Vonis Acquired Immuno De. ciency Syndrome (AIDS) dijatuhkan dokter 3 tahun silam. Sejak itu rentetan penyakit seperti membayangi pria 20 tahunan itu. Puncaknya pada pertengahan 2005, pria muda itu terbaring tak berdaya di pembaringan. Sekujur tubuh, mulut, hingga selangkangan dan kemaluan dipenuhi luka bernanah mengeluarkan darah berbau amis.
Candida sp—cendawan penyebab borok di selangkangan dan kemaluan—leluasa bersemayam lantaran tubuh Aji lemah. Cendawan serupa menyebabkan mulutnya seperti mengalami sariawan akut sehingga tidak dapat berbicara. Sarcoma pun mencabik-cabik kulit Aji. Daya tahan tubuhnya rontok akibat cengkeraman HIV/AIDS.
Virus maut itu pula yang membuat kuman golongan Coccus gampang menyusup ke dalam paruparu. Akibat menderita pneumonia—radang paruparu yang khas pada penderita HIV/AIDS—pria yang tinggal di salah satu kota di selatan Jawa itu gampang sesak nafas—seperti gejala penderita asma. Apalagi Aji memang memiliki penyakit asma bawaan yang diturunkan dari keluarga. Kalau sudah begitu ia pun hanya bisa terbaring tak berdaya di peraduan.
Putu Oka Sukanta, pakar pengobatan holistik yang banyak menangani AIDS, menyebutkan seseorang yang terinfeksi Human Immunodefi ciencyVirus (HIV) dikatakan berada dalam stadium AIDS bila minimal memiliki 2 penyakit oportunistik lain, misal gangguan diare, batuk, infeksi candida dan sarcoma yang tidak kunjung sembuh dengan nilai CD-4 di bawah 200. Nilai CD-4 menunjukkan derajat daya tahan tubuh manusia. Semakin rendah angka itu, bibit penyakit makin mudah masuk ke tubuh karena daya tahan melemah. Pada orang sehat nilai CD-4 berada di atas angka 1.000.
Minyak dara
Pihak keluarga langsung memboyong Aji ke Jakarta. Di ibukota, lelaki muda itu dirawat di sebuah rumah sakit di bilangan Jakarta Selatan. Tak ada perubahan berarti, perawatan dipindahkan ke rumah sakit lain di Jakarta Pusat. Di sini ia dijejali sekitar 15 obat suntik dan oral—termasuk di antaranya obat antiretrovirus, obat standar perawatan pasien AIDS.
Secercah harapan hadir ketika salah seorang kerabat datang menjenguk. Sang paman yang miris melihat kondisi Aji menawari untuk meminum minyak kelapa murni. Kebetulan ia memproduksi virgin coconut oil (VCO) dan pernah mendapat informasi VCO bersifat antivirus. “Karena bersifat antivirus maka punya potensi untuk dipakai dalam pengobatan penyakit akibat virus, termasuk HIV/AIDS,” tutur sang paman menirukan informasi yang didapat dari seorang peneliti di sebuah perguruan tinggi di Bandung itu.
Ingin sembuh, Aji pun meneguk 3 botol VCO berukuran 70 ml selama 3 hari berturut-turut. Pada hari ke-3 luka-luka mengering. Konsumsi minyak dara itu tetap dibarengi dengan obat-obatan medis dari rumah sakit. Seminggu berselang kondisi Aji berangsur pulih. Sariawan di mulut sembuh, bintil bernanah di sekujur tubuh hingga selangkangan dan kemaluan pun menghilang. Tubuh menjadi lebih segar sehingga ia diperbolehkan pulang. Kini 2 bulan setelah rutin mengkonsumsi VCO, Aji yang semula terbaring tak berdaya di pembaringan sudah bisa kembali beraktivitas.
Kapsul monolaurin
Jalan kesembuhan yang diharapkan Aji bukan sekadar isapan jempol. Informasi yang didapat sang paman didasarkan pada berbagai penelitian di luar negeri tentang potensi VCO mengatasi HIV/AIDS. Salah satunya riset yang dilakukan di Rumah Sakit San Lazaro, Filipina, sekitar 2002—2003. Rumah sakit untuk penyakit infeksi di bawah naungan Departemen Kesehatan Filipina itu melakukan riset terhadap 15 pasien terinfeksi virus maut.
Percobaan dilakukan selama 6 bulan. Pasien yang terdiri atas 5 laki-laki dan 10 perempuan berusia 22—38 tahun dibagi ke dalam 3 kelompok perlakuan. Rentang jumlah virus yang menjangkiti antara 1.960 hingga 1.190.000—kecuali 1 pasien yang virusnya t i d a k terdeteksi, jumlah di bawah 400. Semua pasien hanya mendapatkan perlakuan dengan monolaurin 95% murni sebagai monoterapi. Tidak satu pun pernah mendapatkan perawatan HIV sebelumnya. Monolaurin diekstrak dari asam laurat minyak dara.
Kelompok pertama terdiri dari mereka yang diberi 22 gram monolaurin per hari. Konsumsinya dalam bentuk kapsul bervolume 800 mg. Frekuensi pemberian 3 kali sehari masing-masing 9 kapsul. Kelompok ini disebut sebagai mereka yang diberi monolaurin dosis tinggi. Kelompok kedua mendapatkan perlakuan monolaurin dosis rendah. Mereka diminta menelan 3 kapsul setara 2,4 gram sebanyak 3 kali sehari. Sementara kelompok terakhir mengkonsumsi 15 ml minyak kelapa murni sebanyak 3 kali sehari atau 45 ml per hari. Dosis monolaurin pada kelompok ketiga setara dengan dosis kelompok pertama.
Semua pasien diperiksa setiap hari di Rumah Sakit San Lazaro untuk mengecek efek samping yang terjadi. Keluhan badan terasa panas dan urine berwarna hijau dialami setengah dari jumlah pasien di awal perlakuan. Tiga penderita lain mendapati jerawat mereka kian meradang. Namun, semua itu tidak mempengaruhi jalannya penelitian.
Pemeriksaan laboratorium dilakukan pada bulan ke-3 dan 6 perlakuan. Indikator yang diukur antara lain peningkatan bobot badan, jumlah virus dalam darah dan nilai CD-4. Setelah 3 bulan diujicoba, 2 pasien pada kelompok pertama menurun jumlah virusnya; kelompok ke-2, sebanyak 2 orang; kelompok ke-3, sebanyak 3 orang. Namun, pada pasien-pasien lain jumlahnya justru meningkat. Sementara pada pasien dengan jumlah virus tidak terdeteksi, tidak ada perubahan status.
Pada akhir penelitian, kelompok ke-2 yang mengalami penurunan jumlah virus dalam darah menjadi 4 orang. Sementara kelompok pertama dan ketiga masing-masing 2 dan 3 orang. Dari jumlah itu penurunan signifi kan dialami 2 pasien di kelompok ke-3 dengan asupan minyak kelapa saja dan 1 pasien dengan perlakuan monolaurin dosis rendah di kelompok ke-2.
Sembuh
Kasus AIDS—nilai CD-4 kurang dari 200—berkembang pada 2 pasien dari kelompok terapi rendah monolaurin dan 1 pasien terapi minyak kelapa pada bulan ke-3. Yang disebut terakhir akhirnya meninggal 2 minggu setelah penelitian berakhir. Namun, salah satu pasien di kelompok rendah monolaurin sembuh pada bulan ke-6. Itu ditunjukkan oleh nilai CD-4 yang naik dari 141 menjadi 459. Seorang lagi kondisinya terus membaik.
Bobot tubuh 11 pasien meningkat—termasuk 2 orang dengan AIDS yang berkembang dan sembuh. Kenaikan bobot tubuh berkisar antara 1—28 kg. Tiga pasien gagal menaikkan bobot tubuh, tapi jumlah virus dalam tubuh menurun dan nilai CD-4 meningkat. Riset lain yang dilakukan oleh Keep Hope Alive pun membuahkan hasil sejalan. Organisasi itu mendokumentasikan beberapa pasien AIDS yang mengkonsumsi 3,5 sendok makan minyak kelapa atau setengah butir kelapa per hari yang setara dengan 20—25 gram asam laurat. Jumlah virus yang menjangkiti mereka menurun hingga level tidak terdeteksi.
Dr Sarsanto—ginekolog dan pakar kebidanan alumnus Universitas Indonesia—menyambut baik hasil penelitian itu. Menurut salah satu motor Yayasan AIDS Indonesia itu sampai kini belum ada obat yang mampu membunuh virus HIV/AIDS. “Kemampuannya sebatas meningkatkan kekebalan tubuh—indikatornya ialah peningkatan nilai CDPenyakit 4, red—dan mengurangi jumlah virus,” kata dokter yang berpraktek di RS St Carolus dan RS Medistra itu. VCO memiliki peran serupa. Saat kekebalan tubuh meningkat, penyakit-penyakit sekunder pun berangsur sembuh.
Hal tersebut diamini oleh Putu Oka. Keberadaan minyak dara bisa menjadi komplementer obat antiretrovirus. Maklum obat sintetis itu memiliki efek samping seperti ngilu pada tulang dan perut membesar. “Dengan program pengobatan secara komplementer—termasuk kombinasi obat medis dan herbal, pemberian nutrisi tepat serta terapi fi sik seperti olah pernapasan—kita harapkan HIV menjadi penyakit kronis yang tidak mematikan,” tutur pemilik rumah obat Taman Sringanis itu. Menurut Prof Dr Elin Yulinah Sukandar, guru besar Farmasi ITB, “Monolaurin menghambat proses pematangan virus HIV.”
Kasus TBC
Keampuhan minyak dara tak sekadar membantu penderita HIV/AIDS. Nun di keheningan Kampung Ciagra, Desa Warnasari, Kecamatan Agrabinta, Cianjur, Hermin tengah bersukacita. Perempuan 34 tahun itu selama bertahuntahun menderita batuk berdahak. Tubuhnya kurus kering dan bungkuk. Pemeriksaan dokter di Rumah Sakit Cianjur setahun silam memvonis ia menderita TBC.
Hati istri seorang pegawai sebuah perusahaan perkebunan negara itu pilu lantaran biaya pengobatan tidak terjangkau. Untung saja ia bertemu dengan Asep Rachmat—administrator kebun yang juga produsen VCO. Asep menganjurkan pengobatan dengan minyak dara. Dosis 2 sendok makan 3 kali sehari selama 6 bulan berturut-turut. Pada bulan ke-7 Hermin terlihat sehat. Bobot badan meningkat, tubuh dapat tegak, dan dahak pun menghilang.
Menurut Dr dr A Wardihan Sinrang, MS Sp And, dokter di Rumah Sakit Ibnu Sina, Makassar, batuk berdarah dan berbulan-bulan memang salah satu indikator TBC. Namun, untuk memastikan dilakukan pemeriksaan rontgen. “Dari situ akan ketahuan adatidaknya bercak TBC di paru-paru,” kata doktor dari Universitas Hasanuddin itu.
Tes lain melalui pemeriksaan darah dan dahak untuk mencocokkan susunan asam amino Mycobacterium tuberculosis—bakteri penyebab TBC—yang ditemukan di dalam darah dan dahak dengan DNA Mycobacterium sebenarnya. Bila cocok, berarti positif TBC. Penderita dikatakan sembuh bila dalam tes laboratorium bakteri tidak ditemukan. Bercak TBC pun tidak terdeteksi dalam rontgen.
Rusak dinding sel
Sinrang menyebutkan, keampuhan minyak dara menuntaskan TBC perlu diuji dalam laboratorium. “Dari situ bisa dilihat bagaimana cara kerja monolaurin. Kalau dia merusak dinding dan inti sel, si kuman bakal mati. Sedangkan bila yang dirusak DNA-nya, laju perbanyakannya yang dihambat sehingga menjadi lemah,” urai kelahiran Sengkang 4 Agustus 1959 itu.
Itulah yang dilakuan oleh John M Carrol dari Amerika Serikat pada 1969—1972. Percobaan secara in vitro pada sel hidup menunjukkan pemberian 0,02—0,5 mg/ml asam laurat mencegah perkembangan M. tuberculosis dan M. paratuberculosis. Hasil sejalan diperoleh dalam studi lanjutan secara in vivo pada tikus percobaan. Pemberian 4—8% asam laurat dalam pakan mencegah kematian pada tikus yang diberi sel M. paratuberculosis dengan dosis mematikan.
Menurut Dr Ir M Ahkam Subroto, M App, peneliti pada Puslitbang Biotek LIPI, asam laurat menghancurkan dinding sel mikroba—bakteri, virus, dan kuman—yang terdiri dari lipid. “Kandungan lipid dihancurkan maka dinding selnya hancur. Isi sel keluar sehingga mikroba mati,” tutur doktor Filosofi Bioteknologi dari New South Wales University itu.
Cara kerja serupa efektif menghambat, mengontrol, bahkan membinasakan Helicobacter pylori penyebab maag dan gangguan pencernaan. Itu hasil penelitian Byron W Petschow dari Indiana, Amerika Serikat, bekerjasama dengan perusahaan obat Bristol-Myers Squibb. Hasil serupa didapat dalam riset CJ O’Connor dan rekan-rekan dari Jurusan Kimia, Universitas Auckland, Selandia Baru. Pantas Wiwi Handayani (62 tahun) di Jombang tidak pernah lagi mengeluhkan maag yang diderita sejak 1989 setelah mengkonsumsi VCO selama 1 bulan.
Langsung dibakar
Berbagai penelitian itu menguatkan bukti empiris khasiat minyak perawan yang selama ini ditemukan. Hasil penelusuran Trubus menunjukkan minyak buah anggota famili Palmae itu menyembuhkan jantung koroner, diabetes mellitus, vertigo akut, hepatitis B, hipertensi, hipertiroid, kolesterol, dan stroke (baca: Trubus edisi Juni 2005)
Akibat menderita penyumbatan pembuluh darah di sekitar panggul dekat tulang ekor, Untung Sukarji mesti dilarikan ke rumah sakit. Kala rasa nyeri menyerang paha kanan dan pinggul, pengajar di Sekolah Tinggi Akutansi Negara itu tak sanggup berjalan. Saat berbaring di peraduan pun ia tidak mampu mengubah posisi badan. Beruntung setelah mengkonsumsi 24 botol VCO bervolume 125 ml selama 2 minggu dikombinasikan dengan akupunktur kondisinya berlangsung pulih. Kini kelahiran Jember 57 tahun silam itu bahkan sanggup berlari-lari pagi.
Kandungan asam lemak minyak dara pun bukan musuh kesehatan tubuh manusia. Asam laurat—mencapai 47—53%—merupakan asam lemak jenuh rantai sedang. Ia tidak ditimbun dalam tubuh melainkan langsung dibakar menjadi energi. Dengan energi itu pula tubuh cepat pulih dan mampu memperbaiki diri sendiri. Pantas mereka yang menderita gangguan lever aman mengkonsumsi VCO. Itu bertolak-belakang dengan anggapan umum bahwa minyak terlarang untuk penderita lever.
Pendapat itu memang tidak sepenuhnya salah. “Lever kan organ yang berfungsi menguraikan minyak dan lemak di dalam tubuh. Makanya penderita gangguan hati tidak boleh mengkonsumsi minyak karena akan memperberat kerja hati yang sudah sakit. Semua minyak terlarang kecuali yang memiliki karbon rantai sedang,” tutur Dr Pingkan Adityawati, dosen Mikrobiologi Institut Teknologi Bandung. Itulah si minyak perawan.
Tidak perlu jauh-jauh mencari pembuktian. Putri Dr Purwo Arbianto, pelopor kampanye minyak sehat di Indonesia, itu sendiri yang mengalami. Pingkan terbebas dari penyakit lever setelah mengkonsumsi VCO. Sementara keampuhan minyak dara dalam mengontrol gula darah penderita diabetes mellitus kini tengah diteliti di LIPI.
Dosis aman
Lalu bila minyak Cocos nucifera itu memang terbukti andal mengatasi berbagai penyakit, berapa dosis amannya? Selama ini para produsen menganjurkan 3—4 sendok makan per hari. Itu sejalan dengan yang disarankan oleh Bruce Fife MD—salah seorang pelopor minyak kelapa murni dari Amerika Serikat.
Beberapa hasil penelitian di luar negeri mungkin bisa dijadikan acuan pemberian dosis lebih tepat. “Tapi untuk bisa diaplikasikan dengan memakai produk VCO yang sekarang beredar mesti dikonversi dulu,” kata Ahkam Subroto. Ia mencontohkan dosis 4—8% asam laurat untuk menuntaskan TBC pada tikus percobaan setara dengan 460 ml minyak bila diterapkan pada manusia.
Kandungan asam laurat pada berbagai merek VCO pun masih misteri. “Yang baik jika kandungan asam laurat-nya mencapai 35—58%,” tutur Jaka Dhama Limbang, produsen di Tangerang. Asian Pasifi c Coconut Community mensyaratkan VCO harus berasal dari kelapa segar dan tanpa bahan kimia. Sepanjang faktor-faktor itu terpenuhi asa kesembuhan masih bisa disandarkan pada si minyak ajaib. (Evy Syariefa/ Peliput: Destika Cahyana, Hanni Sofi a, Laksita Wijayanti, Lastioro Anmi, Rahmansyah Darmawan, Rosy Nur Apriyanti, dan Sardi Duryatmo)
