Friday, August 19, 2022

Untung Olah Nyamplung

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Semula buah nyamplung berserak di pesisir. Kini masyarakat mencarinya dan mengolah menjadi minyak. Pasar mencari minyak nyamplung.

Pasar produk turunan minyak nyamplung terbuka.

Trubus — Hari Natal dan pergantian tahun menjadi libur panjang bagi kebanyakan orang. Namun, tidak bagi produsen minyak nyamplung di Kabupaten Sleman, Yogyakarta, Vivin Carolina (38). Akhir pekan pascapergantian tahun, mesin produksinya aktif berputar. Permintaan minyak dari mancanegara melalui seorang rekan menanti pasokan. Setiap terkumpul 200 liter ia langsung mengirimkannya.

Produsen minyak nyamplung di Sleman, Vivin Carolina (kanan) dan putri pertamanya Yovin Purnama Sari.

Sejak Desember 2019—Januari 2020, Vivin 2 kali mengirimkan minyak. “Pertengahan bulan (Januari 2020) nanti mengirim lagi,” kata ibu 2 putri itu. Setiap pengiriman omzet Vivin Rp40 juta, karena harga Rp200.000 per liter. Ia baru mampu melayani satu pembeli dari satu negara. “Permintaan dari negara lain belum saya penuhi karena kapasitas produksi terbatas,” katanya. Maklum, ia hanya memiliki 2 pekerja.

Kosmetik

Selain itu, Vivin melirik pasar yang lebih “seksi”, yaitu sebagai minyak oles kulit, serum penumbuh rambut, dan sabun mandi. Meski prosesnya lebih panjang dan rumit, harga jual produk-produk turunan itu lebih mahal. Pemakaian minyak per item sedikit sehingga nilai seliter minyak terdongkrak berkali-kali lipat ketimbang menjual curah. Saat ini Vivin mengurus izin ke Badan Pengawasan Obat dan Makanan untuk merek produk kosmetik minyak nyamplung buatannya.

Manajer PT Sinergi Panggung Lestari,
Panggungharjo, Bantul, Sander Purnama.

Sementara itu di di Desa Panggungharjo, Sewon, Kabupaten Bantul, PT Sinergi Panggung Lestari (SPL) lebih dulu memproduksi kosmetik berbasis minyak nyamplung. Manajer SPL, Sander Purnama (28) menyatakan, sejak 2018 mereka rutin memproduksi 300—350 liter minyak dari biji nyamplung itu setiap bulan. Sebagian besar produk itu mereka jual curah dengan harga Rp250.000—Rp350.000 per liter ke distributor di Tangerang, Surakarta, dan Yogyakarta.

Ia memproses sisanya menjadi sabun, calir (lotion), atau krim wajah. Omzet bulanan SPL Rp75 juta—Rp122,5 juta. Perusahaan yang merupakan satu dari tiga divisi usaha Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panggungharjo itu meluncurkan 2 merek produk kosmetik dengan segmen pasar dan harga berbeda. Merek Kumarati untuk kelas menengah ke atas, sedangkan merek Hiju untuk kelas biasa.

Periset nyamplung di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan, Prof. Budi Leksono, Ph.D.

Sementara itu di Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, ada Samino yang menggeluti minyak nyamplung sejak 2008. Perniagaan minyak nyamplung kini menjadi mata pencaharian utamanya. Semula ia menekuni minyak jarak Ricinus communis. Namun, Samino berpaling ke nyamplung lantaran biji jarak nihil pasokan (baca “Kilang Nyamplung dari Kroya”, Trubus Oktober 2008).

Setiap hari pria berusia 68 tahun itu memproduksi 100 liter minyak nyamplung. Ia menjual Rp70.000—Rp80.000 per kg. Pembeli utama minyak buatan Samino adalah salah satu produsen minyak herbal tanah air. Mengapa harga minyak Samino lebih murah? Berada di tengah sentra, ayah 2 anak itu bisa mendapat bahan baku berupa buah kering seharga Rp2.000 per kg. Sementara Vivin dan SPL memperoleh bahan sama dengan harga Rp5.000 per kg.

Maklum, pohon nyamplung Calophyllum inophyllum dalam luasan besar di Jawa hanya tersisa di Kabupaten Purworejo, Kebumen, dan Cilacap—semua di Jawa Tengah. Pohon anggota famili Calophyllaceae itu tumbuh di daerah pesisir selatan Pulau Jawa. Samino menyatakan, buah dari ketiga daerah itu cukup untuk memasok kebutuhan para pengolah.

Nirlimbah

Vivin tertarik mengolah nyamplung sejak 2017 setelah mengobrol tentang khasiat minyak nyamplung dengan seorang rekan. Alumnus Program Diploma Sastra Inggris salah satu akademi di Kota Yogyakarta itu bertemu dengan periset nyamplung di Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH), Sleman, Prof. Budi Leksono, Ph.D.

Minyak nyamplung bahan baku kosmetik diminta pasar.

Budi mendalami nyamplung sejak 2009 sebagai salah satu tanaman nonpangan sumber bahan bakar. Budi juga mengetahui khasiat minyak nyamplung dari berbagai sumber mancanegara, terutama India. Masyarakat Negeri Bollywood itu menyebut minyak nyamplung sebagai tamanu. Teknologi informasi menjadikan minyak itu makin populer di negara-negara maju.

Informasi dari Budi tidak serta-merta memuluskan langkah Vivin. Ia mencoba berbagai desain alat pemeras minyak sampai habis ratusan juta rupiah sebelum akhirnya mendapat konstruksi terbaik. Pengalaman sama juga dilalui SPL. Menurut anggota staf Produksi dan Administrasi SPL, Irfandi Cahyanto, mereka rutin bongkar pasang alat dan memodifikasi mesin sejak 2016. “Biaya yang keluar ada kalau Rp400 juta,” kata Andi, panggilan Irfandi.

Inisiator pengolahan nyamplung Panggungharjo adalah Wahyudi Anggoro Hadi, yang kini menjabat kepala desa. Menurut Budi Leksono industri nyamplung tidak menyisakan limbah apa pun. “Kulit maupun ampas perasan biji juga laku,” kata alumnus School of Agicultural and Life Sciences, University of Tokyo, Jepang itu. Para produsen minyak itu optimis dengan prospek minyak tamanu. Mereka membuktikan keuntungan mengolah nyamplung. (Argohartono Arie Raharjo)

Previous articleMelati Sehat
Next articleBikin Minyak Nyamplung Premium
- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img