Thursday, August 18, 2022

Warisan Paling Top

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Nomor 127 membuat durian lain “lewat”!

 

Yos Sutiyoso berkali-kali menggelengkan kepala saat Eric Wiraga menawarkan sejuring durian. Padahal penampilan raja buah yang Eric tawarkan begitu menggugah selera. Warna daging buah kuning kejinggaan, teksturnya terlihat kering. Yos bukan karena tengah berpantang mengonsumsi durian. Entomolog yang juga ahli pupuk di Jakarta itu ingin menyimpan cita rasa durian 127 yang baru ia santap.

“Setiap pelanggan yang sudah menyantap durian 127 biasanya enggan mengonsumsi durian jenis lain,” ujar Eric, pengusaha tekstil yang mengebunkan aneka buah. Harap mafhum cita rasa 127 paling top di antara durian yang tumbuh di kebun seluas 300 ha di Desa Bunihayu, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten Subang, Provinsi Jawa Barat.

Rasanya manis dan pahit, rasa yang digemari para mania durian. Daging buahnya tebal, bertekstur lembut, dan lengket di lidah. Buah berbentuk cenderung bulat itu berkulit tipis sehingga ukuran pongge dalam setiap juring besar-besar. Pada beberapa juring terdapat 1-2 pongge berbiji kempes. Karena keistimewaan itu, Eric kerap menyajikan durian berbobot rata-rata 1,8-2,5  kg per buah itu sebagai “hidangan” penutup.

Aroma cempedak

Eric menanam puluhan durian 127 hasil perbanyakan sambung pucuk dari pohon induk berumur 30 tahun. Pohon induk merupakan “warisan” dari Raden Saca, seorang tokoh di Kabupaten Subang yang menanam Durio zibethinus itu pada 1980-an. Ketika itu ia menanam ratusan bibit durian. Pada setiap pohon yang ia tanam, Raden Saca memberi nomor.

Saat tanaman mulai menghasilkan buah, terkuaklah keistimewaan pohon bernomor 127. Ketika Eric membeli kebun milik Raden Saca pada 1995 durian enak itu pun ikut serta. Dengan segera 127 pun menjadi favorit Eric dan mania durian yang datang ke kebunnya. Kelezatan buah asal pohon induk pun menitis ke turunannya yang kini rata-rata mencapai umur 10-15 tahun dan sudah menghasilkan buah. Periode September-Februari saat paling tepat untuk menikmati kelezatan durian 127.

Kepincut durian 127 bukan berarti melupakan durian enak lain di kebun Eric. Cobalah mencicipi durian beraroma cempedak. Disebut demikian karena saat buah dibelah, yang menguar kuat justru aroma khas cempedak Artocarpus integer, bukan aroma durian. Menurut pekebun durian di Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat, Ir Midian Simanjuntak MBA, lokasi tanam dan tingkat kematangan buah mempengaruhi aroma durian.

Riset pun menunjukkan senyawa kimia yang berperan memberi aroma pada durian sangat beragam. Hasil penelitian Prof Dr Wong Keng Chong dari Sekolah Ilmu Kimia, Universiti Sains Malaysia, menyebutkan durian mengandung 63 senyawa volatil alias mudah menguap. Sebanyak 16 senyawa di antaranya merupakan senyawa mengandung sulfur. Senyawa paling dominan yaitu 3-hidroksi-2-butanon mencapai 32-33%, etil propanoate (20%), dan etil 2-metilbutanoat (15-22%). Yos Sutiyoso menduga “penyimpangan” aroma durian itu akibat kelainan genetik. “Kandungan sulfur dalam tanah hanya mempengaruhi tingkat ketajaman aroma, bukan jenis aroma,” tutur Yos.

Rasa durian aroma cempedak tak kalah juara: manis dan agak pahit. Tekstur buah sedikit berserat, tapi terasa lengket di lidah. Pohonnya yang berumur 30 tahun mampu menghasilkan 300 buah per pohon per tahun. Musim berbuah jatuh pada September-Januari. Durian top lain di kebun Eric misalnya matahari, petruk, durian bernomor 205, 59, 97, 222, dan 228.

Semula ulat

Nun di Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat, kita bisa menemukan durian enak lain: sultan. Ukuran buah cuma sekepalan tangan orang dewasa, tapi cita rasanya memang “raja”.

Rasanya sangat manis dan agak pahit. Warna daging buah krem kekuningan dengan tekstur sedikit berserat. Saking mungilnya ukuran buah, satu buah rata-rata berisi 4 pongge. “Campuran rasa manis dan pahit membuat durian sultan digemari mania durian,” kata Kepala Seksi Agribisnis Dinas Pertanian Provinsi Kalimantan Barat, Anton Kamaruddin SP MSi saat Trubus temui di acara September Horti Ceria 2012 di Lapangan Gasibu, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Pantas pedagang durian di Pontianak, Kalimantan Barat, menjual si raja buah itu dengan harga Rp50.000-Rp80.000 per buah, lebih mahal ketimbang durian jenis lain yang hanya Rp20.000 per buah.

Menurut Anton durian sultan berasal dari pohon induk berumur 50 tahunan yang tumbuh di Desa Pal 9, Kecamatan Sungaikakap, Kabupaten Kuburaya, Kalimantan Barat, sekitar 2-3 km dari kota Pontianak. Masyarakat di sana semula mengenal sultan dengan sebutan laule’, dalam bahasa setempat berarti berulat. Disebut begitu karena dahulu pohon durian itu sering berulat. Dari waktu ke waktu ulat itu hilang. “Untuk menciptakan kesan baik dan juga karena kualitasnya unggul, sebutan laule’ berubah nama menjadi sultan,” ujar Anton.

Selain buahnya bercita rasa lezat, produktivitas sultan juga tinggi, yakni mencapai 500-600 buah per pohon per tahun. Masa panen jatuh pada Agustus-September. Ingin mencicipi durian sultan? Anda harus bersabar karena untuk menikmati kelezatannya pembeli mesti inden dulu. (Imam Wiguna/Peliput: Riefza Vebriansyah)


Keterangan foto :

  1. Durian 127 disukai mania durian karena berasa manis dan pahit
  2. Eric Wiraga kerap menyajikan durian 127 sebagai “hidangan” penutup karena pelanggan biasanya enggan mengonsumsi durian lain setelah mengonsumsi durian itu
  3. Durian sultan, meski berukuran hanya sekepalan tangan, tapi berharga mahal karena banyak digemari mania durian
  4. Durian beraroma cempedak di kebun Eric Wiraga, rasanya manis dan agak pahit
Previous articleTempe Biji Kluwih
Next articleManis Luar, Manis Dalam
- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img