendapatkan 8 ton per bulan, pria kelahiran Tasikmalaya 43 tahun silam itu harus bolak-balik ke Solo, Semarang, Pekalongan, Magetan, Batang, dan Yogyakarta. Sentra udang di Jawa Timur dan Jawa Barat pun tak luput dari sasarannya.

Menurut Engking dari jumlah petambak yang ada tak mampu menutup permintaan udang galah. Apalagi tangkapan alam dari sungai pun semakin berkurang. Nadi, pemasok ke restoran di Jakarta, kelimpungan mendapatkan udang galah tangkapan alam berbobot 6—10 ekor per kg. Padahal 50—200 kg udang segar untuk pelanggannya harus terpenuhi dalam 2—3 hari.

Para pengepul dari Jambi dan Pontianak yang diandalkan tak sanggup memenuhinya. Mau tidak mau restoran dan pasar swalayan langganannya terbengkalai. “Pengepul di daerah berebut. Kalau ada udang harus cepat dibeli,” kata pria asal Palembang itu. Ia pernah merogoh kocek sampai Rp1-juta sebagai panjar untuk mendapatkan udang galah 1 kuintal. Itu dilakukan demi konsumen. Karena tak ada barang, omzet Rp10-juta per bulan yang ditangguk kini turun 20%.

Budidaya galah

Untuk mengatasi lonjakan permintaan giant freshwater prawn dari Jakarta, Yogyakarta, dan Jawa Tengah, Budi Pratikno mulai memperluas kolamnya. Dengan modal operasional Rp5-juta—Rp6-juta, enam kolam masing-masing berukuran 850—900 m2 telah dioperasikan. Sebanyak 50.000—60.0000 benur ditebar untuk menghasilkan 2,5 ton udang. Dengan harga jual Rp35.000 per kg ke pelanggan di Jakarta, ia menangguk untung bersih Rp12-juta setiap musim tanam.

Purwanto Hadi juga memperluas tambaknya menjadi 2,7 ha dari semula 2.500 m2. “Kalau cuma mengandalkan luasan kecil, kebutuhan warung sendiri saja tak bisa dipenuhi,” tutur pria bergelar insinyur itu. Dengan mengeluarkan biaya pakan dan pupuk Rp1,5-juta sekali menabur, untung sekitar Rp2,5-juta per bulan dari luasan 2.500 m2.

Keuntungan semakin menggelembung setelah mendapat pasokan dari kelompok tani Rukun Agawe Santoso. Sebab selain untuk restoran sendiri ia pun memasok permintaan pasar swalayan, tradisional, dan restoran-restoran di Semarang.

Kesulitan pasokan udang galah memang terjadi di mana-mana. Solusinya, menggalakkan budidaya. Ketimbang udang windu, harga pakan udang galah jauh lebih murah, sehingga biaya pun hanya separuhnya. Dengan perawatan intensif dan pakan tercukupi, udang galah dipanen dalam 3—4 bulan. (Rahmansyah Dermawan)

 

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img