Thursday, February 9, 2023

Universitas Indonesia Kembangkan Alat Pendeteksi Longsor

Rekomendasi

Trubus.id — Universitas Indonesia baru-baru ini mengembangkan inovasi pendeteksi longsor jarak jauh. Inovasi itu bernama Landslide 2.0, Landslide Early Warning System (LEWS) untuk pemantauan tanah longsor secara online.

Landslide 2.0 merupakan kreasi tim peneliti dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia (FMIPA UI) yang terdiri atas Dr. Parluhutan Manurung (Geografi), Dr. Supriyanto (Geosains), dan Iskandar Koto, M.Sc. (Geosains).

Alat itu didesain untuk mendeteksi perubahan jarak dan kemiringan di daerah rawan longsor. Sistem peringatan dini ini menggunakan sensor laser distance yang dioperasikan secara terus-menerus dari lokasi pantau melalui transmisi data komunikasi cellular atau komunikasi Internet of Things (IoT).

Desain, komponen, dan cara kerja Landslide 2.0 dibuat seringkas mungkin agar lebih terjangkau mengingat longsor terjadi di hampir seluruh wilayah Indonesia. Sistem peringatan ini dibuat lebih praktis agar masyarakat dari berbagai kalangan dapat mengoperasikannya.

Selain itu, Landslide 2.0 dilengkapi radio untuk menjangkau daerah terpencil yang tidak memperoleh akses telekomunikasi, serta dilengkapi panel surya kecil berukuran 12 watt peak (WP) sebagai sumber energi ramah lingkungan.

Dengan perawatan yang baik, alat ini dapat tetap optimal digunakan dalam kurun waktu lima tahun. Cara kerja Landslide 2.0 adalah dengan memantau perubahan jarak atau retakan sebagai indikasi pergerakan tanah melalui sensor laser rangefinder yang ditempatkan di satu sisi tiang pantau.

Kerumitan perubahan ini perlu dikonfirmasi dengan pemantauan vertikalitas atau ketegakan tiang pantau. Apabila perubahan jarak yang diukur telah melampaui ambang batas, sistem akan memberikan peringatan agar user menghindari daerah rawan longsor.

Hasil pemantauan juga ditransfer ke sistem cloud server untuk ditampilkan secara daring dan real time pada website. Dr. Parluhutan menyebut, pemantauan bersifat lokal di berbagai lokasi rawan longsor dapat diintegrasikan secara nasional sehingga pola pergerakan tanah di berbagai daerah dapat dianalisis secara komprehensif dan lengkap.

Teknologi inovasi berbasis masyarakat ini diharapkan dapat mendukung pengurangan risiko bencana longsor, terutama di permukiman masyarakat berpendapatan rendah.

“Harga yang terjangkau memungkinkan kita untuk membantu masyarakat dan pemangku kebijakan daerah dalam membangun sistem peringatan dini secara mandiri di daerah masing masing,” papar Dr. Parluhutan dilansir dari laman Universitas Indonesia.

Alat tersebut telah diujicobakan selama enam bulan di daerah Bojong Koneng, Bogor, Jawa Barat dan terbukti cukup efektif memantau pergerakan tanah sebelum longsor serta mengirimkan peringatan dini secara real time ke masyarakat.

Dengan harga yang relatif terjangkau, yakni Rp30–Rp50 juta, masyarakat dapat mengoperasikan Landslide 2.0 untuk membangun sistem peringatan dini bencana longsor secara mandiri di daerah masing-masing.

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Meybi Kantongi Omzet Rp75 Juta Sebulan dari Daun Kelor

Trubus.id — Daun moringa alias kelor bagi sebagian orang identik dengan mistis. Namun, bagi Meybi Agnesya Neolaka Lomanledo, daun...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img