Thursday, August 11, 2022

Waspada ! Digoyang Pandemi

- Advertisement -spot_img
Must Read
- Advertisement -spot_img

Dari jumlah itu 21 pasien di antaranya meninggal, 8 positif AI, dan 13 lainnya diduga terpapar AI. Pandemi. flu burung itu bukan pertama terjadi di tanah air. Negeri tercinta ini pernah digoyang pandemi zoonosis lain yang tak kalah seram dan hingga kini masih terus mengintai.

Kasus kematian Iwan Siswara dan 2 buah hatinya, Sabrina dan Talitha pada pertengahan Juli 2005 menjadi corong jika fl u burung mampu menulari manusia. Sejak itu masyarakat tersentak. Korban manusia telah jatuh. Sebutan zoonosis—penyakit hewan yang menjangkiti manusia—pun melekat pada AI. Sampel darah yang dikirim ke laboratorium Hongkong menunjukkan Iwan positif terpapar H5N1—salah satu jenis virus burung berbahaya—yang hingga kini tidak dapat dipastikan sumber penularannya.

Menurut drh Widya Asmara, MS., PhD dari bagian Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada, flu burung dapat menginfeksi unggas, mamalia termasuk manusia di dalamnya. Penyebabnya virus RNA dari famili Orthomyxoviridae bertipe A. Virus itu memiliki semacam amplop dengan lapisan lipid bilayer yang ditutupi sekitar 500 tonjolan glikoprotein. “Virus yang menyebabkan penyakit serius pada unggas itu terutama subtipe H5, H7, dan kadang-kadang H9,” ujar alumnus Department of Microbiology Kent University di Inggris itu.

Kasus kematian terpapar AI pada manusia muncul pertamakali di Hongkong pada 1997. Saat itu dari 18 orang yang terinfeksi, 6 di antaranya ditemukan meninggal. Belasan kasus serupa juga terjadi selama kurun waktu 2003—2005 di Vietnam, Th ailand, Indonesia, dan Kamboja. “Tidak semua isolat virus AI mudah menginfeksi manusia. Tapi untuk menangkal infeksi AI perlu memiliki kesehatan prima baik hewan maupun manusia,” ujar Widya.

Tiga besar

Zoonosis sebetulnya sudah ada sejak lama. Sejarah mencatat antraks merupakan zoonosis pertama yang diketahui keberadaannya pada zaman Mesir kuno. Para ahli mikrobiologi lampau seperti Louis Pasteur bahkan sudah menelitinya. “Zoonosis di dunia banyak jumlahnya, tapi hanya beberapa jenis yang ada di sini (Indonesia, red) seperti antraks, rabies, toxoplasma, leptospirosis, cycticerkosis, dan tuberkulosis,” ujar Dr Yulfi an Sani, peneliti patologi dari Balai Penelitian Veterinarian di Bogor.

Zoonosis lain yang pernah menghebohkan dunia seperti penyakit sapi gila Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE), ebola, dan hantavirus. Namun, mereka hanya menjadi endemi di beberapa negara Eropa dan Afrika. BSE ditakuti karena memiliki efek samping memperkuat munculnya penyakit Creutzfeldt-Jakob Disease (CJD), Gerstmann-Straussler Syndrome, dan Kuru. Semua penyakit yang menyerang manusia itu menimbulkan degenerasi jaringan otak hingga menyebabkan lumpuh.

Menurut Yulfi an, di luar pandemi flu burung sebetulnya antraks, rabies, dan leptospirosis adalah ancaman serius di tanahair. Antraks menjadi terkenal setelah menyerang burung unta Struthio camelus, di Purwakarta, Jawa Barat, pada 2000. Gaungnya kian menguat setelah pada 2001 menelan 2 korban jiwa di Hambalang, Bogor. Kasus serupa terulang di Bogor pada 2002 dan 2004 dengan sumber penularan kambing dan domba. Saat itu total 12 orang meninggal. “Saat ini beberapa kasus antraks sudah ada lagi. Penyakit ini terus dimonitor,” ujar Yulfi an. Maklum spora antraks sangat sulit diberantas.

Pandemi antraks dilaporkan terjadi di hampir seluruh dunia, tidak terkecuali negara-negara maju seperti Inggris, Perancis, dan Jerman. Angka risiko terinfeksi pada manusia berkisar 1/100.000, dengan tingkat kematian mencapai 18%. Artinya dari 100 kasus, 18 penderita dipastikan meninggal. Hampir sebagian besar jenis antraks yang menyerang adalah antraks kulit Cutaneous anthrax. Jenis ini ditandai dengan lubang hitam seperti batubara di permukaan kulit.

Awas banjir

Hujan yang belakangan sering menguyur Jakarta dan beberapa daerah lain hingga menyebabkan banjir juga menyimpan potensi pandemi leptospirosis. Penyakit yang akrab dikenal sebagai kencing tikus lantaran dominan disebarkan melalui hewan pengerat itu berakibat sakit kepala, meriang, nyeri tenggorokan, diare, nyeri luar biasa pada otot, hingga lumpuh pada manusia.

Bakteri leptospira penyebab leptospirosis memang menjadi momok utama di negara beriklim tropis dengan curah hujan yang tinggi sejak seratus tahun silam. Menurut data International Leptospirosis Society, Indonesia bahkan menempati peringkat 3 dunia untuk mortalitas akibat leptospirosis. Meski demikian, jenis leptospirosis yang beredar di tanahair bukan jenis mematikan seperti Leptospira interrogans melainkan Leptospira ictrerohaemorrhagiae.

Rabies dan toxoplasma yang lebih familiar dikenal masyarakat pun merupakan zoonosis yang tidak boleh dianggap enteng. Toxoplasma yang disebarkan melalui kucing pada beberapa kasus dilaporkan menimbulkan kemandulan pada perempuan.

Rabies yang kondang dipanggil penyakit anjing gila malah lebih menakutkan karena bisa menyebabkan kematian terutama pada stadium serangan ekitasi. Pada stadium ini pusat syaraf di otak dan sumsum tulang belakang penderita menjadi lumpuh. Penyakit dengan sumber penularan utama anjing dan monyet itu dilaporkan peneliti Eilerts de Haan menjangkit Indonesia pada 1884. Saat itu seorang korban diketahui meninggal di Jawa Barat. Hingga kini pandemi rabies memang belum bisa diberantas habis. Sekitar 16 provinsi di tanahair seperti di Pulau Sumatera, Pulau Kalimantan, dan Pulau Sulawesi masih berada dalam status belum bebas rabies.(Dian Adijaya S/Peliput: Rosy Nur

Aprilianti & Hanni Sofi a)

 

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Organik Tinggikan Produksi

Industri parfum, kosmetik, insektisida, dan aromaterapi merupakan beberapa sektor yang memerlukan minyak nilam. Bahkan dalam industri parfum tidak ada...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img