Friday, August 19, 2022

Walet Muda Betah Bersarang

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img
Rumah walet milik Muhammad Nahdi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. (Dok. Muhammad Nahdi)

Perekam suara menirukan suara alami indukan membuat anakan walet betah.

Trubus — Peternak walet di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Muhammad Nahdi masygul. Ia membudidayakan walet di gedung 4 m x 10 m terdiri atas dua lantai. Lama budidaya sembilan tahun tetapi produksinya stagnan, 2 kilogram sarang per 3 bulan. Nahdi mengatakan, populasi sekitar 200 pasang walet. Menurut Nahdi produksi rendah karena tidak kembalinya anakan ke rumah walet. Menurut peternak sejak 2011 itu anakan yang kembali hanya 5% dari total populasi.

Menurut praktikus walet di Jakarta, Harry Wijaya, anakan yang tidak kembali ke gedung masalah klise pemilik gedung walet. Imbasanya produksi sarang stagnan bahkan menurun. “Padahal, jika anakan menetap, populasi meningkat dan hasil sarang juga akan tambah banyak,” katanya. Penyebabnya antara lain gedung kurang nyaman, pakan terbatas, dan lebih tertarik suara dari gedung lain. Itu kerap terjadi terutama di daerah sentra dengan populasi banyak gedung.

Gema

Peternak walet di Jakarta, Harry Wijaya. (Dok. Trubus)

Harry menuturkan, desain gedung walet yang baik ibarat gua. Seperti tempat tinggal walet di alam. Kondisi gua yang bersekat pada bagian dalam membuat suara walet memantul atau bergema. Begitu pula dengan desain gedung walet yang baik, mesti menghasilkan gema. Hal itu membuat walet merasa lebih aman, seolah tempat itu ramai. “Walet adalah mahluk sosial, biasanya akan bersuara jika masuk ke suatu tempat, gema seolah menyahut suara walet, sehingga walet merasa aman untuk menginap,” katanya.

Menurut Harty desain gedung tanpa gema menyebabkan walet yang menginap lebih rendah. Solusinya membetulkan gedung agar menghasilkan gema atau memasang mesin buatan pembuat gema. Lubang masuk antarlantai berjenjang seperti tangga lebih baik dalam menghasilkan gema. Hal itu juga memudahkan burung bermanuver menjelajah masuk ke tiap lantai (Lihat Trubus edisi Juli 2019, “Rahasia Walet Betah”, Halaman 124-125).

Perekam suara kreasi Harry Wijaya. (Dok. Harry Wijaya)

Cara lain menggunakan perekam suara. Perekam suara seolah memberikan gema buatan. Merekam suara kemudian memutarnya seolah menyahuti cuitan walet. Alumnus Jurusan Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan itu mengatakan, menggunakan perekam suara memancing walet untuk tinggal di gedung itu. Harry juga membuat perekam khusus rumah walet. Ia menamainya corona-20 karena dibuat selama masa pandemi virus korona pada 2020.

Perekam suara itu bisa sebagai substitusi atau pengganti dari suara inap. Namun, itu berlaku pada gedung walet yang sudah berkoloni atau diinapi walet. Penerapan suara walet di gedung baru yang belum diinapi walet kurang optimal. Kelebihan perekam suara kreasi Harry bisa menghasilkan suara alami indukan walet. Artinya suara walet aktual dari indukan. Frekuensi suara yang dihasilkan pun sesuai dengan yang diinginkan walet. Frekuensi ideal walet hingga kisaran 30.000 hz, sementara frekuensi ideal manusia kisaran 20—20.000 hz.

Panen meningkat 25%

Menurut Harry, “Walet ibarat manusia, akan lebih tertarik suara alami indukan dibandingkan dengan suara inap buatan.” Suara alami asal induk tentu memiliki ikatan batin lebih kuat dengan anakan, sehingga bisa membuat anakan lebih nyaman. “Perekam suara secara tidak langsung juga berperan memperbaiki gedung yang tak bisa bergema,” kata peternak walet sejak 2000 itu.

Panen sarang meningkat seiring bertambahnya populasi. (Dok. Trubus)

Nahdi kemudian mengikuti saran Harry, memasang 2 unit perekam suara di gedung lantai 1 miliknya. Hasilnya positif, anakan yang semula pasif menjadi aktif dan anteng berkumpul di dekat twitter atau pelantang yang mengeluarkan suara alami. Menurut Nahdi setelah penggunaan perekam selama 1,5 bulan meningkatkan populasi anakan. Indikatornya jumlah kotoran anakan bertambah. “Kotoran anakan lebih lembek dibandingkan dengan kotoran walet dewasa yang lebih keras,” kata Nahdi.

Menurut Harry satu perekam suara idealnya hanya untuk satu koloni walet agar hasil optimal. Pemasangan perekam suara di tengah papan sirip. Satu perekam suara terkoneksi pada 3 pelantang. Satu koloni walet rata-rata minimal terdiri atas 2—3 pasang walet. Koloni terbanyak 100—150 pasang. Dalam satu lantai idealnya terpasang 3—4 perekam suara. Sebab, satu lantai bisa dihuni 3—4 koloni berbeda.

Menurut Nahdi rata-rata setiap pasang walet bereproduksi menghasilkan 2 anakan per sekali kawin. Andai saja anakan yang menetap 1 ekor dari per pasang induk, potensi penambahan populasi 50%. Bagaimana dengan peningkatan hasil sarang? Jika anakan berpasangan hingga dewasa maka potensi peningkatan hasil 25% dari total pupulasi per sekali panen. Menerapkan suara alami indukan ibarat belaian bunda yang membuat anakan betah tak berpindah. (Muhamad Fajar Ramadhan)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img