Monday, November 28, 2022

Ulin Sekuat Besi

Rekomendasi
Dra Eny Dwi Pujawati MSi,kayu ulin awet karena kayaeusiderin yang anticendawandan antiserangga
Dra Eny Dwi Pujawati MSi, kayu ulin awet karena kaya eusiderin yang anticendawan dan antiserangga

Kayu ulin kuat sekeras besi, tapi tahan air dan antikarat.

Saking keras kayu ulin, paku besi pun tak mampu menusuknya. Paku melengkung tanda menyerah. Para tukang di Sumatera dan Kalimantan mengatasi kekuatan kayu anggota famili Lauraceae itu dengan mata bor baja. Lubang yang terbentuk ‘dikunci’ pasak kayu sebagai pengganti paku. “Perkakas lain pun cepat tumpul bila digunakan untuk memotong atau membelahnya,” kata Ahmad Sanusi, tukang kayu di Banjarmasin, Kalimantan Selatan

Itulah kayu ulin Eusideroxylon zwageri yang dijuluki kayu besi. Sosoknya seperti kayu biasa, bedanya permukaan kayu menghitam. Warnanya semakin hitam mengilap bila diolesi solar. Lalu, cobalah angkat! Ups, sangat berat. Bobot kayu bulian-julukan ulin di Palembang, Sumatera Selatan-lebih berat daripada kayu lain pada volume setara. Bobot jenis kayu ulin 1,04. Balok ukuran 300 cm x 10 cm x 10 cm bobotnya lebih 30 kg. Bandingkan dengan jabon atau sengon yang hanya 12 kg.

Kayu ulin juga istimewa karena awet. “Iron wood termasuk kayu kelas kuat I dan kelas awet I. Itu peringkat kayu paling atas di dunia,” kata Dra Eny Dwi Pujawati MSi, ahli fisiologi pohon dari Fakultas Kehutanan, Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Maklum, tak semua kayu kelas kuat I juga kelas awet I. Contohnya medang ara Arthocarpus altissimus termasuk kelas kuat I tapi hanya kelas awet IV. Ulin setara dengan eboni Diospyros celebica, si kayu hitam asal Sulawesi.

Pantas ulin menjadi satu-satunya jenis kayu yang dijadikan tiang jembatan pada sungai dan rawa di Sumatera dan Kalimantan Selatan yang airnya terkenal masam. “Bila menggunakan logam pasti cepat hancur karena karat,” kata Dr Ir Momon Sodik MAgr, ahli tata air dari Jurusan Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya, Palembang. Air rawa dan sungai di Sumatera dan Kalimantan mengandung sulfat yang berasal dari lapisan pirit (FeS2) pada tanahnya. Sulfat yang sangat masam dengan mudah menjebol struktur logam hingga hancur.

Menurut Eny ulin menjadi sangat kuat karena kayunya mengandung senyawa fenolik yang disebut eusiderin. Senyawa itu sangat tidak disukai serangga, cendawan, dan mikroorganisme perombak lainnya. “Sangat langka sekali kayu ulin melapuk,” kata Eny. Buktinya tiang jembatan ulin tetap utuh setelah puluhan tahun. Hanya papan jembatan ulin yang biasanya rusak karena pengaruh fisika. Beban kendaraan yang melintas disertai terpaan terik matahari dan perubahan suhu selama  puluhan tahun membuat kayu pecah, bukan lapuk.

Kandungan lignin yang tinggi pada ulin juga membuatnya awet dan kuat. “Prinsipnya kayu yang kuat dan awet itu kaya lignin dan rendah selulosa,” kata Eny. Lignin bersifat liat dan keras sehingga tidak disukai serangga. Sebaliknya selulosa yang tergolong karbohidrat lunak dan menjadi pakan serangga. Pantas salah satu teknik pengawetan kayu ialah menghilangkan selulosa dari kayu. Contohnya bambu dan kelapa direndam berminggu-minggu di sungai agar selulosa hanyut. Lignin pada ulin pula yang menjadikannya tahan air sangat masam.

Menurut Ir Edhi Sandra MS, ahli fisiologi dari Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, kekuatan kayu juga ditentukan oleh kepadatan sel penyusun. “Semakin cepat pertumbuhan, maka semakin besar dan berongga sel penyusunnya. Sebaliknya kian lambat perumbuhan, semakin kecil dan padat,” kata Edhi. Sel kayu ulin sangat padat karena pertumbuhan pohon ulin sangat lambat.

Secara alami riap tumbuh (pertumbuhan diameter, red) kayu ulin rata-rata hanya 0,058 cm per tahun. Bandingkan dengan jabon yang mencapai 7-10 cm per tahun. Kepadatan sel penyusun kayu ulin itu tergambar dari bobot jenisnya yang mencapai 1,4 g/cm3 sementara sengon dan jabon rata-rata 0,4 g/cm3. Dengan padatnya ulin, maka bobot kayu ulin 2-3 kali lipat dari jabon dan sengon. “Dari berat jenis dapat diprediksi kekuatan dan keawetan kayu, karena biasanya berat jenis berbanding lurus dengan kekuatan dan keawetan kayu,” kata Edhi. (Ridha YK, Kontributor Trubus di Kalimantan Selatan)

 

 

Balok dan Sirap

Sosok pohon mirip. Batang, daun, dan biji pun nyaris serupa. Hanya orang yang sehari-hari bergaul dengan kayu ulin yang dapat mengenali 2 jenis kayu ulin. Sedikit yang tahu kayu ulin ada 2: ulin balok dan ulin sirap. Menurut Ir Abdul Aziz Karim MP, anggota staf pengajar di Fakultas Kehutanan Universitas Lambung Mangkurat, Banjarbaru, Kalimantan Selatan, dalam bahasa taksonomi ulin balok Eusideroxylon malagangai dan ulin sirap E. zwageri.

Ulin balok kerap dipakai sebagai tiang dan papan, sementara ulin sirap khusus untuk atap sirap bangunan khas Suku Banjar dan Dayak. Ulin sirap-meski keras-mudah dibelah membentuk lempengan-lempengan tipis. Itu karena tekstur penyusun kayu lurus dan teratur. Di habitat aslinya keduanya sulit dibedakan. Cara termudah membedakannya ialah dengan membuat sayatan kecil di kulit kayu. Kulit kayu lalu ditarik dengan tangan. Bila kulit kayu mudah terkelupas tanpa terputus maka ia ulin sirap. Sementara bila kulit terputus dan keras, maka itu ulin balok. (Ridha YK)

Keterangan Foto :

  1. Kayu ulin sebagai papan jembatan yang tahan lama
  2. Dra Eny Dwi Pujawati MSi, kayu ulin awet karena kaya eusiderin yang anticendawan dan antiserangga
  3. Tunggul ulin berumur 40 tahun tetap bertahan meski terbakar oleh kebakaran hutan berpuluhkali
  4. Daun ulin balok (kiri) dan sirap
  5. Atap sirap kayu ulin tahan puluhan tahun

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Robusta Rasa Kelapa

Trubus.id— “Kopi arabikanya enak.” Itulah yang kerap terucap dari para penikmat kopi ketika mencicipi kopi asal Desa Tamansari, Kecamatan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img