Friday, December 2, 2022

Warisan sang Begawan

Rekomendasi

 

Dua lembar fotokopi majalah Economic Botany itu disodorkan pada Gregorius Garnadi Hambali, pakar botani di Bogor. ‘Saya yakin ini bukan spesies baru. Saya pernah lihat sendiri, penampilan bunga dan buah masih tercakup dalam kisaran keragaman karakter durian pada umumnya. Dalam kaidah penulisan nama ilmiah macrantha pun semestinya macranthus,’ kata alumnus Birmingham University itu.

Macrantha berarti berbunga besar. Itu mengacu pada ukuran bunga Durio macranthus yang lebih besar ketimbang zibethinus. Namun, sebagai nama ilmiah macrantha mesti ditulis macranthus karena berkaitan dengan gender penulisan nama durio (macrantha, betina; macranthus, jantan, red). Contoh lain, grandifl ora ditulis dengan nama ilmiah grandiflorus.

Menurut Greg, Kostermans-yang merupakan penulis Th e Genus of Durio pada 1958-memang pernah mendapat 2 bibit durio tanpa nama pada 1980-an. Anggota keluarga Bombaceae itu diberikan oleh Dr Herman Rijksen yang bekerja di pusat rehabilitasi orang hutan di Sumatera Utara. ‘Satu bibit diberikan pada saya, tapi mati,’ kata Greg. Yang dipublikasikan Kostermans bibit yang ditanam di ketinggian 600 m dpl di Gadog, Bogor. Kostermans hampir saja memasukkan macranthus ke dalam genus Coelostegia. Maklum, kedua anggota keluarga Bombaceae itu-Durio dan Coelostegia-mirip.

Varian zibethinus

Macranthus yang kontroversial tapi mendunia itu membuat Greg Hambali dan 3 wartawan TrubusDestika Cahyana, Imam Wiguna, dan Nesia Artdiyasa-penasaran. Pada penghujung April 2008 bekas kediaman Kostermans disambangi. Di halaman belakang, macranthus setinggi 20 m, masih tegak berdiri. Pemandangan itu mengherankan karena publikasi internasional menyebut macranthus bersosok pendek dan kecil. Kostermans pernah menyarankan penyilangannya dengan zibethinus untuk menghasilkan durian berbatang kecil. ‘Itu artinya macranthus varian durian biasa. Dulu kecil karena sosoknya belum berkembang penuh,’ ujar Greg.

Beruntung 12 buah masih menggantung di atas tajuk. Tiga di antaranya terlepas dari tali rafia pengikat. Buah macranthus pun bisa dicicipi. Daging buah tebal dengan ukuran biji kecil hingga sedang. Warna daging buah putih kekuningan. Satu juring terdiri dari 2-3 pongge. Rasanya manis, legit, dan sedikit pahit. Menurut Rosentield Panjaitan, putra angkat Kostermans yang mewarisi rumah peninggalannya, rasa macranthus memang di atas rata-rata durian yang dijajakan di pinggir jalan.

Pantas Rosentield enggan membeli durian di pinggir jalan. Namun, rasa itu terkadang berubah di saat musim hujan, kadar manis dan pahit berkurang.

Perubahan itu kerap terjadi pada durian lain. Menurut Ir Panca Jarot Santoso, pakar buah di Balai Penelitian Buah (Balitbu) Solok, perubahan rasa itu terjadi karena kadar air buah meningkat seiring dengan melimpahnya air di tanah.

Perubahan rasa ekstrim kerap ditemui pada buah dari pohon muda, berumur kurang dari 30 tahun. Pada pohon di atas 40 tahun perubahan rasa kecil. Itu karena tajuk yang kian tinggi semakin jauh dengan air tanah.

Pengamatan Trubus, morfologi daun macranthus agak berbeda dengan durian pada umumnya. Tepi daun agak melengkung menyerupai durian hepe. Yang disebut terakhir ialah durian berbiji kempes asal Bogor. Itu mengingatkan pada daun lengkeng pingpong yang melengkung bila dibandingkan dengan lengkeng diamond river. ‘Memang bentuk daun dalam 1 spesies bisa bervariasi, tapi bukan berarti beda spesies,’ kata Greg.

Durian kostermans

Pendapat Greg itu diamini Drs Tahan Uji, peneliti durian di Herbarium Bogor. Menurutnya spesies baru yang dirilis Kostermans pada 1992 itu meru pakan kultivar Durio zibethinus. Bahkan spesies lain yang juga pernah dipublikasikan Kostermans pada 1990-Durio bukitrayaensis-mungkin zibethinus. Oleh karena itu penelitian terbaru Tahan Uji pada 2005 tentang keanekaragaman jenis dan sumber plasma nuft ah durio di Indonesia tak memasukkan macranthus dan bukitrayaensis sebagai spesies dalam genus Durio.

Toh, penemuan macranthus tetap berharga. Kelezatannya yang di atas rata-rata durian di pasaran menjadikannya tetap layak dijadikan sebagai tanaman koleksi. ‘Biar lebih gampang, sebut saja durian kostermans,’ kata Greg. Durian itu merupakan satu-satunya warisan ‘spesimen’ hidup yang masih tersisa. Genus Durio lain hasil eksplorasi Kostermans dan tim Herbarium Bogoriense hanya berupa spesimen kering. Pohon aslinya berada di Sumatera, Kalimantan, serta Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, yang tak diketahui lagi eksistensinya. (Destika Cahyana/Peliput: Imam Wiguna dan Nesia Ardtyasa)

- Advertisement -spot_img
Artikel Terbaru

Tips Mengatur Pola Pakan Tepat untuk Kuda

Trubus.id — Berbeda dengan sapi, kuda termasuk hewan herbivora yang hanya mempunyai satu lambung (monogastrik) sehingga kuda sangat membutuhkan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img