Friday, December 2, 2022

Warisan Kakek di Hutan Jati

Rekomendasi

 

Ucapan Hermawan bukan omong kosong. Kebun peninggalan almarhum H Djahuri, mantan pegawai Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), di Mijen, Semarang, itu aset perbuahan nasional. Sebanyak 450 batang durian asal biji tumbuh subur dan terawat dengan jarak tanam rapi, 10 m x 10 m. Yang tertua durian dondong berumur 120 tahun. Lingkar batang 420 cm dengan tinggi 30 m. Durian itu rajin berbuah 290 butir per musim.

Tercatat 9 durian berumur di atas 70 tahun masih produktif. Sebut saja durian bagong berumur 80 tahun setinggi 20 m. Prestasi bagong juara ke-3 pada lomba durian unggul tingkat Jawa Tengah yang digelar 23 tahun silam, tepatnya pada 1986. Ada lagi durian roti. Disebut begitu karena daging buah kuning, empuk, manis, mirip roti. Durian lain berumur 8 – 50 tahun yang ditanam Djahuri dan Udoyo Sastrowiyoto, menantunya, pensiunan guru matematika.

Semua dari biji? Ya, kedua leluhur Agus itu tergolong pria sabar. Maklum, menunggu durian asal biji hingga berbuah memakan waktu 10 – 15 tahun. Itu pun dengan kualitas buah yang belum pasti. ‘Buah bisa enak, tapi sebaliknya bisa jelek tidak keruan. Makanya, menanam dari biji seperti berjudi,’ kata Pien Sanjaya SP, pekebun durian di Ngebruk, Kendal. Namun, bapak dan menantu itu berjudi dengan perhitungan. Bila buah jelek, pohon ditebang. Toh kayunya bisa dijual dengan harga mahal.

Durian temanggung

Agus mengambil alih kebun dari Udoyo setelah kedua kakaknya – yang menjadi pimpinan di 2 bank nasional di Jakarta – enggan mengelola kebun secara langsung. ‘Saya kubur mimpi menjadi bankir. Durian kakek harus dirawat, kedua kakak mendukung dari belakang,’ kata bungsu dari 3 bersaudara itu. Ia pun membuat jalan, tempat peristirahatan, dan mempromosikan kebun di dunia maya.

Kunjungan Trubus pada Desember 2008 membuktikan Agrowisata Durian H Djahuri – bendera yang diusung Agus – memang istimewa. Hampir semua pohon berbuah. Buah muda tergantung tanpa ikatan, sedangkan buah hampir matang diikat rapia. Diperkirakan musim kali ini, November – Februari 2009, dipanen 9.500 durian. Beruntung durian roti yang manis dan empuk sempat dicicipi. Buah bulat, berduri pendek dan jarang itu memiliki alur bukaan yang jelas.

Durian kuning tak kalah top. Disebut kuning karena kulit buah kuning. Rasa buah manis, agak basah, dan lengket di lidah. Namun, yang paling memikat lidah adalah durian temanggung. Durian dari pohon berumur 32 tahun itu dagingnya kuning, tebal, dan berbiji sedang. Rasanya? Manis agak pahit. Cocok buat mania durian berat. Ia disebut temanggung lantaran seorang keluarga dari Temanggung kerap datang ke Mijen hanya untuk mencicip durian itu.

Menurut Agus, hanya durian yang tergantung di tali yang boleh dipetik dan dicicip pelanggan. ‘Kita menyebutnya madihon alias matang di pohon,’ kata alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro Semarang itu. Harga durian tanpa nama Rp10.000 per kg. Durian bernama Rp12.500 per kg. Di sana juga ada dodol, jenang, sirup, dan jus durian.

Dengan konsep agrowisata pengunjung diperbolehkan mengitari kebun di Kelurahan Wonolopo, Mijen, setelah membayar tiket Rp5.000 per orang. Mereka bebas mengitari kebun seluas 5 ha yang dikelilingi kebun jati di 4 desa sekitar. Selama libur panjang penghujung 2008 dan awal 2009 omzet dari penjualan durian mencapai Rp3,5-juta per hari di luar penjualan tiket.

Diwariskan

Acungan jempol pun diberikan Prakoso Heryono, penangkar buah, di Demak saat melongok kebun itu. ‘Itu sumber plasma nuft ah durian. Jarang orang biasa melakukannya sampai diwariskan. Dulu hanya raja-raja di taman istana yang melakukan,’ katanya. Sebut saja kebun durian dan manggis milik Raja Karangasem Sasak I Gusti Gde Karangasem di Istana Narmada, Lombok, Nusa Tenggara Barat.

Menurut Agus, meski pada awal 80-an teknologi okulasi pada durian mulai populer, kakek dan ayahnya sama sekali tak melirik. ‘Keduanya tetap tanam dari biji. Menurut mereka durian dari okulasi tak bisa diwariskan,’ tutur Agus. Musababnya, di kebun ada durian monthong okulasi yang hanya bertahan 12 tahun. Sambungan batang bawah dan atas merenggang sehingga batang hampir patah.

Menurut Gregori Hambali, pemulia buah dan tanaman hias di Bogor, bibit okulasi dari para penangkar kerap menemui masalah seperti kaki gajah, yaitu batang bawah besar dengan batang atas kecil. Atau sebaliknya. Belum lagi kekuatan sambungan yang berbeda-beda. Maklum penelitian untuk menguji kecocokan batang bawah dengan batang atas durian sangat minim.

Berbuah cepat

Kebun durian asal biji itu juga mematahkan anggapan umum. Banyak durian berumur 6 – 8 tahun sudah belajar buah, 5 – 30 butir per musim. Lazimnya, 10 – 15 tahun. Menurut Greg, itu karena durian milik Agus terawat. ‘Durian asal biji di alam lambat berbuah karena tumbuh tanpa asupan hara dari luar,’ ujar Greg.

Sejak tahun pertama tanam Agus membenamkan pupuk kandang – kotoran ayam atau sapi – sebanyak 1 ember bervolume 5 liter setahun 2 kali. Suami dari Yuni Farida itu menggandakan dosis setiap tahun dengan frekuensi tetap. ‘Yang masih terlihat merana dosisnya bisa saja ditambah lagi,’ katanya.

Perawatan lain berupa pengarahan cabang utama agar tumbuh horizontal. Hasilnya, durian lokal tumbuh mirip monthong. Buah muncul di cabang paling bawah. ‘Ini benar-benar luar biasa,’ kata Pien, kolega Trubus yang mengantar ke sana. Keputusan ayah 3 anak itu berhenti berkarir di dunia perbankan mulai memetik hasil. (Destika Cahyana)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Terluka dan Tidak Bisa Terbang, Petugas Mengevakuasi Burung Rangkong

Trubus.id — Petugas Balai Besar KSDA Sumatra Utara, mengevakuasi burung rangkong yang ditemukan terluka di kawasan konservasi Suaka Margasatwa...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img