Varietas Unggul Jadi Kunci Kebangkitan Kakao Indonesia

Rekomendasi
- Advertisement -

Trubus.id-Indonesia masih bertahan sebagai salah satu dari lima besar produsen kakao dunia, namun produktivitasnya stagnan dan menghadapi tantangan serius, seperti serangan penyakit Vascular-Streak Dieback dan Phytophthora palmivora. Dalam kondisi ini, riset dan inovasi varietas unggul dinilai menjadi penentu arah masa depan industri kakao nasional.

“Varietas unggul bukan hanya soal genetik, tetapi efisiensi produksi, daya tahan terhadap lingkungan ekstrem, serta adaptabilitas tinggi,” ujar Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan BRIN, Puji Lestari, melansir pada laman BRIN. Ia menekankan pentingnya varietas yang mampu menjawab tantangan perubahan iklim sekaligus mendukung kebutuhan industri hilir.

Kepala Pusat Riset Tanaman Perkebunan BRIN, Setiari Marwanto, menyebut bahwa inovasi varietas unggul merupakan jalan utama untuk mengembalikan kejayaan kakao Indonesia. Produksi yang menurun akibat degradasi lahan dan tekanan lingkungan, menurutnya, dapat diatasi melalui pelepasan varietas adaptif yang bisa didistribusikan luas ke petani.

Sejumlah varietas baru telah dikembangkan dan dilepas ke publik, seperti BB1 pada 2023, RHS1 dan RHS2 pada 2024, serta ISC1 dan GTB04C40R47 yang akan dilepas pada 2025. Varietas tersebut dirancang melalui proses ilmiah ketat, diuji di berbagai lokasi, dan dipilih agar sesuai dengan beragam kondisi agroklimat Indonesia.

Varietas BB1, misalnya, mampu menghasilkan hingga 3,5 kilogram biji kering per pohon per tahun, sementara RHS1 dan RHS2 dirancang untuk mendukung sistem sambung dan okulasi kakao lindak. Adapun ISC1 dan GTB04C40R47 diunggulkan karena kadar lemaknya tinggi dan hasilnya lebih baik dibanding klon yang ada.

Peneliti BRIN, Rubiyo, menekankan bahwa varietas unggul harus relevan dan mudah diakses oleh petani rakyat, yang saat ini mengelola sekitar 93 persen lahan kakao nasional. Ia menambahkan bahwa Indonesia memiliki stok material genetik yang cukup untuk pengembangan varietas baru dengan hasil konsisten 1,5–2,5 ton per hektare per tahun.

Namun, inovasi saja tidak cukup jika tidak diadopsi secara luas di lapangan. Rubiyo menyebut pentingnya kolaborasi lintas sektor, regulasi pendukung, sistem perbenihan yang kuat, dan komunikasi intensif antar-pemangku kepentingan untuk menjamin keberhasilan implementasi varietas unggul.

Rekomendasi strategis telah disusun, mulai dari percepatan sertifikasi varietas, penguatan jaringan diseminasi benih, hingga sinergi antara peneliti, pelaku industri, pemerintah, dan petani. Dengan langkah yang terstruktur dan berbasis data, industri kakao nasional diharapkan bangkit menjadi lebih berkelanjutan, tangguh terhadap iklim, dan kompetitif di pasar global.

Artikel Terbaru

GHEL, Kelapa Cepat Panen dengan Daging Tebal

Kelapa genjah hijau Erabolo Labuanbatu (GHEL) menjadi varietas unggul baru hasil pengembangan peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)....

More Articles Like This