Sunday, August 14, 2022

Urban Farming BI, Trubus & PKK: Panen Sayuran di Pekarangan

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Cabai bernilai ekonomi tinggi, sehingga menarik untuk dibudidayakan.
Cabai bernilai ekonomi tinggi, sehingga menarik untuk dibudidayakan.

Halaman rumah produktif dengan penanaman sayuran. Kebutuhan pangan keluarga terpenuhi dan penghasilan bertambah.

Gaung semangat go green alias gaya hidup kembali ke alam sampai kepada Amir Bedogon, ketua Rukun Warga (RW) 04 Kelurahan Setu, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Ia menanam cabai di pekarangan rumah. Setiap kali mengadakan pertemuan dengan 10 kepala Rukun Tetangga (RT) di wilayahnya, Amir mengajak mereka untuk untuk menanam sayuran di pekarangan.

“Selain untuk konsumsi sendiri untuk ketahanan pangan keluarga, juga bisa memperindah halaman,” ujar anggota Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) itu. Sayang, ajakan Amir hanya bertepuk sebelah tangan. Tidak satu pun kepala keluarga melakukannya. “Mereka terkendala waktu dan sempitnya lahan,“ ujar warga Kelurahan Setu, Cipayung, Jakarta Timur itu.

Tanam sayuran bertingkat untuk menghemat lahan.
Tanam sayuran bertingkat untuk menghemat lahan.

Panen perdana
Amir satu-satunya yang bertani di kampung itu. Kondisi itu berubah pada 29 Juli 2015. Hari itu, warga kampung Setu memanen 31,5 kg beragam sayuran daun seperti bayam, kangkung, sawi, dan pakcoy dari 74 polibag. Penanaman sayur itu dalam rangka kegiatan urban farming atau pertanian perkotaan Bank Indonesia (BI) bekerja sama dengan PT Trubus Swadaya, pengelola majalah Trubus dan Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Provinsi DKI Jakarta. Kegiatan itu berupa penanaman sayuran daun dan cabai di dalam polibag.

Menurut Rodiah, salah satu warga dan anggota PKK yang aktif dalam kegiatan itu, hasil panen pertama mereka bagikan ke kepada warga. “Panen kedua barulah kami jual dan laku Rp165.000,” ujarnya.

Para pembeli yang sebagian besar penjual sayur keliling mengacungi jempol hasil panen mereka. “Sayurnya segar dan gemuk-gemuk. Kalau ada lagi saya pesan,” ujar perempuan kelahiran 2 Maret 1975 itu menirukan ucapan seorang pembeli. Rodiah lantas mengajak sang suami memanfaatkan pekarangan rumah untuk menanam sekitar 30 polibag sayuran daun seperti, selada, pakcoy, dan sawi.

Sayuran hasil pertanian perkotaan warga Kampung Setu, Jakarta Timur.
Sayuran hasil pertanian perkotaan warga Kampung Setu, Jakarta Timur.

“Prioritas untuk konsumsi sendiri, sisanya dijual sebagai tambahan uang belanja,” ujar Rodiah. Menurut Amir ada 2 ketua RT yang juga tertarik berkebun beragam sayuran di pekarangan, yaitu RT 3 dan RT 5 dengan motor ibu-ibu anggota PKK sebagai penggerak. Prita Mariska, perwakilan Bank Indonesia berharap program pertanian perkotaan meningkatkan ketahanan pangan di rumah. Harap mafhum ketahanan pangan kerap menjadi masalah di negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

“Selain mempercantik estetika perkotaan, program ini nantinya kami harapkan berdampak kepada faktor ekonomi karena hasil panen dapat dijual untuk menambah penerimaan,” ujar Prita. Program pertanian perkotaan BI-Trubus tersebar melalui kelompok Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) di 5 wilayah kota di DKI Jakarta. Menurut Julli Kurniati, ketua Kelompok Kerja 3 PKK Provinsi DKI Jakarta, ada 5 kotamadya di Jakarta yang menerima program itu.

Ir Nurjaya SE, MM (baju putih), Prita Mariska perwakilan dari Bank Indonesia (paling kiri) membina warga perkotaan untuk budidaya sayuran.
Ir Nurjaya SE, MM (baju putih), Prita Mariska perwakilan dari Bank Indonesia (paling kiri) membina warga perkotaan untuk budidaya sayuran.

Sempit sukses
Julli Kurniati mengatakan, “Dari 5 daerah itu dipilih masing-masing 3 titik sehingga total terdapat 15 titik,” ujarnya. Setiap wilayah mendapat 700—1.500 benih sayuran daun dan cabai. Menurut Julli, pertanian perkotaan merupakan salah satu program yang tepat untuk masyarakat perkotaan karena tidak memerlukan lahan luas, cepat panen, dan bisa memanfaatkan pekarangan.

“Meski sisa halaman sedikit bisa ditanami. Kalaupun tidak ada bisa digantung,” ujar perempuan kelahiran 29 Juli 1949 itu. Buktinya, di salah satu rumah di Pasarminggu, Jakarta Selatan, bagian samping dan belakang berbatasan langsung dengan rumah lain. Lahan tersisa seluas 0,8 m x 1 m pun tetap bisa ditanami. “Ada 20 rumah seperti itu di Pasarminggu yang bisa menanam sayuran,” kata Julli.

Sayuran hijau mempercantik halaman sekaligus menambah penghasilan keluarga.
Sayuran hijau mempercantik halaman sekaligus menambah penghasilan keluarga.

Dengan demikian masyarakat tetap mendapatkan manfaatnya. Salah satunya Hariyati, anggota tim PKK Kota Jakarta Selatan. Ia dan rekan-rekannya mulai mengetahui cara yang benar untuk menanam cabai dan membedakan tanaman sehat atau sakit. “Dulu ibu-ibu mencari sayuran yang mulus karena dianggap lebih bagus. Ternyata hal itu salah karena tanaman mulus biasanya menggunakan pestisida yang membahayakan kesehatan,” ujarnya.

Kini ia tidak lagi berpatokan dengan kemulusan sayuran, tetapi berusaha menanam sendiri di rumahnya. Hariyati membudidayakan cabai di pekarangan rumah dengan pot. “Hasilnya bagus, sayang tidak seragam,” ujarnya. Ir Nurjaya SE MM, konsultan dari PT Trubus Swadaya menuturkan, tanaman cabai memerlukan perawatan yang lebih intensif dibandingkan sayuran lain.

“Jika sudah bisa menanam cabai dan hasilnya baik, maka menanam sayuran lain akan lebih mudah,” ujarnya. Menurut Nurjaya, ada 4 kiat sukses membudidayakan tanaman pedas itu, yaitu persemaian, pindah tanam atau transplanting, pemeliharaan, dan terakhir hobi. “Jika sudah hobi maka kita akan merawat dengan cinta sehingga tanaman akan tumbuh baik dan sehat,” ujarnya.

 Warga Kampung Setu, Jakarta Timur, saat panen sayuran.
Warga Kampung Setu, Jakarta Timur, saat panen sayuran.

Pada masa mendatang, Julli Kurniati ingin membekali warga dengan ilmu pascapanen. “Saat para petani panen raya, pasti harga cabai anjlok. Nah, saat itu kita bisa manfaatkan teknologi pascapanen,” katanya. Ia ingin mengajari warga cara membuat cabai bubuk agar harganya tetap tinggi meski panen raya.

Prita Mariska menuturkan, pemanenan sayur-mayur yang warga lakukan sesuai dengan harapan BI. “Kami ingin menjadikan program pertanian perkotaan di Provinsi DKI Jakarta ini untuk skala nasional,” ujar Prita. Warga Jakarta sudah membuktikan, pekarangan sempit, waktu sedikit, tak jadi halangan untuk berkebun sayur-mayur demi ketahanan pangan keluarga Indonesia. (Bondan Setyawan/Peliput: Ian Purnamasari dan Riefza Vebriansyah)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img