Monday, August 15, 2022

Usaha Kreatif 3: Kumis Putih Penghasil Duit

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

 

Dengan lama produksi 4 tahun – kumiskucing tetap dapat dipanen hingga umur 5 tahun – biaya produksi hanya Rp1.130 per kg (lihat analisis usaha: Hitung Untung Remujung halaman 37). Maka laba bersih Budiman Rp9,7-juta sebulan. Itu keuntungan dari kebun sendiri. Budiman juga memasok seorang eksportir rata-rata 35 – 50 ton per bulan. Permintaan lebih besar daripada itu, tetapi sulit mencari barang. Ia mengutip laba cuma Rp500 – 800 per kg. Sepintas kecil, tetapi secara akumulasi keuntungan sebagai pengepul Rp17,5-juta per bulan.

Lima tahun

Tertarik mengikuti jejak Budiman? Bila lahan di bawah tegakan sengon atau jati masih kosong atau tanah Anda marginal, kumiskucing layak dipertimbangkan. Kerabat nilam itu mampu tumbuh di kedua jenis lahan itu. Lagi pula kumiskucing tak menuntut banyak perawatan. ‘Hingga kini belum ada serangan hama penyakit yang berarti,’ kata Ir Octivia Trisilawati MS, periset Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Aromatik.

Penanaman kumiskucing di bawah tegakan, tak mempengaruhi senyawa aktif. Paling hanya penurunan produksitivitas. Angka penurunan produksi sangat tergantung pada intensitas sinar matahari. Menurut Octivia agar kumiskucing tumbuh baik perlu intensitas sinar matahari minimal 55%. Tanaman anggota famili Labiatae itu mampu tumbuh di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 m dpl. Semakin tinggi lokasi kebun, kian berkurang senyawa aktif.

Orthosiphon aristatus panen perdana pada 3 bulan pascatanam. Interval panen setiap 2 pekan selama 5 tahun. Artinya, sekali menanam, pekebun dapat memanen 114 kali. Produksi perdana rata-rata 300 kg kering per ha. Pada panen kedua meningkat menjadi 400 kg kering, dan 500 kg kering pada panen berikutnya. Volume stabil pada panen ke-5 mencapai 800 kg kering. Meski ada beberapa pekebun yang menuai hingga 1 ton kering. Satu kg kering berasal dari 6 kg segar.

Daun muda remujung – 5 daun teratas – banyak diminta pasar. Pekebun, pengepul, dan eksportir yang Trubus hubungi secara terpisah mengatakan, permintaan kumiskucing sangat tinggi. Fulka Nurzaman hanya mampu mengekspor 2 – 3 ton kering per bulan ke Malaysia. Itu untuk memenuhi 2 produsen di negeri jiran. Di luar itu ia juga rutin memasok 1 – 2 ton kering per bulan kepada eksportir di Jakarta.

Masih ada permintaan rutin 10 ton sebulan yang belum ia penuhi. ‘Untuk mengirim 1 – 2 ton saja bukan pekerjaan mudah,’ kata apoteker alumnus Institut Teknologi Bandung itu. Fulka tak mempunyai kebun sendiri sehingga bermitra dengan pekebun-pekebun di Cijapati, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Pengusaha kelahiran 10 Desember 1978 itu mengatakan saat ini membeli kumiskucing dari pekebun Rp11.000 per kg.

Ia kemudian menyortir. Kira-kira 10% kumiskucing dari para pekebun apkir. Seluruh biaya produksi dan pengangkutan ke Tanjungpriok, Jakarta Utara, ditanggung oleh importir. Sayang, Fulka menolak menyebut harga jual kumiskucing ke Malaysia. Sebagai gambaran, eksportir sejak 2001 itu menyebut margin kotor mencapai 100%.

Eksportir kumiskucing lainnya adalah PT Bahana Marga Samudera yang berdiri pada 1997. Sejak 2000 perusahaan itu mengekspor 50 ton kumiskucing per tahun ke Latvia, bekas pecahan Uni Soviet. Secara insidental ia juga melayani permintaan Perancis, Belanda, dan Swiss masing-masing 7 ton sekali kirim. Frekuensi permintaan ke-3 negara itu tak tentu. Sayangnya, Dwiyanto Septiawan, general manager PT Bahana Marga Samudera, menolak menyebut harga jual kumiskucing ke negara-negara Eropa.

Menurut Septiawan krisis global yang tengah terjadi tak mempengaruhi permintaan dan harga kumiskucing. ‘Yang penting kita bisa menjaga kualitas dan tepat mengirim karena itu merupakan harga mati. Kita juga harus jujur, misalnya tak menambah rumput kering untuk meningkatkan volume,’ kata Septiawan.

Multikhasiat

Eksportir seperti Septiawan dan Fulka mensyaratkan kumiskucing berkadar sinensetin 0,4% dan hasil budidaya organik. Syarat kedua itu memang belum ada sertifikat. Jadi eksportir dan pekebun saling percaya. Jika syarat itu terpenuhi eksportir mengirim ke mancanaegara. Kumiskucing banyak diminta pasar karena multifungsi. Di Malaysia misai kucing – demikian penduduk negara itu menyebut – mengolah daun kumiskucing seperti teh celup.

Penggunaan serupa juga ada di Latvia dan Belarusia. Menurut Fulka ada juga yang mengekstrak senyawa aktif dalam daun kumiskucing yang antara lain mengandung sinensetin, inositol, dan betasitosterol. Sinensetin dan asam kafeat terbukti antibakteri. Kumiskucing juga ampuh mengatasi batu ginjal. Khasiat lain sebagai antihipertensi, penurun kadar gula darah, antibiotik, dan antitumor.

Dengan segudang khasiat, pantas bila the jawa – julukan kumiskucing di mancanegara – itu banyak diminta pasar dunia. Namun, tak sertamerta pekebun melewati jalan lurus lagi mulus buat meraih keuntungan. Lihat saja Aden Sayebatul Hamdi, pekebun di Kalapanunggal, Kabupaten Sukabumi. Musim kemarau beberapa tahun silam, selama 3 bulan tanpa hujan.

Untuk menyiram tanaman, ia menyewa sebuah mobil tangki. Untung 1,5 km dari lokasi kebun terdapat mata air yang tak kering sehingga Aden dapat memanfaatkannya. Sebetulnya 1 – 2 bulan tanpa siram, kumiskucing dapat bertahan. Budiman rugi Rp100-juta tahun lalu. Ketika itu harga kumiskucing di tingkat pekebun Rp12.000 per kg. Harga bertahan selama 8 bulan sejak Maret 2008. Sebagai pengepul ia membeli hingga 25 ton. Celakanya pada penghujung November 2008, harga melorot cuma: Rp8.000.

Dua bulan lalu, ia kembali merugi Rp12-juta setelah kiriman 1 ton kering kepada eksportir baru, belum terbayar hingga kini. Namun, ia tak jera. ‘Hidup mati saya di kumiskucing,’ kata dia. Di tingkat pekebun, harga kumis tertinggi pernah menyentuh angka Rp12.500; terendah Rp5.200 per kg.

Pasok langsung

Saat ini permintaan kumiskucing memang terus melambung. Lima pekebun yang Trubus hubungi secara terpisah mengatakan, permintaan yang belum terpenuhi rata-rata 10-ton per pekebun. Sayangnya, sekarang harga anjlok Rp5.200 – Rp6.000 per kg. Harga itu tak menarik minat pekebun seperti Oban Sobandi dan Mad Syair – keduanya di Kapalanunggal, Sukabumi – untuk memanen dan merawat kumiskucing.

Mereka tak bergairah merawat kebun, mungkin lantaran pada 2008 sempat menikmati harga Rp12.500 per kg. Oleh karena itu Budiman memprediksi, ‘Tahun 2010 kumiskucing pasti meledak.’ Itu lantaran pasokan jauh berkurang sehingga harga bergerak naik. Harga turun, kekeringan, dan penipuan hanya segelintir kendala. Masih banyak hambatan dalam berniaga kumiskucing (baca boks: Si Kumis Penuh Kendala).

Meski banyak hambatan, Gagah Seto gagah berani membudidayakan kumiskucing di lahan 20 ha. Lokasi kebun di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bogor, keduanya di Jawa Barat. Tanaman di kedua lahan itu kini berumur 2,5 tahun. Pekebun di Cicurug, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, itu rutin memanen 7 – 8 ton kering per bulan. Volume panen itu rutin setiap bulan sejak 2 tahun terakhir.

Selain itu pria 33 tahun itu juga bermitra dengan beberapa pekebun di Sukabumi dengan lahan 5 ha. Dari volume panen 7 – 8 ton kering, 60% merupakan kelas super; 40%, kelas reguler. Ciri kelas super daun kering berwarna hijau, jumlah batang maksimal 10%. Adapun kelas reguler, jumlah batang maksimal 20%. Kadar air kedua kelas itu 15%. Pada 13 Mei 2009, Gagah memperoleh harga Rp12.500 untuk kelas super dan Rp11.000 per kg kelas reguler.

Ia memperoleh harga lebih tinggi karena memasok langsung ke eksportir. Itu berarti omzet Gagah Rp52,5-juta dan Rp30,8-juta masingmasing dari kelas super dan reguler. Total jenderal omzet dia Rp83,3-juta sebulan. Dengan biaya produksi hanya Rp1.130 per kg, laba bersih Gagah Rp75,3-juta per bulan. Andai saja, ia mampu memenuhi permintaan 50 ton sebulan, labanya kian melambung. Bagi Gagah dan pebisnis lain, kumis putih penghasil duit. (Sardi Duryatmo/Peliput: Ari Chaidir, Imam Wiguna, & Faiz Yajri)

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img