Sunday, August 14, 2022

Untung Menanti Kebunkan Kentang Industri

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Pundi-pundi Anjar menggelembung karena menangguk untung bersih Rp150-juta setelah dikurangi biaya produksi Rp45-juta per ha.

Pantas Anjar tersenyum. Betapa tidak, ia berkali-kali menuai rugi selama bergelut di dunia agribisnis. Pada 2000 ayah 1 anak itu bertanam kol dan cabai di lahan 2 ha. Terpaan badai meluluhlantakkan tanaman. Harapan meraup laba pun musnah. Dewi Fortuna tampaknya belum berpihak padanya. Ketika menanam buncis di lahan 0,5 ha kegagalan kembali menghampiri. Pada 2001 ia beralih ke granola. Sayang, kentang sayur itu juga sukar untuk dijadikan sandaran hidup karena harga berayun-ayun.

Kentang industri menjadi pilihan untuk dikebunkan pada Februai 2003. Ia menanam 2,5 ton bibit atlantik pinjaman PT Indofood Fritolay seharga Rp8.500 per kg. Tak disangka, hanya dalam 1 periode tanam modal yang dipinjam langsung terbayar. “Jatuh bangun berkebun sudah saya rasakan. Hanya di kentang industri saya untung,” ujarnya. Kentang industriadalah kentang yang dimanfaatkan antaralain untuk pembuatan keripik. Varietas yang beredar di pasar di antaranya atlantik, hermes, kenebek, dan russet burbank.

Yang juga mendulang laba dari kentang industri adalah Asep Rahmat. Pekebun di Ciwidey, Bandung, itu menanam atlantik di lahan 10 ha. Setiap periode tanam ia bisa memanen 13—24 ton per ha tergantung kondisi bibit. Dengan harga Rp3.750 per kg dan biaya produksi Rp37-juta, ia untung Rp11,75- juta per ha. Laba yang diraup kian besar karena ia bermitra dengan pekebun lain yang mengelola lahan 5 ha. Wajar ia berniat memperluas lahan hingga 40 ha.

m terpenuhi

Anjar dan Asep hanyalah 2 dari banyak pekebun yang mencecap manisnya berkebun kentang industri. Serapan pasar tinggi menjadi penyebab mereka berlomba memperluas lahan. Menurut Rahmad Mudjiono dari PT Mandiri Alam Lestari setiap bulan Indonesia membutuhkan 5.000 ton kentang industri. “Yang terpenuhi baru 50—400 ton,” ujarnya.

Keinginan pekebun menanam kentang industri seiring dengan dibukanya pabrikan baru. Serapannya cukup besar. PT Indofood Fritolay, umpamanya, membutuhkan minimal 900 ton per bulan. Di Bekasi ada PT URC Indonesia yang mengolah 3—4 kontainer masing-masing 40 feet per bulan. Piatoz, keripik kentang keluaran URC Indonesia sangat diminati pasar. Di Cibitung, Bekasi, dan Surabaya juga berdiri pengolah keripik.

Belum lagi industri rumahan yang menjamur di berbagai daerah. CV Sinata Tosari Pasuruan (STP) di Pasuruan memproduksi 12 kg keripik kentang per hari. Untuk menghasilkan 1 kg keripik dibutuhkan 7—8 kg bahan baku. DiBandung, Wonosobo, Banjarnegara, dan Batu, industri serupa bermunculan. Ratarata setiap produsen memerlukan 100—200 kg kentang per hari (baca: Pasar Keripik Terganjal Bahan Baku, Trubus edisi Juni 2004). “Tiga tahun lalu saya jual keripik atlantik laku keras, padahal harga Rp20.000 per kg,” ujar Marhaeni, pemilik STP.

Mitra

Selain serapan pabrikan yang tinggi, harga stabil juga menjadi pendorong pekebun menanam kentang industri. Di Jawa Barat misalnya, sejak 2000—2003 harga bertengger pada kisaran Rp3.000 per kg. Kini harga itu naik Rp3.750 per kg hingga 1 Agustus 2004. Setelah itu harga akan dipatok Rp3.400 per kg. Di Jawa Timur pada 2001—2003 harga mencapai Rp2.600 per kg; sekarang, Rp2.800 per kg. Toh, kisaran harga itu adalah angka tertinggi untuk kentang industri di Asia. “Pekebun di Indonesia sudah untung. Di negara lain, harganya lebih rendah,” ujar Kari Suryana SP, manajer kebun MAL.

Harga kentang industri itu stabil karena mereka bermitra dengan pabrikan. Di Jawa Barat umumnya pabrikan meminjamkan bibit untuk ditanam pekebun. Baru setelah panen, bibit seharga Rp8.500 per kg itu Rp2.600 per kg; sekarang, Rp2.800 per kg. Toh, kisaran harga itu adalah angka tertinggi untuk kentang industri di Asia. “Pekebun di Indonesia sudah untung. Di negara lain, harganya lebih rendah,” ujar Kari Suryana SP, manajer kebun MAL. Harga kentang industri itu stabil karena mereka bermitra dengan pabrikan.

Di Jawa Barat umumnya pabrikan meminjamkan bibit untuk ditanam pekebun. Baru setelah panen, bibit seharga Rp8.500 per kg itu dibayarkan. Lain lagi di Jawa Timur, pemasok menganggap bibit yang diberikan kepada pekebun sebagai investasi. Jadi keuntungan hasil panen dibagi 2 antara pekebun dengan pemasok. “Dihitunghitung kami tetap untung. Saya dari berkebun kentang industri bisa ke Malaysia,” ujar Ahmad Rifa’i, pekebun di Pujon, Batu, Jawa Timur.

Sayang dibalik peluang itu kelangkaan bibit jadi masalah. Itu dialami Ruba’i, pekebun di Pujon, Batu, yang baru sekali menanam kentang industri. Ia sudah membuka lahan seluas 4 ha, sayang, hanya tersedia 7 kuintal bibit. Bibit itu hanya cukup untuk penanaman di lahan 4.000 m2. “Saya tidak tahu kalau bibit mulai langka,” ujarnya. Ia pun tidak bisa untung besar lantaran sebagian hasil panennya terkena hama uret.

Varietas sesuai

Dari sekian banyak varietas kentang industri yang ditanam pekebun umumnya atlantik. Sebab ia lebih adaftif di Indonesia. Varietas lain seperti kenebek dan hermes daya adaptasi dengan iklim di Indonesia lebih sulit. Hermes misalnya, kurang cocok ditanam di lahan yang ketinggiannya kuran dari 1.300 m dpl.

Walau begitu, menurut Rahmad, pekebun masih berharap varietas baru yang lebih cocok di Indonesia dengan hasil di atas 20 ton per ha. “Kita terbuka dengan varietas baru. Asalkan cocok untuk pabrikan dan disukai pekebun,” ujar Rahmad. Varietas yang disukai pabrikan adalah kentang dengan spesific gravity alias bobot jenis di atas 1,07 dan bila digoreng tidak retak.

Boleh masuk

Kelangkaan bibit kentang industri karena terhambat nematoda sista kuning yang muncul Februari 2003. Sejak Agustus 2003 Badan Karantina Tumbuhan memperketat impor bibit untuk mencegah meluasnya wabah. Itu dialami oleh Rahmad, pada bulan itu ia mendatangkan bibit atlantik dari Skotlandia. Karena diduga tercemar penyakit, maka 100 ton bibit itu dibakar oleh karantina untuk penyelamatan. Kerugian yang ia derita setara dengan Rp850-juta.

Menurut Suparno SH, kepala Bidang Karantina Tumbuhan Luar Negeri, setelah diteliti nematoda tidak ditemukan di bibit kentang industri. Karena itu, peluang impor bibit kentang terbuka, asalkan perusahaan telah mendapat izin rekomendasi. Artinya pekebun kian bergairah mengebunkan kentang industri. Laba di depan mata, sayang untuk disia-siakan. (Destika Cahyana/Peliput: Evie Syariefa, Pupu Marfu’ah, dan Sardi Duryatmo)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img